<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Veel plezier</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/157/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Imam Handoko</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-4801</link>
		<dc:creator>Imam Handoko</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 09:34:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-4801</guid>
		<description>Bagus sekali artikelnya, 
Untuk PR, mungkin maksud guru di sekolah hanya untuk membiasakan anak untuk belajar atau mengulang kembali pelajaran yang di sekolah, bukan untuk membebani anak. Anak saya sangat senang kalau ngerjain PR, dia malah bisa ngajarin adiknya sekalian dengan berpura-pura jadi gurunya.

Tentang mutu dan kualitas, memang American Sistem is number 1, dan  tentunya sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, tapi menurutku sekolah Indonesia jauh lebih baik daripada sekolahan arab, di UAE.

Alhamdulillah, semua anak kami udah bisa membaca sebelum mereka masuk sekolah, (sukran tuk istriku tercinta : for homeschooling yg pasti menyenangkan). Belajar di rumah aja memang nggak cukup, anak perlu sosialisasi dengan teman sebayanya, anak-anaku sangat pemalu dengan orang-orang yang belum dia kenal.

Seharusnya dia bisa langsung ke grade1, tapi karena kurang sosialisasi, jadinya aku masukkan ke KG 2, dengan tujuan agar dia bisa sosialisasi dengan teman saja, dan hasilnya apa yang terjadi....


Selama bulan-bulan pertama tiap hari ..selalu menangis dan hampir nggak mau nerusin..tapi alhamdulillah..bulan ke-2 dia sudah bisa mengikuti dan merasa enjoy di sekolah..katanya menyenangkan juga...dan akhirnya dialah Sang Juara, number 1 diantara 4 kelas paralelnya.

Kesimpulan: setuju dengan home schooling, tapi tidak cukup dengan itu saja, anak-anak perlu lingkungan lain yang dengannya mereka bisa tumbuh dan bermain sebagaimana naluri anak yg suka bermain.

Salam, buat Pak Ery dan keluarga, sekalian minta ijin tuk di posting di FBku
Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus sekali artikelnya,<br />
Untuk PR, mungkin maksud guru di sekolah hanya untuk membiasakan anak untuk belajar atau mengulang kembali pelajaran yang di sekolah, bukan untuk membebani anak. Anak saya sangat senang kalau ngerjain PR, dia malah bisa ngajarin adiknya sekalian dengan berpura-pura jadi gurunya.</p>
<p>Tentang mutu dan kualitas, memang American Sistem is number 1, dan  tentunya sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, tapi menurutku sekolah Indonesia jauh lebih baik daripada sekolahan arab, di UAE.</p>
<p>Alhamdulillah, semua anak kami udah bisa membaca sebelum mereka masuk sekolah, (sukran tuk istriku tercinta : for homeschooling yg pasti menyenangkan). Belajar di rumah aja memang nggak cukup, anak perlu sosialisasi dengan teman sebayanya, anak-anaku sangat pemalu dengan orang-orang yang belum dia kenal.</p>
<p>Seharusnya dia bisa langsung ke grade1, tapi karena kurang sosialisasi, jadinya aku masukkan ke KG 2, dengan tujuan agar dia bisa sosialisasi dengan teman saja, dan hasilnya apa yang terjadi&#8230;.</p>
<p>Selama bulan-bulan pertama tiap hari ..selalu menangis dan hampir nggak mau nerusin..tapi alhamdulillah..bulan ke-2 dia sudah bisa mengikuti dan merasa enjoy di sekolah..katanya menyenangkan juga&#8230;dan akhirnya dialah Sang Juara, number 1 diantara 4 kelas paralelnya.</p>
<p>Kesimpulan: setuju dengan home schooling, tapi tidak cukup dengan itu saja, anak-anak perlu lingkungan lain yang dengannya mereka bisa tumbuh dan bermain sebagaimana naluri anak yg suka bermain.</p>
<p>Salam, buat Pak Ery dan keluarga, sekalian minta ijin tuk di posting di FBku<br />
Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lies Adjeng</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-945</link>
		<dc:creator>Lies Adjeng</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 11:12:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-945</guid>
		<description>Salam,

