Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Een natie van koelie [2]

Een natie van koelie [2]

Een natie van koelie [2] atau Kisah Sebuah Kertas Kerja

Banyak negara yang memberlakukan larangan merokok di dalam bangunan publik. Tetapi sedikit negara yang punya satu angka yang harus dipatuhi oleh pengelola bangunan dalam masalah rokok. Norwegia adalah salah satu dari sedikit negara yang punya patokan yang pasti.

Di Norwegia, di kawasan bebas rokok di semua bangunan publik, kandungan nikotin di dalam udara haruslah kurang dari 1 mg/m3. Kalau lebih dari 10 mg/m3, maka pengelola bangunan wajib melakukan sesuatu untuk menanganinya. Kalau lebih dari satu tapi kurang dari sepuluh, yaaah, mereka akan dianggap melanggar, tapi tidak akan dipaksa untuk melakukan sesuatu. Dari semua jenis bangunan, restoran dan bar adalah yang paling bermasalah karena pengunjungnya biasanya merokok semaunya sendiri.

Demikianlah, Hakan Skistad, seorang ahli ventilasi kawakan yang sudah sepuh dari Norwegia membentangkan kertas kerjanya mengenai sistem ventilasi udara yang bisa menganggulangi masalah kadar nikotin di pub dan restoran. Bukan main-main, tiga tahun lamanya dia mengutak-utik setiap komponen yang bisa dimanfaatkan.

Dari sudut ventilasi, metoda yang digunakan adalah memanfaatkan tirai udara (ini yang biasa diletakkan di pintu masuk bangunan ber-AC) untuk melokalisasi asap di kawasan merokok. Daerah yang dilindungi adalah kawasan bebas rokok untuk pengunjung dan juga di dalam bar (tempat bartender berdiri) dan kawasan staf.

Banyak hal yang sudah dilakukannya, termasuk mem-fine-tuning setiap komponen dari sistem ventilasi yang dia usulkan, misalnya berapa kecepatan aliran udara di tirai udara (kan tidak boleh terlalu kencang karena akan mengganggu pengunjung), berapa suhu udara yang disemburkan, dst, dst.

Yang lebih bermasalah adalah justru dalam teknik pengukuran kadar nikotin dalam udara. Untuk sekedar meluaskan pengalaman, dia mengajukan proposal kepada atasannya untuk berkunjung ke biang dari semua masalah rokok: pabrik rokok. Dia ingin meninjau fasilitas pengukuran yang dimiliki oleh Phillip-Morris di Swiss.

Lembaga tempat dia bekerja punya reputasi yang harus dijaga. Atasannya mengijinkan untuk pergi ke sana dengan syarat tiket pulang pergi harus dibayar sendiri, penginapan dan biaya makan harus dibayar sendiri, tidak boleh menerima penawaran untuk melakukan penelitian atas nama Phillip-Morris, dan hanya boleh menerima undangan makan malam satu kali.

Ternyata pengukuran nikotin di dalam udara sangatlah tricky. Nikotin dalam udara bisa berada dalam fasa gas ataupun fasa padat. Berbagai metoda dapat dipakai, dan terkadang hasilnya amat sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan metoda inilah yang selama ini dijadikan tameng oleh pabrik rokok untuk mendiskreditkan setiap hasil penelitan yang merugikan pabrik rokok. Dan hebatnya lagi, pemerintah Norwegia tidak menentukan satu metode tertentu untuk dijadikan standar pengukuran.

Jadilah dia kebingungan dalam menguji cobakan hasilnya. Akhirnya dipilihlah dua metoda untuk mengukur keandalan sistem ventilasi rancangannya. Hasilnya memang menggembirakan. Bahkan di hari-hari sibuk di akhir pekan pun dia mendapatkan angka di bawah sepuluh di kawasan bebas rokok.

Puas?

