Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Veel plezier

Veel plezier

Kalimat (yang menjadi judul) di atas seringkali diucapkan oleh para orang tua di Belanda ketika mengantarkan anaknya ke sekolah. Di pintu gerbang sekolah, ketika mereka melepas anaknya untuk belajar seharian, kalimat itulah yang mereka ucapkan, yang kalau diterjemahkan secara letterlijk akan berarti “bersenang-senanglah sebanyak-banyaknya”.

Posting ini membahas perbedaan (budaya) bagaimana para orang tua melihat sekolah. Saya merasakan perbedaan itu ketika pada suatu hari saya melepas Hanif bersekolah di Belanda, “Nak, baik-baik di sekolah, ya?” demikian pesan saya. Ketika saya berdiri memperhatikan Hanif berjalan dengan tertib masuk ke sekolah, di samping saya datang seorang ibu yang melepas anaknya berlarian ke dalam sekolah sambil setengah berteriak, “Veel plezieeer …”, katanya.

***

Sebelumnya, mari kita lihat dari dalam budaya kita sendiri, bagaimana orang tua melihat perilaku anaknya di sekolah. Bagi saya, tidak ada ungkapan yang lebih mewakili budaya kita dibandingkan dengan lagu yang kita pelajari sejak kecil:

[anak] Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi sekolah sampai kan nanti
[ayah/ibu] Selamat belajar nak penuh semangat
Rajin lah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi temanmu
Itulah tandanya kau murid budiman

Setting lagu itu adalah dialog antara sang anak dengan orang tuanya ketika sang anak pamit berangkat sekolah. Jawaban sang ayah/ibu dalam lagu itu mencerminkan apa yang dituntut oleh orang tua terhadap sang anak: jadilah murid budiman. Rajin, hormat, sayang adalah kata kunci yang ditekankan dalam paradigma murid budiman itu.

Itulah juga yang sebenarnya terpatri dalam otak saya ketika saya memberi pesan, “Nak baik-baik di sekolah, ya?” Perilaku anak di sekolah itu haruslah rajin, hormat, dan sayang. Tidak ada tuntutan yang mengharuskan bahwa sekolah itu harus menyenangkan.

***

Kedua prinsip itu sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Murid budiman a la Indonesia kan masih berkesempatan untuk mendapatkan sekolah yang menyenangkan. Sebaliknya, sekolah a la Belanda yang sangat fun pun tidak menutup kemungkinan untuk meraih keunggulan murid budiman. Bahkan sebenarnya di sekolah Belanda, nilai-nilai rajin, hormat dan sayang pun (dalam batas-batas yang berbeda karena perbedaan budaya) tetap ditekankan kepada anak didik.

Tetapi pada kenyataannya yang terjadi adalah tarikan ke dua kutub, disertai dengan tabrakan dalam tataran ide. Di tempat yang berbudaya murid budiman, kita temui sekolah-sekolah yang “bermutu” dalam arti berdisiplin tinggi dan standar pencapaian akademik yang juga tinggi, tetapi sekolahnya sama sekali tidak menyenangkan. Di lain pihak ada tempat-tempat lain yang sekolahnya adalah tempat untuk bermain sambil belajar, sampai-sampai banyak yang tidak terlalu peduli dengan pencapaian akademik yang penting sang anak bisa belajar dengan menyenangkan.

Untuk lebih menjelaskan poin ini, ada baiknya anda saya kenalkan dengan Meester Leo, guru kelas 1 di SD Zeelsterhof, Veldhoven. (Catatan: Usia SD di Belanda dimulai saat usia empat tahun, jadi kurang lebih sama dengan usia TK di banyak negara lain). Beliau ini guru senior yang spesialis mengajar kelas 1. Anak-anak yang kebagian masuk kelas beliau akan selalu ingat betapa menyenangkan belajar bersama beliau.

