November 8th, 2008
# 5:09 am
13 comments
Setengah Jam Sempat Apa?
Saya sedang senewen dengan acara-acara (belajar) yang menghabiskan waktu selama berjam-jam. Ngapain belajar selama berjam-jam sekali duduk. Bukankah kata Nabi, kontinuitas itu lebih penting daripada kuantitas?
Anda bisa membayangkan kelas kursus setengah jam sehari bisa memupuk ketrampilan apa? Bisa membayangkan setengah jam seminggu bisa digunakan untuk apa? Kalau belum bisa, silakan baca kelanjutan artikel ini, saya akan ceritakan apa arti setengah jam seminggu dan apa arti setengah jam sehari.
***
Anak-anak kami belajar berenang di Boise selama setengah jam seminggu sekali. Setengah jam cukup untuk apa? Ya cukup untuk belajar berenang. Memang tidak ada ba bi bu, yang ada langsung cebur. Tidak seperti biasanya di Indonesia (atau di Singapura) yang kalau kursus berenang selalu diawali dengan pemanasan, di sana tidak ada istilah pemanasan, yang ada langsung cebur. Banyak anak yang datang hanya beberapa menit sebelum latihan dimulai, turun dari mobil sudah pakai swim-trunk sambil bawa handuk, terus langsung lari masuk kolam. Langsung latihan berenang selama setengah jam.
Hasilnya? Dalam waktu tidak terlalu lama (kalau tidak salah hanya dua bulan), anak-anak kami sudah pita hijau, termasuk Abdih yang baru kelas satu ketika itu. Anak-anak di bawah umur 12 tahun kalau masuk kolam renang harus pakai pita dipergelangan tangannya. Yang belum bisa berenang akan diberi pita merah, yang ini harus didampingi orang tuanya terus menerus. Yang bisa sedikit-sedikit akan diberi pita kuning, yang ini belum boleh ke kolam besar.
Yang sudah bisa berenang akan diberi pita hijau. Tapi untuk dapat pita hijau harus diuji oleh lifeguard, disuruh berenang melintasi kolam paling dalam, bolak-balik tidak boleh berhenti di tengah jalan, tanpa bantuan alat atau orang.
Terus terang waktu itu saya baru sadar, setengah jam itu sangat bermanfaat kalau waktunya memang dipakai untuk belajar.
***
Hanif, anak kami yang sulung, belajar main biola di sekolahnya. Sepenuhnya belajar di sekolah, jadi gratis, tanpa harus kursus-kursusan. Mulai dari nol, sampai bisa ikut konser sekolah, dalam waktu satu tahun selama kelas lima. Total waktunya: 180 hari (ini rata-rata waktu sekolah di Amerika selama setahun).
Setengah jam setiap hari selama seratus delapan puluh hari, anakku belajar main biola sejak dari nol sampai ikut konser. Memang belum jadi maestro, karena seperti kata gurunya, selama kelas lima mereka hanya belajar cara memegang alat musik. Baru nanti di kelas enam mereka akan belajar main musik. Tapi baru bisa pegang alat saja sudah bisa main di konser sekolah, tidak heran kalau di kelas enam sudah ada di antara mereka yang dikirim ikut main di Konser Balai Kota.
Setengah jam memang sangat bermanfaat kalau waktu itu dipakai murni untuk belajar.
***
Saya jadi ingat guru ngaji saya K.H. Turmudzi Taslim. Beliau ini mengajar mengaji di Kampung Glondong, Kauman, Semarang. Saya ikut belajar selepas maghrib, dan beliau mengajar hanya sampai adzan Isya. Muridnya ada puluhan, duduk mengantri menghadap ke meja kecil panjang berbaris sepanjang meja itu, dan Pak Adzi duduk di ujung meja itu, rotan di tangan.
