September 12th, 2002
# 10:32 am
No comments
Een Natie van Koelie [3]
Een Natie van Koelie [3] atau Even Doctors are Human Being
Kalau anda pernah melewati underpass antara C. K. Tang and Stasiun MRT Orchard di Singapura, anda pasti tahu seorang pengamen buta yang sehari-hari duduk di sana. Saya agak terkejut ketika suatu saat melihat dia sedang makan siang: dia sedang makan burger McDonald.
“Memangnya kenapa?� kata istri saya ketika saya menyatakan keheranan saya.
Wah, iya ya, memangnya kenapa?
Bukan apa-apa, di dalam kepala saya sudah ada stereotip yang membuat pengamen dan McDonald bukanlah pasangan yang punya korelasi. But then again, itukan stereotip, dengan asumsi bahwa pengamen itu miskin, dan McDonald itu mewah, dan orang miskin seharusnya memilih menu yang tidak terkategori barang mewah.
Betapa banyak asumsi yang salah dari satu kilasan peristiwa di atas. Pengamen belum tentu orang yang perlu uang. Saya teringat kembali dengan Apek tukang ngamen di Singapura ketika saya berjalan pelan-pelan melintasi Jocks Passage di kawasan Stroget, pusat kota Kopenhagen. Seorang anak muda memainkan suling dengan suara yang sangat merdu mendayu-dayu, melantunkan satu aransemen klasik. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari lembaran kertas yang terpampang di hadapannya. Tak sekalipun ia melirik ke arah orang yang lewat, bahkan ketika orang-orang melemparkan uang ke dalam kotak kecil yang dia sediakan. Kadang-kadang matanya terpejam, badannya meliuk, mengikuti irama suling yang dibawakan dengan begitu indah.
Apakah dia orang miskin? Apakah dia mahasiswa sekolah musik yang sedang mencari tambahan uang? Ataukah dia seorang musisi yang sengaja memanfaatkan karakteristik akustik Jocks Passage yang bisa menyaingi karakteristik teater konser?
Well, sekalipun benar dia orang miskin, so what? Apakah kemiskinannya membuat mereka tidak berhak mencicipi McDonald?
Saya menjadi tersadar, bahwa di belahan lain bumi ini, manusia dihargai karena dia seorang manusia tanpa harus melihat apa pekerjaan atau status sosialnya. Bahkan pengamenpun adalah seorang manusia.
***
Di klinik tempat dokter keluarga kami buka praktek di Eindhoven ada satu tulisan yang membuat kening saya bekerut membacanya. “Dokter anda itu manusia juga.�
Maksudnya, dokter bukanlah sebuah super-human yang setiap saat bisa diharapkan untuk melayani anda. Mereka juga manusia yang mempunyai hak yang sama dengan manusia lain. Setiap tahun mereka punya hak untuk vakantie, plezier jalan-jalan, tanpa harus diganggu oleh telepon darurat dari pasien. Dan setiap hari mereka juga berhak untuk mendapatkan jeda kopi (coffee break), sama seperti pekerja-pekerja lainnya di Belanda.
Jadi kalau anda harus duduk menunggu selama satu jam lebih, sambil puyeng karena demam tinggi, yaaah, sabar lah. Dokter anda sedang jeda kopi. Belum lagi jeda makan siang. Sabarlah, dokter anda kan manusia juga.
Saya benar-benar tak habis pikir karena saya dibesarkan dalam kondisi di mana para dokter adalah super-human yang berdedikasi penuh terhadap pasien. Almarhum paman saya adalah seorang dokter yang rela mengunjungi pasiennya di pelosok Aceh Utara, tanpa mengenal waktu, tanpa pandang siapa pasiennya, dan tanpa mengaharapkan imbalan. Boro-boro jeda kopi, wong tengah malam di tengah hujan pun dia bersedia melayani house-call. Beribu dokter seperti beliau ada di Indonesia.
Tapi itu di Indonesia. Di sini, semua dokter adalah manusia.
***
So, apa hubungannya pengamen dengan dokter?
Kata kuncinya adalah perlindungan pekerja dan masyarakat pinggiran.
Hanya pemerintah bangsa kulilah yang membiarkan warganya bekerja tanpa kenal istirahat. Lihatlah Pak Warno, tukang becak yang mengantarkan saya ke airport di Yogya (barangkali ini satu-satunya airport yang bisa dijangkau dengan becak). Beliau mbecak siang malam, bahkan seringkali tidur di becak, untuk menjaring pengunjung pub yang pulang di ujung malam, dan bakul sayur keluar di awal pagi. Siapa yang akan melindungi kesejahteraan Pak Warno?
Hanya pemerintah bangsa kuli yang membiarkan warga negaranya terbunuh di kamp imigrasi negara lain tanpa upaya untuk sekadar protes. Sekarangpun bangsa kita dibiarkan terusir dari Malaysia dengan resiko hukuman cambuk, tanpa ada upaya untuk melindungi.
Tahukah anda, tanpa adanya pass/visa yang jelas, paspor hijau kita yang bergambar burung garuda itu seolah menjadi kutukan bagi kita kalau kita melintasi pemeriksaan imigrasi di jembatan Johor Bahru – Woodlands, Padahal kita adalah warga ASEAN yang seharusnya bebas keluar masuk Malaysia ataupun Singapura. Tapi cobalah melintas masuk ke Malaysia tanpa green-card dari imigrasi Singapura. Anda akan diminta menunjukkan uang, dan akan diijinkan tinggal sebatas uang yang bisa anda tunjukkan. Kalau anda tidak punya uang, anda akan diminta masuk ke ruangan khusus, dan kemungkinan besar di suruh kembali ke seberang jembatan. Dan kemungkinan besar juga, imigrasi Singapura akan menolak anda untuk masuk kembali.
Paspor kita sudah setara dengan paspor bangsa-bangsa miskin di Afrika. Setara dengan paspor Bangladesh. Paspor pekerja murah. Paspor bangsa kuli.
Kastrup Airport, Kopenhagen, 12 September 2002.
Your feedback, please...