Ada saja kelakuan beliau yang luar biasa. Pernah pada suatu hari beliau mengajar dengan pakai kostum dan berperan sebagai Leo de Bouwer, dan memainkan peran layaknya Bob the Builder. Anak-anak disambut dengan musik sejak dari gapura sekolah. Secara bergantian dipanggul satu-satu untuk kemudian bereksperimen dengan berbagai perkakas pertukangan.
Setiap senin pagi, beliau bertanya kepada semua murid satu persatu: apa yang sudah mereka lakukan selama akhir pekan? Bergantung jawabannya, maka sang murid akan mendapatkan giliran untuk show-off. Yang mengaku main bola, akan didaulat untuk menendangkan bola sekencang-kencangnya ke arah beliau (di dalam kelas!). Yang mengaku les menyanyi akan ditanggap bernyanyi. Yang mengaku jalan-jalan akan ditanya ke mana saja dan diminta bercerita ttg pengalamannya.

Kalau main terus, kapan belajar membaca dan menulis? Tidak ada tuh. Anak kelas satu dan dua di Belanda tidak diajari membaca dan menulis.

Bandingkan dengan banyak negara lain (singapura misalnya) di mana anak lulusan TK diharapkan harus sudah bisa membaca untuk masuk ke kelas 1 SD. Guru anak kami malah secara spesifik meminta agar kami tidak mengajari mereka membaca sebelum mereka kelas tiga SD di Belanda (artinya kelas 1 SD di Indonesia dan Singapura).

Jangan salah kira, mereka sangat menggalakkan kita untuk membaca buku bersama anak-anak. Pelajaran sekolah pun dipenuhi dngan kunjungan ke perpustakaan kota. Tapi penekanan untuk usia dini adalah menumbuhkan cinta buku, bukan mengajari membaca.

Kalau sang anak bisa menghubungkan antara bunyi yang kita bacakan dengan huruf yang mereka liha dibuku, itu adalah efek samping yang bagus sekali yang biasa terjadi untuk anak-anak cerdas. Tetapi tetap saja kita diminta untuk tidak mengajari mereka membaca dan menulis, selain membacakan buku sebanyak yang diinginkan oleh sang anak.

Jadilah mereka mengalami masa-masa TK yang full main. Mereka murid SD di Belanda masuk ke kelas 3 tanpa bisa membaca dan menulis. Hebatnya lagi, di akhir kelas 3 mereka sudah menghasilkan satu buklet yang berisi cerita pendek satu paragraf yang mereka karang sendiri.

Di Indonesia atau di Singapura? Kita semua sudah mafhum bagaimana penuh tekanan suasana yang dibuat. Anak TK di Singapura sudah mulai punya PR, dan mereka juga punya ujian di setiap akhir semester/tahun. Setelah selesai TK mereka harus sudah bisa membaca dan menulis untuk bisa diterima di SD.

Pertanyaan yang selalu mengganggu saya adalah kalau hasilnya sama saja, kenapa anak di Belanda bisa mendapatkan TK yang full main sedangkan anak di negara lain harus mengalami TK yang penuh penderitaan?

***

Ceritanya berulang ketika kami pindah ke Amerika. Anak-anak begitu menikmati masa-masa sekolah mereka. Pelajaran musik adalah contohnya.

Ketika masuk ke kelas lima, Hanif diharuskan untuk memilih alat musik yang disukainya. Pilihannya adalah main band atau orkestra. Saya pribadi sih menggiring ke arah orkestra, dan ternyata Hanif memilih biola (yang bagian dari orkestra).

Anak-anak itu praktis hanya belajar di sekolah. Memang ada anak-anak yang sebelumnya sudah belajar main musik, dan ada juga anak-anak yang tetap les musik di luar sekolah, tapi sebagian besar anak-anak itu (1) tidak pernah belajar musik sebelumnya, dan (2) tidak les musik di luar sekolah.