Kang Ery, perkenalkan, saya adjeng alumni KRM juga.
Sudah beberapa kali saya kemari, dan selalu senang membaca postingan Kang Ery. Bolehkah saya tautkan blog K&#039;Ery ke blog saya?
trims sebelumnya :-)

btw about the topic, jadi ingat pengalaman saya sendiri.....
dulu ibu saya selalu bertanya setiap saya pulang sekolah dengan pertanyaan: &quot;dapet pengalaman apa hari ini?&quot;, yang pasti akan saya jawab dengan serentetan cerita.
Tapi kalo tante saya nanya: &quot;belajar apa hari ini?&quot; pastilah saya hanya akan menjawab dengan kalimat &quot;belajar biasa aja&quot;. end of story :-D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Kang Ery, perkenalkan, saya adjeng alumni KRM juga.<br />
Sudah beberapa kali saya kemari, dan selalu senang membaca postingan Kang Ery. Bolehkah saya tautkan blog K&#8217;Ery ke blog saya?<br />
trims sebelumnya <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>btw about the topic, jadi ingat pengalaman saya sendiri&#8230;..<br />
dulu ibu saya selalu bertanya setiap saya pulang sekolah dengan pertanyaan: &#8220;dapet pengalaman apa hari ini?&#8221;, yang pasti akan saya jawab dengan serentetan cerita.<br />
Tapi kalo tante saya nanya: &#8220;belajar apa hari ini?&#8221; pastilah saya hanya akan menjawab dengan kalimat &#8220;belajar biasa aja&#8221;. end of story <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fanny</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-734</link>
		<dc:creator>Fanny</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 16:23:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-734</guid>
		<description>Untuk sosialisasi bisa juga disiasati dengan mengambil beberapa mata pelajaran dari sekolah tradisional (maksud saya: kebalikan dari home-school; apa ya istilahnya?). Misalnya pelajaran olahraga, musik, atau apa saja yang misalnya tidak tertangani oleh orangtua sendiri di rumah atau sekedar supaya anak kita bisa bersosialisasi dengan anak2 lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk sosialisasi bisa juga disiasati dengan mengambil beberapa mata pelajaran dari sekolah tradisional (maksud saya: kebalikan dari home-school; apa ya istilahnya?). Misalnya pelajaran olahraga, musik, atau apa saja yang misalnya tidak tertangani oleh orangtua sendiri di rumah atau sekedar supaya anak kita bisa bersosialisasi dengan anak2 lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ery</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-728</link>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 03:57:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-728</guid>
		<description>Gea: siasatnya ada dua. Yang pertama ini sangat jitu sekali, yaitu saya tidak ikut mengajar di sesi yang empat lima jam itu :) Istriku tercintalah yang sibuk sendiri. Kalau melihat home-schooler lainnya, setelah empat-lima jam ngajar ternyata masih harus ditambah dengan berbagai macam tugas administratif mungkin sejam dua jam lagi. Keterlibatan saya adalah di sesi-sesi proyek dan eksperimen, misalnya programming, atau bedah buku, dan lain-lain. Pokoknya harus mengandung main.
Siasat kedua adalah beli kurikulum. Ini memang mahal, sekitar 800an dolar per tahun, tapi ini sudah mengandung semua buku berikut sesi-sesi per hari sudah dibuat. Bahkan ada pilihan mau belejar empat hari atau lima hari seminggu. Dengan memakai kurikulum jadi seperti ini, artinya waktu persiapan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan yang lebih penting lagi kita jadi lebih PD bahwa ini bisa kita lakukan. Ini penting buat homeschooler tingkat pemula.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gea: siasatnya ada dua. Yang pertama ini sangat jitu sekali, yaitu saya tidak ikut mengajar di sesi yang empat lima jam itu <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Istriku tercintalah yang sibuk sendiri. Kalau melihat home-schooler lainnya, setelah empat-lima jam ngajar ternyata masih harus ditambah dengan berbagai macam tugas administratif mungkin sejam dua jam lagi. Keterlibatan saya adalah di sesi-sesi proyek dan eksperimen, misalnya programming, atau bedah buku, dan lain-lain. Pokoknya harus mengandung main.<br />
Siasat kedua adalah beli kurikulum. Ini memang mahal, sekitar 800an dolar per tahun, tapi ini sudah mengandung semua buku berikut sesi-sesi per hari sudah dibuat. Bahkan ada pilihan mau belejar empat hari atau lima hari seminggu. Dengan memakai kurikulum jadi seperti ini, artinya waktu persiapan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan yang lebih penting lagi kita jadi lebih PD bahwa ini bisa kita lakukan. Ini penting buat homeschooler tingkat pemula.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gea</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-727</link>
		<dc:creator>Gea</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 02:58:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-727</guid>
		<description>Mas Ery,

