October 31st, 2008
# 8:59 am
3 comments
Setahun kemudian
November 2007 adalah saat saya mencoba balik kampung dengan melamar jadi dosen di ITB. Selama ujian CPNS saya menuliskan laporan pandangan mata (yang diterbitkan di blog ini) yang ternyata menyedot perhatian banyak orang. Sejak saat itu sampai sekarang, saya sering kali bertemu dengan kenalan baru yang tiba-tiba mengatakan, “Oooh ini Ery yang dulu melamar ke ITB ya?” Saya sudah tidak pernah bertanya lagi mereka tahunya dari mana
Posting ini saya tulis karena ternyata banyak sekali komentar “negatif” tentang ITB akibat posting saya itu. Kalau saat kenalan yang bertemu langsung, bila ada yang berkomentar seru tentang “kok ITB masih seperti itu ya?”, maka saya masih bisa menjelaskan posisi saya. Posting ini saya tujukan untuk mereka yang tidak sempat bertemu dengan saya secara langsung, dengan pesan singkat dari saya: mari kita majukan ITB (dan Indonesia) dengan cara kita masing-masing. Penjelasan panjangnya sih, silakan baca di bawah ini.
Ungkapan Patsy (yang dikirim ke milis Alumni-TF-ITB) di bawah ini akan saya jadikan contoh kasus. Memang banyak variasinya, tapi nadanya serupa. (Patsy, maaf ya paragrafnya saya abused jadi contoh kasus).
> Contoh nyata saja sulitnya diterima jadi dosen ITB spt yang dialami
> Kang Ery Djunedy, padahal pengalaman sudah banyak di luar negeri.
>
> ITB itu menurut saya, secara kasat mata, sudah institut yang paling
> intelek di Indonesia, dengan stafnya yang luusan PhD dari negara2
> Barat yang katanya progresif, open minded dsb, ternyata masih sangat
> konservatif. Jadi bayangkan saja tantangannya di sistem dengan orang
> yang far less educated.
Kesimpulan umum yang dibuat oleh kawan-kawan adalah:
- Ery sudah berpengalaman di luar negeri sebagai peneliti dan pengajar, seharusnya itu saja sudah cukup untuk membuatnya diterima di ITB, atau (ada yang berpendapat) di perguruan tinggai manapun di Indonesia.
- Ery itu mau pulang kampung untuk membawa perubahan dari dalam ITB. Bahwa ITB kemudian menolak lamaran Ery, itu artinya ITB masih sangat konservatif, tidak open-minded, kurang progresif.
Kalau ada kawan yang menyimpulkan hal ini di depan saya, terus terang duduk saya pun jadi miring-miring karena tiba-tiba perut ini rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ada beberapa hal penting yang perlu saya ungkapkan dari sudut pandang saya pribadi.
Pertama, ketika orang menuduh sangat konservatif, tidak open-minded, kurang progresif, bagi mereka ini adalah ITB sebagai institusi yang jauh dari sentuhan manusia. Tapi bagi saya, ketika mereka mengatakan hal itu, yang tampak adalah wajah guru-guru saya yang dulu memperkenalkan ilmu fisika bangunan kepada saya untuk pertama kalinya.
Wong saya melamar untuk menjadi bagian dari Lab Fisika Bangunan di ITB, ketika banyak orang menyimpulkan (dan mengatakan di depan saya) bahwa ITB masih sangat konservatif (dst dst), yang terbayang adalah wajah Prof Soegijanto (pembimbing TA saya), Pak Ardhana (dosen wali saya), Pak Nugroho, Pak Aman dan juga Kang Joko (senior saya yang dulu ngasistenin waktu praktikum fisbang).