Yang terjadi di tahun itu adalah keajaiban (bagi saya). Tidak banyak ketrampilan (skills) yang kita dapat dari sekolah. Coba ingat pelajaran PKK kita. Saya termasuk yang beruntung punya guru PKK yang mumpuni, sampai saya bisa mengetik dengan sepuluh jari dalam satu semester. Saya pun (hampir) bisa menjahit baju, sayangnya murid lelaki ketika itu hanya diajari teori, sedangkan praktek jahit baju hanya dikhususkan untuk murid perempuan (tanya kenapa?!!!). Ketrampilan main musik? Tidak ada yang murni saya dapatkan dari sekolah.

Yang didapatkan oleh Hanif bukan hanya sekadar menggesek biola sampai mengeluarkan lagi. Gurunya adalah guru yang amat sangat serius dalam mendidik anak-anak itu. Sedemikian serius dia mendidik, sehingga di acara pagelaran akhir tahun (yang juga merupakan pagelaran perpisahan bagi beliau yang memasuki masa pensiun), beliau berkata kepada kami orang tua murid kelas lima, “Yang saya ajarkan kepada mereka selama kelas lima ini adalah bagaimana caranya memegang biola, sehingga mereka di kelas enam bisa mulai belajar main musik”.

Saya terus terang hanya sempat melongo mendengar kalimat itu. Yang dia sebut sebagai pelajaran memegang biola adalah pelajaran dari nol, yaitu pelajaran bagaimana menenteng biola tanpa kotaknya (“hold it like to hold a chicken in the head”), pelajaran do re mi (yang tentu saja sangat standar), sampai ke pelajaran berorkestra di depan publik (yaitu orang tua murid).

Tidak hanya sampai di situ, sang guru memanggil penguji dari luar sekolah, seorang penguji yang sangat ahli yang sudah bertahun-tahun mengajar orkestra untuk anak-anak. Semua anak diharuskan bermain di depan sang penguji untuk kemudian diberi kritik.

Saya akan ulangi lagi di sini: anak saya yang baru belajar biola selama delapan bulan, diwajibkan bermain di depan penguji yang dia sama sekali tidak kenal, dan kemudian permainan dia dikritik. Lepas dari kritikannya adalah kritikan yang sangat membangun (a la Pak Tino Sidin yang selalu bilang “bagus sekali gambarnya”), tetapi setiap kesalahan fundamental akan selalu dikoreksi (misalnya “do not hold the violin as if it is your growing beard”).

Seriuskan anak-anak itu dalam menjalani pelajaran biolanya? Sangat serius, setidaknya dari apa yang dialami oleh Hanif. Are they having fun at the same time? Definitely.

Bandingkan dengan apa yang dialami oleh anak kami Abdih ketika ikut CCA (co-curricular activities) paduan suara di MacPherson Primary School di Singapura (cerita lengkapnya di sini). Keseriusan dalam berkesenian di sini diterjemahkan menjadi strict regimentation. Akibatnya, anak-anak jadi bosan dan tertekan terus dengan berbagai macam target dan tuntutan.

***

Anak kami Abdih sejak September lalu sekolah di kelas dua SD di Singapura, setelah pindah dari Amerika. Karena kami beranggapan bahwa materi matematika di Singapura lebih tinggi dari Amerika, maka dia kami ikutkan les privat untuk mengejar ketinggalannya. Tetapi yang terjadi adalah masa-masa penuh tekanan untuk anak kami itu.

Masalah yang pertama tentu saja PR. Jumlahnya sangat banyak. Semakin ada hari libur, semakin banyak PR yang diberikan. Di hari Jumat murid-murid selalu diberi bekal untuk belajar selama ujung minggu. Guru-guru di sekolah seolah tidak rela melihat anak-anak beristirahat dan bermain-main di rumah.

Yang lebih hebat lagi adalah ketika les privat yang dia ikuti ternyata juga punya PR terpisah. Bayangan kami sih les itu hanya mengulang apa yang sudah diberikan di sekolah, sekaligus mengerjakan soal-soal PR dari sekolah. Ternyata tidak. Les itu punya materi sendiri, lengkap dengan PR sendiri.