Saya pikir, dalam pendidikan dalam level apapun (bahkan termasuk pendidikan level sekolah dasar), keberhasilan transfer pengetahuan ditentukan (salah satunya) oleh kejelian pihak pendidik untuk membuat &quot;list of learning objectives&quot;. Dari situ, perlu ditentukan, hal apa saja yang diinginkan pendidik agar dpt dikuasai anak didiknya, bagaimana metodenya, dan bagaimana meng-assess-nya apakah kemampuan tsb sudah dikuasai atau tidak. Rule-of-thumb-nya, untuk mendidik berupa pertemuan 1 jam di kelas, anda perlu 2 jam untuk persiapan dan assessment. Melihat jadwal empat-lima jam sehari yg anda terapkan ke anak2, bagaimana caranya anda menyiasati tahap pesiapan dan assessment tsb, sembari tetap fokus dengan pekerjaan anda sendiri di kantor?

Gea Parikesit</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Ery,</p>
<p>Saya pikir, dalam pendidikan dalam level apapun (bahkan termasuk pendidikan level sekolah dasar), keberhasilan transfer pengetahuan ditentukan (salah satunya) oleh kejelian pihak pendidik untuk membuat &#8220;list of learning objectives&#8221;. Dari situ, perlu ditentukan, hal apa saja yang diinginkan pendidik agar dpt dikuasai anak didiknya, bagaimana metodenya, dan bagaimana meng-assess-nya apakah kemampuan tsb sudah dikuasai atau tidak. Rule-of-thumb-nya, untuk mendidik berupa pertemuan 1 jam di kelas, anda perlu 2 jam untuk persiapan dan assessment. Melihat jadwal empat-lima jam sehari yg anda terapkan ke anak2, bagaimana caranya anda menyiasati tahap pesiapan dan assessment tsb, sembari tetap fokus dengan pekerjaan anda sendiri di kantor?</p>
<p>Gea Parikesit</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ery</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-712</link>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 01:01:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-712</guid>
		<description>Kang Aji: prinsip dasar homeschool itu adalah menjadikan orang tua (ibu dan/atau ayah) sebagai guru yang pertama dan utama selama pendidikan dasar. Tempat belajar tidaklah relevan dalam definisi ini, bisa di rumah, di pasar, di bioskop.

Masalah bersosialisasi itu juga tidak relevan dalam definisi homeschool. Memang ini masalah yang harus dipikirkan, tapi dengan jadwal belajar yang hanya empat lima jam sehari, kayaknya sosialisasi itu sama sekali tidak masalah. Tinggal diikutkan ke klub sepak bola, atau didaftarkan ke Sunday School di masjid atau gereja, kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Aji: prinsip dasar homeschool itu adalah menjadikan orang tua (ibu dan/atau ayah) sebagai guru yang pertama dan utama selama pendidikan dasar. Tempat belajar tidaklah relevan dalam definisi ini, bisa di rumah, di pasar, di bioskop.</p>
<p>Masalah bersosialisasi itu juga tidak relevan dalam definisi homeschool. Memang ini masalah yang harus dipikirkan, tapi dengan jadwal belajar yang hanya empat lima jam sehari, kayaknya sosialisasi itu sama sekali tidak masalah. Tinggal diikutkan ke klub sepak bola, atau didaftarkan ke Sunday School di masjid atau gereja, kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aji</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-710</link>
		<dc:creator>Aji</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 00:07:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-710</guid>
		<description>Pengetahuan dasar ttg. homeschooling bisa dilihat di
a) wikipedia (en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling)
b) about.com (homeschooling.about.com)

Dan ada keluarga dari Indonesia yang sudah melakukannya dan share di internet: http://www.sumardiono.com. Jadi buat orang Indonesia, tidak perlu takutlah! Apalagi secara hukum, homeschooling legal di Indonesia.