“Ya, saya puas sekali dengan hasil penelitian ini,� katanya, “tapi itu dulu, sebelum bulan Februari. Di bulan Februari, pemerintah Norwegia mengumumkan larangan merokok di semua pub dan restoran.�

Jadilah usaha keras selama tiga tahun terbengkalai karena semua pihak sudah kehilangan minat terhadap proyek ini. Padahal tinggal menulis laporan akhir saja, tapi dana penelitian sudah terlanjur dihentikan karena sudah tidak relevan lagi.

***

Dalam perbincangan berdua dengan beliau saya bertanya lebih jauh tentang dampak dari aturan baru ini. Bukankah baik sekali kalau pemerintah Norwegia memberlakukan aturan ini.

Memang, menurut beliau, kecenderungan perkembangannya mengarah ke sana. Dulu orang merokok di mana saja, sekarang mereka sudah terbiasa untuk tidak merokok di dalam kantor. Biasanya mereka akan keluar bangunan, dan menjauh setidaknya 5 meter dari pintu masuk, sesuai dengan bunyi undang-undang di sana. Larangan merokok di restoran dan pub bisa dilihat sebagai kepanjangan dari kecenderungan ini.

Komentar beliau tentang aturan ini adalah, pertama, kita harus mengkoordinasikan dengan ahli kesehatan mengenai kesulitan yang dihadapi oleh para insinyur. Boleh saja mereka menetapkan angka sepuluh, tapi akan terlihat absurd kalau semua metoda yang dipakai punya rentang kesalahan plus-minus empat. Kesulitan ini yang terkadang tidak dipahami oleh ahli kesehatan.

Kedua, beliau meragukan kemampuan pemerintah Norwegia untuk memaksakan aturan ini kepada publik. Kemampuan pemerintah terbatas, mereka punya prioritas. Yang akan selalu diperiksa adalah bangunan-bangunan penting seperti rumah sakit dan lain-lain. Restoran dan pub akan berada di prioritas paling bawah yang sedikit sekali kemungkinannya untuk mendapat perhatian.

“Yang paling kasihan,� kata beliau dengan serius, “adalah para bartender dan pelayan yang bekerja di restoran. Di satu sisi, pengelola bangunan tidak akan menyediakan sistem ventilasi khusus untuk kawasan bebas rokok karena sudah tidak diperlukan lagi. Di pihak lain, pengunjung akan tetap merokok di restoran dan pub karena mereka tahu pemerintah terlalu sibuk untuk mengurusi masalah rokok di pub dan restoran. Merekalah yang akan menderita karena terekspos oleh asap rokok.�

Duh, betapa tinggi penghargaan beliau terhadap mereka yang bekerja “cuma� sebagai pelayan. Saya kembali teringat dengan jutaan manusia Indonesia yang setiap harinya dipaksa untuk bekerja di dalam lingkungan yang terkontaminasi oleh polutan. Mulai dari supir angkot yang harus antri berjam-jam di terminal, sampai kepada Pak Polisi yang mengatur lalu lintas di tengah hitam jelaga asap buangan bis dan truk.

Bartender dan pelayan di Norwegia beruntung punya pemerintah yang membela rakyat dan insinyur yang penuh perhatian terhadap kesejahteraan mereka.

Pemerintah negeriku tidak peduli kalau bangsanya menjadi bangsa kuli, dan para insinyur sebuah institut yang katanya terbaik di negeri ini sedang sibuk rebutan jadi ketua alumni.

Kopenhagen, 11 September 2002

PS. Sebagian kecil hasil penelitian tiga tahun di Norwegia itu dituliskan dalam kertas kerja yang diceritakan di atas. Sebagian besar lainnya akan beliau bawa ke gugus tugas Uni Eropa yang sedang membahas ventilasi industrial. “Kalau nanti sudah ada guideline ttg masalah ini dari Uni Eropa,� kata Skistad, “saya tidak akan mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Norwegia.�

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Wednesday, September 11th, 2002 at 6:30 pm and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.