Akibatnya adalah masa-masa penuh tekanan bagi Abdih. Saya membuat aturan bahwa setelah makan malam tidak ada lagi istilahnya pegang buku pelajaran, kecuali buku bacaan ringan. Bayangkan saja, hari-harinya selalu di mulai jam 6 pagi (padahal shalat subuh saja bisa jam 5.45) karena harus mengejar bis agar bisa sampai di sekolah jam 7 pagi. Jam 7.30 sudah masuk kelas mulai belajar, terus sampai jam 2 siang. Jam 3.30 harus sudah mulai les lagi sampai jam 5 sore. Setelah itu mengerjakan PR dari sekolah, plus PR dari les.

Kalau dia masih bekerja sampai makan malam (sekitar jam 7an) itu artinya dia sudah belajar selama 8-10 jam. Itu sudah sangat banyak dan lebih dari cukup untuk pelajaran sekolah. Kalau setelah makan malam dia masih terus bikin PR, maka kapan dia sempat membaca buku yang lain, kapan dia sempat baca AlQuran, dan berjibun kegiatan lainnya.

Put it another way: kalau dia masih harus bikin PR setelah belajar selama 8 sampai 10 jam, maka itu yang salah yang memberi PR, bukan salah muridnya. Karena itu saya larang anak saya untuk bikin PR setelah makan malam.

Hasilnya? Ya Abdih selalu marah-marah kalau disuruh berhenti bikin PR, karena besok gurunya pasti akan marah-marah lagi. Dia baru tenang kalau saya bilang, “Besok kalau gurumu marah, suruh telepon ayah biar dia ayah marahin”.

Pertanyaannya kembali lagi: apakah dengan menyumpalkan beban berlebih ke otak anak maka sang anak akan belajar lebih banyak? Ini akan saya bahas dalam posting lain.

***

Kesimpulannya: homeschool.

Kami sudah sampai pada kesimpulan bahwa anak-anak akan kami homeschool mulai awal Januari besok. Lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, kami melihat bahwa homeschool akan memberi peluang yang lebih baik bagi anak-anak kami untuk berkembang.

Anda setuju dengan kesimpulan kami?

This entry receives 12 comments.

duta

Kalau di Belanda dan di Amerika boleh nggak mas Homeschooling? Memang di Singapore ini anak dituntut untuk “competitive” di dalam setiap sisi kehidupannya. Saya melihat kecenderungan itu di anak-anak saya; yang notabene mereka mengukur sesuatu itu dari menag dan kalah. Tapi sempat saya bangga dengan anak pertama saya. Pas itu ada lomba lari di sekolahnya; Salah satu “best friend” nya jatuh. Dia balik menolong sahabatnya itu. Memang dia complain bahwa dia nggak dapat trophy karena nggak menang lomba lari. namun dia dapat trophy dari Ibuknya karena dia telah memiliki nilai yang naturally tumbuh di dalam dirinya.

Jan 4, 2009 at 1:20 am

Ery

Kalau di Amerika sih sudah tidak dibilang lagi. Komunitas homeschool sudah punya suara (sekaligus bukti) bahwa mereka adalah metoda alternatif yang harus diperhitungkan. Kalau di Belanda, homeschool hanya bisa dilakukan oleh orang asing, itupun kalau sejak pertama kali datang anaknya tidak didaftarkan ke sekolah. Kalau sudah sempat terdaftar maka tidak ada ampun lagi harus tetap sekolah.