Muridnya membaca AlQuran di kiri dan kanan beliau, bersamaan. Dan rotannya berayun ke arah yang salah baca, tidak pernah salah ayun sekalipun murid-muridnya itu membaca AlQuran di halaman yang berbeda. Seolah-olah telinga kiri dan kanan bisa mendengarkan (dan memperhatikan) dua suara yang berbeda. Kalau muridnya sedang banyak, dan kira-kira tidak akan habis sebelum adzan Isya, maka dipanggillah dua murid yang duduknya paling jauh di ujung meja, agar datang mendekat ke kiri dan kanannya. Dan membacalah mereka, berempat, sekaligus bersama-sama. Dan rotan itu tidak pernah salah harus berayun ke arah mana, seolah telinga kiri dan kanan beliau bisa terbagi jadi empat.
Waktu efektif masing-masing murid: kurang dari sepuluh menit. Sepuluh menit yang sangat berharga, karena dalam sepuluh menit itulah saya belajar apa artinya membaca dengan tartil.
***
Kesenewenan saya tentang masalah belajar yang kelamaan itu bermula dari sistem sekolah di Singapura. Atau yang lebih tepat adalah apa yang sudah diangap wajar oleh orang-orang di Singapura tentang waktu belajar. Anak saya kan baru pindah ke Singapura, jadi kami mengundang seorang tutor menambah dosis pelajaran yang di Amerika memang relatif lebih ketinggalan dibandingkan dengan Singapura.
Tapi ternyata yang terjadi adalah kelebihan beban. Abdih anak kami yang kedua harus sudah berada di sekolah jam 7.15 pagi, dan belajar sampai jam 13.30. Begitu sampai di rumah, dia hanya sempat makan siang dan main sebentar karena sang tutor akan datang mulai jam 15.00, jadi harus belajar lagi sampai jam 17.00.
Selesai? Ternyata belum. Setelah itu dia harus membuka tas sekolah untuk mengerjakan PR dari sekolah. Dan itu bisa berlangsung berjam-jam terkadang sampai lebih jam 21.00.
Selesai? Ternyata belum juga. Tutorial yang seharusnya membantu pelajaran sekolah, ternyata sudah jadi pelajaran sendiri. Dan hebatnya lagi, tutorial itu punya PR sendiri yang harus dikerjakan di luar waktu tutorial.
Hah!?!?
Saya bertanya-tanya kepada kawan-kawan, ternyata memang begitulah beban tipikal anak sekolah di Singapura. Dan hebatnya lagi, kalau guru dan tutor tidak memberikan beban seperti itu, maka orang tuanya justru akan mempertanyakan keampuhan metoda yang mereka pakai.
Akhirnya yang terjadi ya berantem. Saya bersikukuh agar Abdih tidak memegang buku pelajaran setelah makan malam, tetapi Abdih ternyata juga takut sama gurunya di sekolah kalau PR-nya tidak selesai. Akhirnya saya bilang, “kalau guru kamu marah, bilang sama dia kalau ayah yang memerintahkan kamu untuk tidak bikin PR, suruh dia marah sama ayah”.
Alasan saya?
Sederhana sekali, kok. Anda pernah dapat jadwal kuliah berturut-turut dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, kan. Saya sangat yakin, kalau itu kejadiannya, maka yang anda lakukan adalah batalkan salah satu (atau dua) mata kuliah, dan mencari mata kuliah yang kuliahnya di hari lain. Paling-paling kita hanya tahan dapat dua kuliah dalam satu hari.
Kalau kita yang sudah dewasa saja memilih untuk tidak belajar berturut-turut selama delapan jam sehari, lantas mengapa kita membiarkan anak kita belajar selama lebih dari sepuluh jam sehari? Anak kita itu kan baru belajar untuk belajar.
Masih mending kalau mereka menikmati prosesnya. Boro-boro menikmati, stress saja yang ada.
***
Kemarin Abdih baru jam 4.30 keluar dari sekolah. Ternyata dia latihan paduan suara langsung setelah pulang sekolah. Tidak tanggung-tanggung, latihan selama dua jam.
Dua jam menyanyi! Anda pernah mencoba menyanyi selama dua jam? Kalau anda bukan penyanyi impulsif (yang punya karaoke di rumah), maka suara anda akan serak setelah menyanyi dua jam berturut-turut. Buat anak kecil, ini sangatlah berlebihan. Emangnya mau jadi penyanyi profesional?
Hasilnya? Ternyata mereka akan manggung hari Rabu ini. Waaaah, ini adalah berita paling bagus yang saya dengar tentang sekolah. Akhirnya saya bisa melihat anak saya sendiri beraksi di dalam sekolah.