Banyak link yang bisa didapat dari tiga situs itu.

rgds,
aa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pengetahuan dasar ttg. homeschooling bisa dilihat di<br />
a) wikipedia (en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling)<br />
b) about.com (homeschooling.about.com)</p>
<p>Dan ada keluarga dari Indonesia yang sudah melakukannya dan share di internet: <a href="http://www.sumardiono.com" rel="nofollow">http://www.sumardiono.com</a>. Jadi buat orang Indonesia, tidak perlu takutlah! Apalagi secara hukum, homeschooling legal di Indonesia.</p>
<p>Banyak link yang bisa didapat dari tiga situs itu.</p>
<p>rgds,<br />
aa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aji</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-708</link>
		<dc:creator>Aji</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 11:08:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-708</guid>
		<description>Banyak yang salang mengertikan tentang homeschooling. Homeschooling itu tidak belajar sendiri di rumah, ada saatnya dia harus bergabung dengan homeschoolers lain untuk belajar tentang banyak hal: presentasi, kerja sama etc.

Kunci dari homeschooling adalah club homeschoolers, tanpa ini homeschooling akan menjadi hal yang bisa bikin frustasi.

aa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang salang mengertikan tentang homeschooling. Homeschooling itu tidak belajar sendiri di rumah, ada saatnya dia harus bergabung dengan homeschoolers lain untuk belajar tentang banyak hal: presentasi, kerja sama etc.</p>
<p>Kunci dari homeschooling adalah club homeschoolers, tanpa ini homeschooling akan menjadi hal yang bisa bikin frustasi.</p>
<p>aa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nash</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-707</link>
		<dc:creator>nash</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 06:36:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-707</guid>
		<description>Pertengahan 90an, dalam iklan British Airways di Time, ada kutipan &quot;universal&quot; yang unik, Ri: &quot;Anak-anak berjalan ketika berangkat ke sekolah dan berlarian ketika meninggalkannya&quot;...

Itu adalah caption untuk sebuah gambar anak-anak yang berlari sambil membawa tasnya... De javu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan 90an, dalam iklan British Airways di Time, ada kutipan &#8220;universal&#8221; yang unik, Ri: &#8220;Anak-anak berjalan ketika berangkat ke sekolah dan berlarian ketika meninggalkannya&#8221;&#8230;</p>
<p>Itu adalah caption untuk sebuah gambar anak-anak yang berlari sambil membawa tasnya&#8230; De javu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: RD</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157/comment-page-1#comment-702</link>
		<dc:creator>RD</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 06:26:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157#comment-702</guid>
		<description>Setuju? Saya enggak setuju home schooling. Selain belajar di kelas, pada saat anak pergi ke sekolah, ia juga &quot;belajar&quot; bergaul dan bersosialisasi. Dari sinilah, ia belajar memimpin dan dipimpin. Kalau sekolah umum di Singapura seperti itu, mungkin bisa cari sekolah internasional (Belanda atau Amerika) yang ada di Singapura. Kalau suatu saat anda tinggal di Gadobangkong, saya bisa tunjukan sekolah yang menyenangkan buat anak anda. Salam aRDi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Setuju? Saya enggak setuju home schooling. Selain belajar di kelas, pada saat anak pergi ke sekolah, ia juga &#8220;belajar&#8221; bergaul dan bersosialisasi. Dari sinilah, ia belajar memimpin dan dipimpin. Kalau sekolah umum di Singapura seperti itu, mungkin bisa cari sekolah internasional (Belanda atau Amerika) yang ada di Singapura. Kalau suatu saat anda tinggal di Gadobangkong, saya bisa tunjukan sekolah yang menyenangkan buat anak anda. Salam aRDi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