Jan 4, 2009 at 1:36 am

RD

Setuju? Saya enggak setuju home schooling. Selain belajar di kelas, pada saat anak pergi ke sekolah, ia juga “belajar” bergaul dan bersosialisasi. Dari sinilah, ia belajar memimpin dan dipimpin. Kalau sekolah umum di Singapura seperti itu, mungkin bisa cari sekolah internasional (Belanda atau Amerika) yang ada di Singapura. Kalau suatu saat anda tinggal di Gadobangkong, saya bisa tunjukan sekolah yang menyenangkan buat anak anda. Salam aRDi

Jan 4, 2009 at 11:26 pm

nash

Pertengahan 90an, dalam iklan British Airways di Time, ada kutipan “universal” yang unik, Ri: “Anak-anak berjalan ketika berangkat ke sekolah dan berlarian ketika meninggalkannya”…

Itu adalah caption untuk sebuah gambar anak-anak yang berlari sambil membawa tasnya… De javu?

Jan 5, 2009 at 11:36 pm

Aji

Banyak yang salang mengertikan tentang homeschooling. Homeschooling itu tidak belajar sendiri di rumah, ada saatnya dia harus bergabung dengan homeschoolers lain untuk belajar tentang banyak hal: presentasi, kerja sama etc.

Kunci dari homeschooling adalah club homeschoolers, tanpa ini homeschooling akan menjadi hal yang bisa bikin frustasi.

aa

Jan 6, 2009 at 4:08 am

Aji

Pengetahuan dasar ttg. homeschooling bisa dilihat di
a) wikipedia (en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling)
b) about.com (homeschooling.about.com)

Dan ada keluarga dari Indonesia yang sudah melakukannya dan share di internet: http://www.sumardiono.com. Jadi buat orang Indonesia, tidak perlu takutlah! Apalagi secara hukum, homeschooling legal di Indonesia.

Banyak link yang bisa didapat dari tiga situs itu.

rgds,
aa

Jan 6, 2009 at 5:07 pm

Ery

Kang Aji: prinsip dasar homeschool itu adalah menjadikan orang tua (ibu dan/atau ayah) sebagai guru yang pertama dan utama selama pendidikan dasar. Tempat belajar tidaklah relevan dalam definisi ini, bisa di rumah, di pasar, di bioskop.

Masalah bersosialisasi itu juga tidak relevan dalam definisi homeschool. Memang ini masalah yang harus dipikirkan, tapi dengan jadwal belajar yang hanya empat lima jam sehari, kayaknya sosialisasi itu sama sekali tidak masalah. Tinggal diikutkan ke klub sepak bola, atau didaftarkan ke Sunday School di masjid atau gereja, kan?

Jan 6, 2009 at 6:01 pm

Gea

Mas Ery,

Saya pikir, dalam pendidikan dalam level apapun (bahkan termasuk pendidikan level sekolah dasar), keberhasilan transfer pengetahuan ditentukan (salah satunya) oleh kejelian pihak pendidik untuk membuat “list of learning objectives”. Dari situ, perlu ditentukan, hal apa saja yang diinginkan pendidik agar dpt dikuasai anak didiknya, bagaimana metodenya, dan bagaimana meng-assess-nya apakah kemampuan tsb sudah dikuasai atau tidak. Rule-of-thumb-nya, untuk mendidik berupa pertemuan 1 jam di kelas, anda perlu 2 jam untuk persiapan dan assessment. Melihat jadwal empat-lima jam sehari yg anda terapkan ke anak2, bagaimana caranya anda menyiasati tahap pesiapan dan assessment tsb, sembari tetap fokus dengan pekerjaan anda sendiri di kantor?