Folks, for me its personal. Saya tidak berani melekatkan kata-kata sifat itu (konservatif, kurang progresif, tidak open-minded) kepada figur-figur yang dulu sudah mendidik saya. Alasannya sederhana: saya mengenal mereka dan sifat-sifat yang dituduhkan itu sama sekali tidak tampak dalam diri beliau-beliau ini. Alasan lain yang lebih sederhana: takut kualat. Apa yang saya lakukan di dunia fisika bangunan belum ada apa-apanya dengan apa yang sudah mereka lakukan.
Karena itu, ketika nama saya tidak ada dalam daftar yang diterima, saya menerimanya dengan legowo, tanpa berusaha memberikan label apapun pada kejadian ini. Kalaupun saya dipaksa memberikan alasan, biasanya jawaban saya hanya satu: belum rejeki.
Kedua, ITB adalah mesin yang besar sekali. Kalau pun saya tidak ingin menyalahkan guru-guru dan senior-senior saya di Lab Fisbang, apakah kita perlu menuding kepada birokrasi di atasnya? Saya berpendapat bahwa inipun tidak perlu. Untuk apa menyalahkan orang lain atas suatu kejadian yang bisa dianggap sebagai kegagalan saya pribadi?
Ketiga, lagipula emangnya perlu ada yang disalahkan? Merujuk kepada dua kesimpulan umum yang saya sebut di atas, kalau Ery punya pengalaman banyak di luar negeri, emangnya pengalaman itu akan relevan bagi perkembangan ITB? Siapakah kita dalam menilai ITB? Kita, alumni sekalipun, mahasiswa sekalipun, adalah orang luar. ITB-lah yang berhak menentukan pengalaman apa yang mereka perlukan, bahkan ITB pun berhak menentukan kalau ITB tidak perlu pengalaman.
Coba lihat kesimpulan kedua di atas. Janganlah menyimpulkan seolah-olah dengan menolak lamaran Ery, berarti ITB menolak kemajuan dan tidak open-minded? Inikan sama dengan menumpuk kemajuan di atas pundak saya, sebuah beban yang saya sama sekali tidak mampu memikulnya.
ITB membuat kriteria sendiri dan bergerak dengan caranya sendiri. Walaupun kriteria itu masih misteri buat saya, walaupun gerakannya pun masih sangat misterius bagi saya pribadi, marilah kita hargai keputusan itu, dengan penghargaan yang tidak ngalelewe.
Keempat, beberapa FAQ:
- Emang kenapa sih dulu tidak diterima jadi dosen ITB?
Saya sendiri tidak tahu kenapa saya ditolak jadi dosen ITB. Eh maaf, bukannya ditolak, karena surat penolakan dari ITB tidak pernah ada. Tepatnya, nama saya tidak ada dalam daftar yang lulus. Dari daftar itulah saya tahu kalau saya tidak diterima. Yaah, karena hanya itulah bentuk pemberitahuannya, saya juga tidak tahu apa sebabnya.
Secara informal memang ada yang mencoba memberi penjelasan. Tapi karena sifatnya informal, maka itu tidak layak untuk dituliskan di sini. - Terus kenapa sekarang tidak mengajar lagi?
Sejak bulan lalu saya memang pindah bekerja sebagai konsultan, setelah sekian lama bekerja di lingkungan universitas. Kepindahan saya dari lingkungan universitas ini tidak ada hubungannya dengan ditolaknya lamaran saya oleh ITB, juga bukan upaya melarikan diri dari tugas mengajar.
Profesor saya pernah mengatakan bahwa lebih mudah untuk berpindah dari lingkungan riset/praktis ke lingkungan pengajaran (teaching) daripada sebaliknya. Waktu baru lulus doktor saya pernah mengabaikan anjuran ini dan memilih jadi profesor ketimbang peneliti. Baru kemudian saya sadar bahwa memang selagi muda sebaiknya jangan dulu terperangkap dalam dunia mengajar. Makanya saya tidak melewatkan kesempatan untuk bekerja di tempat di mana saya bisa belajar terus seperti di Arup ini.