Sungguh, selama dia sekolah di Singapura, saya belum pernah tahu bagaimana Abdih di sekolah: ruang kelasnya yang mana, bangkunya yang mana, bagaimana dia selama belajar di sekolah, apa dia bisa menyanyi, yang selama di Amerika kita selalu diundang untuk memperhatikan perkembangan anak dari dekat. Ternyata sekarang mereka akan konser.
Akhirnya saya bisa nonton? Ya, kan?
Ternyata tidak. Mereka memang akan manggung di sekolah, tetapi ternyata dari 29 anggota paduan suara hanya ada tiga undangan untuk orang tua murid, dan itu diundi.
Abdih ternyata tidak dapat undian, karena itu dia tidak dapat undangan! Akibatnya kamipun tidak boleh datang.
Acaranya sendiri ternyata adalah acara penyerahan hadiah untuk mereka yang berprestasi di kelas masing-masing. Saya tidak habis pikir kenapa mereka tidak mengundang seluruh orang tua kalau memang itu acaranya.
Muridnya terlalu banyak? Itu sih bukan alasan untuk tidak mengadakan konser sekolah. Setidaknya orang tua murid yang anaknya sudah latihan berjam-jam selama beberapa waktu, mereka toch ingin melihat anak mereka beraksi di panggung.
Belum lagi kalau dilihat hasilnya, kok kayaknya belajar berjam-jam itu nggak ada hasilnya sama sekali.
***
Kembali ke laptop.
Masalah yang sama saya dapati dalam acara pengajian yang sering kita adakan. Beberapa waktu yang lalu istriku ikut pengajian bersama ibu-ibu Imas. Setelah saya tanya-tanya ternyata pengajiannya bisa sampai lebih dari tiga jam.
Wah, kalau tiga jam sih, beberapa bulan juga sudah khatam baca Qurannya, kata saya. Ternyata tidak juga, kata istri saya. Dari tiga jam itu ngajinya hanya sebentar. Waktu pengajian itu terbagi tiga, yang pertama untuk menunggu yang terlambat, kedua untuk makan, ketiga baru ngaji.
Pola yang seperti ini tentu saja tidak hanya terjadi di Imas, tidak hanya di Singapura, tetapi kita jumpai di mana-mana. Ini juga tidak terjadi pada pengajian ibu-ibu saja, tapi juga melanda pengajian para suami.
Saya pikir kita sudah harus mulai mengadakan acara pengajian dengan lebih baik. Masalahnya ada tiga.
Yang pertama masalah tepat waktu. Untuk masalah yang satu ini, saya ingat kawan saya Pakcik Khairul. Beliau bilang, kita itu menunggu yang terlambat karena menghormati mereka. Tetapi, kata beliau, kenapa kita tidak menghormati mereka yang sudah datang tepat waktu? Bukankah mereka sudah menghormati kita dengan datang tepat waktu, sehingga mereka lebih berhak dihormati dengan memulai acaranya tepat waktu?
Yang kedua adalah masalah jangka waktu, kebanyakan acara pengajian itu tidak dibatasi waktunya. Undangan pengajian biasanya dituliskan:
Waktu: 15.00 – selesai
Selesainya itu bisa molor sampai beberapa jam.
Yang ketiga adalah masalah agenda, urutan acaranya tidak jelas. Kalau ada urutan acaranya, maka acara yang agak panjang pun sebenarnya tidak ada masalah. Misalnya dituliskan agenda sbb:
12.00 – 13.00 Menunggu yang terlambat
13.00 – 13.30 Shalat zhuhur
13.30 – 14.30 Makan siang
14.30 – 15.30 Ceramah
15.30 Penutupan
Dengan agenda yang jelas seperti di atas, maka mereka yang ingin mendengarkan ceramah saja bisa datang jam 14.30.
Dengan ketiga masalah di atas, maka pengajian itu susah untuk berjalan terus. Bukan apa-apa, siapa sih yang bisa menyediakan waktu selama tiga jam setiap minggu secara konsisten. Tiga jam untuk acaranya, belum lagi waktu di perjalanan.