Gea Parikesit

Jan 16, 2009 at 7:58 pm

Ery

Gea: siasatnya ada dua. Yang pertama ini sangat jitu sekali, yaitu saya tidak ikut mengajar di sesi yang empat lima jam itu :) Istriku tercintalah yang sibuk sendiri. Kalau melihat home-schooler lainnya, setelah empat-lima jam ngajar ternyata masih harus ditambah dengan berbagai macam tugas administratif mungkin sejam dua jam lagi. Keterlibatan saya adalah di sesi-sesi proyek dan eksperimen, misalnya programming, atau bedah buku, dan lain-lain. Pokoknya harus mengandung main.
Siasat kedua adalah beli kurikulum. Ini memang mahal, sekitar 800an dolar per tahun, tapi ini sudah mengandung semua buku berikut sesi-sesi per hari sudah dibuat. Bahkan ada pilihan mau belejar empat hari atau lima hari seminggu. Dengan memakai kurikulum jadi seperti ini, artinya waktu persiapan bisa ditekan semaksimal mungkin, dan yang lebih penting lagi kita jadi lebih PD bahwa ini bisa kita lakukan. Ini penting buat homeschooler tingkat pemula.

Jan 16, 2009 at 8:57 pm

Fanny

Untuk sosialisasi bisa juga disiasati dengan mengambil beberapa mata pelajaran dari sekolah tradisional (maksud saya: kebalikan dari home-school; apa ya istilahnya?). Misalnya pelajaran olahraga, musik, atau apa saja yang misalnya tidak tertangani oleh orangtua sendiri di rumah atau sekedar supaya anak kita bisa bersosialisasi dengan anak2 lain.

Jan 19, 2009 at 9:23 am

Lies Adjeng

Salam,

Kang Ery, perkenalkan, saya adjeng alumni KRM juga.
Sudah beberapa kali saya kemari, dan selalu senang membaca postingan Kang Ery. Bolehkah saya tautkan blog K’Ery ke blog saya?
trims sebelumnya :-)

btw about the topic, jadi ingat pengalaman saya sendiri…..
dulu ibu saya selalu bertanya setiap saya pulang sekolah dengan pertanyaan: “dapet pengalaman apa hari ini?”, yang pasti akan saya jawab dengan serentetan cerita.
Tapi kalo tante saya nanya: “belajar apa hari ini?” pastilah saya hanya akan menjawab dengan kalimat “belajar biasa aja”. end of story :-D

Feb 9, 2009 at 4:12 am

Imam Handoko

Bagus sekali artikelnya,
Untuk PR, mungkin maksud guru di sekolah hanya untuk membiasakan anak untuk belajar atau mengulang kembali pelajaran yang di sekolah, bukan untuk membebani anak. Anak saya sangat senang kalau ngerjain PR, dia malah bisa ngajarin adiknya sekalian dengan berpura-pura jadi gurunya.

Tentang mutu dan kualitas, memang American Sistem is number 1, dan tentunya sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, tapi menurutku sekolah Indonesia jauh lebih baik daripada sekolahan arab, di UAE.

Alhamdulillah, semua anak kami udah bisa membaca sebelum mereka masuk sekolah, (sukran tuk istriku tercinta : for homeschooling yg pasti menyenangkan). Belajar di rumah aja memang nggak cukup, anak perlu sosialisasi dengan teman sebayanya, anak-anaku sangat pemalu dengan orang-orang yang belum dia kenal.

Seharusnya dia bisa langsung ke grade1, tapi karena kurang sosialisasi, jadinya aku masukkan ke KG 2, dengan tujuan agar dia bisa sosialisasi dengan teman saja, dan hasilnya apa yang terjadi….

Selama bulan-bulan pertama tiap hari ..selalu menangis dan hampir nggak mau nerusin..tapi alhamdulillah..bulan ke-2 dia sudah bisa mengikuti dan merasa enjoy di sekolah..katanya menyenangkan juga…dan akhirnya dialah Sang Juara, number 1 diantara 4 kelas paralelnya.

Kesimpulan: setuju dengan home schooling, tapi tidak cukup dengan itu saja, anak-anak perlu lingkungan lain yang dengannya mereka bisa tumbuh dan bermain sebagaimana naluri anak yg suka bermain.

Salam, buat Pak Ery dan keluarga, sekalian minta ijin tuk di posting di FBku
Wassalam

Jul 19, 2009 at 2:34 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Wednesday, December 3rd, 2008 at 11:08 pm and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.