Dan lagi, beberapa kolega saya juga menyempatkan diri untuk jadi pengajar tamu di National University of Singapore. Nanti kalau saya sudah menyesuaikan diri dengan tempat baru, dan sudah gatal ingin mengajar, saya yakin banyak profesor di NUS akan menyediakan slot waktu untuk jadi dosen tamu. - Jadi pundung nih, nggak mau mengajar di ITB lagi?
Wah nggak lah ya, masak gitu aja pundung. Kalau setiap ditolak kerja saya pundung, saya sudah marahan dengan banyak orang
Tentang kemungkinan mengajar di ITB di masa depan, yaah, kita lihat saja nanti. Kan tidak bertepuk tidak bisa sebelah tangan. - Lho itu ada kawan saya waktu itu keterima jadi dosen ITB, tapi sampai sekarang masih belum pulang. Kata anda di blog salah satu syaratnya adalah sudah berada di Indonesia sejak 1 Januari 2008 dan harus mengisi daftar hadir selama setahun. Kan anda ditolak karena tidak bersedia memenuhi syarat ini kan? Terus kok kawan saya itu diterima tapi masih terus di luar negeri? Dan itu ada kawan saya yang lain ternyata malah beberapa bulan yang lalu pergi ke luar negeri untuk penelitian?
Tenang, Mas, tenang. Pertama-tama, saya tidak tahu kenapa saya ditolak. Mungkin karena menolak syarat itu, mungkin juga karena sebab lain. Terus mengenai masalah kawan anda itu, yaaah, itu mah sudah rejekinya. Tentang kawan anda yang lain itu, yaah, itu malah rejeki yang lebih bagus lagi. Masalah saya tidak diterima, itu mah jangan dihubung-hubungkan dengan rejeki orang lain.
This entry receives 3 comments.
Dear Bang Ery,
Suratnya cukup jelas dan simpatik.
Semoga bisa memperjelas situasi dan tidak membuat Bang Ery jadi kurang nyaman dengan email setahun yang lalu itu… Sebenarnya sih menurut saya tidak ada yang salah, mungkin hanya masalah komunikasi dan kultur saja.
Pertama sekarang kan era transparansi dan online karena adanya internet.
Kedua mungkin kultur, Bang Ery masih muda dan punya pengalaman overseas, jadi mungkin lebih terus terang dan terbuka.
Ketiga dari faktor teman-teman..biasalah kalau kita merasa seumur dan seangkatan biasanya saling kompor, ledek-ledekan, itu mah biasa, sepertinya tidak ada yang serius dan saya yakin semuanya sudah dewasa dan mendukung setiap usaha positif ke arah kemajuan bangsa ini.
Keempat kalau untuk masalah keinginan untuk ngajar.sharing mah IA TF sangat terbuka menerima keinginan Bang Ery jika ingin sharing perihal Fisika Bangunan di IA TF seperti misalnya Bang Riza Muhida yang akan mengajar/sharing Robotics di IA TF tanggal 1 -2 Desember yad di Jakarta ( BSM )…Singapore – Jkt dekat atuh Bang..he3x..
Kelima, Insya Allah semua yang membaca email Bang Ery ini juga legowo dan memahami maksud baik Bang Ery ( nothing’s personal for them ) ..:)
Kira-kira begitulah Bang Ery…Maju terus dan sukses selalu.
Salam buat keluarga tercinta.
Best rgds,
Esthi
Nov 2, 2008 at 5:42 pm
wah pak ery sekarang kerja di arup?
boleh dong cerita pengalaman bekerja di sana pak
arup kan terkenal sekali di dunia perencanaan dan perancangan
Dec 11, 2008 at 7:09 am
@joko: Benar, Pak saya di Arup sekarang. Memang mereka sudah lama sekali terkenal di industri bangunan. Tapi saya kan baru masuk, Pak, belum banyak cerita menarik yang saya punya. Nanti juga insya Allah akan saya tulis di blog ini. Stay tuned.
Dec 13, 2008 at 1:03 am
Your feedback, please...