Berdasarkan pengalaman selama di Belanda dan Amerika, paling enak mengadakan pengajian itu kalau dipisahkan antara acara makan dan acara ngaji. Ngaji ya ngaji, paling lama satu jam, kalau mau minum bawa sendiri. Ini biasanya akan bertahan lama karena kemajuan belajar akan nampak.
Kalau mau makan ya makan-makannya saja (jangan lupa mengundang saya, ya?). Kalau mau digabung, ya tegaskan agendanya supaya masing-masing orang bisa merencanakan waktunya dengan lebih baik.
This entry receives 13 comments.
Salam kang Ery,
Entah kenapa setelah baca tulisan ini, saya jadi mikir banyak. Terima kasih buat inspirasinya.
Kalau soal porsi beajar, entah kenapa buat saya konsentrasi selalu jadi nomer satu. Tapi untuk sampai ke taraf “konsentrasi penuh” itu yang susah banget dan musti dilatih pelan-pelan.
Nov 8, 2008 at 5:36 am
Assalamu’alaikum,
Terimakasih Kang Ery catatannya.
Saya setuju kalau beban sekolah yang overload hanya akan berbuah stress.
Acara molor itu juga karakter yang mesti diubah di masyarakat kita.
Saya menangkap, orang kita itu kurang serius bikin kalau bikin janji dengan bangsa sendiri. Sering dianggap tidak penting.
Haturnuhun sharingnya Kang.
Nov 8, 2008 at 4:57 pm
Mas, minta ijin mem-fwd kan, boleh?
Nov 8, 2008 at 6:07 pm
Setuju pak Ery. Management waktu memang penting. Terima kasih sharingnya
Nov 9, 2008 at 5:23 am
thanks sharingnya mas ery. saya menganut paham yang sama, bahwa “lebih sedikit untuk
lebih banyak”, hanya cukup 20% saja dari aktifitas 24 jam kita untuk menghasilkan
80% produktivitas.
Salam hangat untuk keluarga di Singapore!
Wassalam,
@rd & Keluarga di Serpong-BSD.
Nov 9, 2008 at 9:19 pm
betul proses pengulangan, ya. Jadi teringat rapat juga jangan lama2 ya. jk disiapkan sebelumnya
1/5 jam cukup .. terimakasih
Nov 10, 2008 at 12:37 am
terimakasih. mengingatkan saya untuk rapat yg efektif juga, mungkin dgn satuan 1/5 jam
Nov 10, 2008 at 12:40 am
Iya belajar cukup setengah jam sebenarnya, 10 kali sehari. Hanya saja ada yang perlu waktu pemanasan untuk konsentrasi cukup lama.
Tetapi mengingat beban materi dan tugas yang ‘cukup’ banyak, bisa lain ceritanya. Akan tetap berlaku kalau bisa cepat tangkap dan langsung ‘on fire’.
Btw, ya setengah jam harus sangat berlaku. Setuju!
Nov 10, 2008 at 2:22 am
Setelah membaca tulisan om Ery saya jadi mengcompare dengan waktu kuliah di ITB, ada
tuntutan 144 sks, lulus 4 tahun kalau tidak ingin disuruh bayar uang kuliah dobel di tahun
ke-5, Hmmm, lebih terdengar seperti pemberatan daripada pendidikan (?)
Nov 10, 2008 at 2:28 am
di brunei bagaimana ya …?
Nov 10, 2008 at 2:41 am
Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu aktifitas/kegiatan dimaksud: Mencoba lebih condong ke qualitas dari pada quantitas. Soal kegiatan yang terpaut agama dipanuti selalu porsinya minim perhatian tetapi segala urusan hura-hura dan woro-woro waktu tersedia tak terhingga malah segala persiapan lebih awal:)
Nov 12, 2008 at 11:56 am
makasih sharignnya…jadi ada info baru tentang pendidikan di singapore. Apakah itu berlaku umum di sana? Atau hanya untuk sekolah2 yg akademis saja?
Jan 5, 2009 at 8:28 pm
Anna: yang saya gambarkan di atas berlaku umum di Singapura.
Jan 5, 2009 at 9:15 pm
Your feedback, please...