Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Een Natie van Koeli

Een Natie van Koeli

Een Natie van Koeli [1] atau Tentang Kenyamanan Termal

Anda tahu “intesitas turbulensi”? Kecepatan aliran udara di sekitar manusia sangat berfluktuasi. Kalau kecepatan udara itu diukur setiap jangka waktu tertentu, katakanlah sepertiga detik, selama jangka waktu tertentu, katakanlah tiga menit, maka kita bisa menghitung kecepatan rata-rata dan standar deviasinya secara statistik. Perbandingan antara standar deviasi dan nilai rata-rata inilah yang didefinisikan sebagai intensitas turbulensi.

Dalam teori kenyamanan termal, kedua parameter ini (kecepatan rata-rata dan intensitas turbulensi) bersama dengan suhu udara menentukan besarnya sensation of draught yang didefinisikan sebagai “rasa dingin yang tidak diinginkan yang disebabkan karena aliran udara”.

Sudah cukup canggih? Ternyata belum.

Saya termangu ketika kemarin mendengarkan presentasi perkembangan terbaru yang sedang digarap oleh laboratoriumnya Prof. Fanger (dia inilah Mbahnya Thermal Comfort) di Copenhagen. Ternyata, kata mereka, frekuensi perubahan kecepatan aliran udara itupun berpengaruh.

Maka diubek-ubeklah aliran udara itu, sedemikian sehingga mereka bisa mendapatkan aliran yang bersuhu sama, kecepatan rata-rata sama, intensitas turbulensi sama, tapi frekuensinya berbeda. Caranya bagaimana tidaklah terlalu penting. Yang jelas mereka bisa mendapatkan beberapa aliran dengan rentang frekuensi tertentu, dan kemudian dialirkan ke sekitar orang yang menjadi subyek penelitian.

Hasilnya? Ternyata ada korelasi positif antara frekuensi fluktuasi kecepatan udara dengan naiknya keluhan manusia ttg “draught”.

How do you explain that? “Reseptor termal di bawah kulit manusia menjadi semakin rajin mengirimkan sinyal ke otak ketika di ekspos aliran udara pada frekuensi tertentu”.

Saya semakin termangu memikirkan betapa dalam dan tajamnya mereka membelah-belah sifat-sifat aliran udara di sekitar manusia. Baru sekitar dua ratus tahun yang lalu Lavoisier menemukan bahwa udara itu tidak satu, tapi punya komposisi. Dan komposisi itu bisa mengandung bahan polutant berbahaya. Tidak cukup dengan konsentrasi polutan dalam udara, yang menentukan tingkat keselamatan manusia, mereka meneliti suhu dan kelembaban udara yang menentukan tingkat kenyamanan termal. Ternyata suhu dan kelembaban tidak cukup, maka dimasukkanlah intensitas turbulensi ke dalam persamaan. Lhah, itupun ternyata belum cukup karena sekarang mereka mengusulkan agar frekuensinya pun dimasukkan ke dalam teori kenyamanan termal.

Sudah cukup pusing?

***

Saya sendiri cenderung menanggapi perkembangan teori ini secara fifty-fifty. Sebagai peneliti tentu saja saya sangat tertarik dengan kemajuan teknologi seperti ini. Tapi sisi pragmatis dalam diri saya selalu mempertanyakan keterpakaian teori itu.

Pertama, teori itu mengandaikan bahwa manusia kalau merasa tidak nyaman akan mengeluh (complain). Teori ini tidak memasukkan (karena memang tidak bisa, barangkali) unsur reaksi manusia selain mengeluh. Reaksi yang lain kan banyak: bisa langsung menutup aliran udara yang mengganggu, atau kalau tidak bisa yaah tinggal pakai sweater atau bahkan jaket, kalau perlu kupluknya sekalian :)

Kedua, dalam konteks Indonesia, memasukkan frekuensi ke dalam kenyamanan termal adalah absurd. Bahkan seluruh teori kenyamanan termal akan terlihat absurd. Kenapa? Karena kita kan belum beranjak dari kebutuhan manusia yang terendah: keselamatan.

Dalam struktur kebutuhan a la Maslow, keselamatan (safety) harus diletakkan sebelum kenyamanan (comfort). Kan aneh kalau ada orang mengeluh kepanasan, tapi sebenarnya dia terus-terusan menghirup udara beracun. Kita bahkan tidak punya gerbong kereta api khusus bebas rokok, bagaimana kita akan mendiskusikan teori kenyamanan termal di gerbong kereta api? Absurd. Mengharamkan rokok di dalam bangunan umum ber-AC saja kita belum bisa, bagaimana kita bisa enak berdiskusi ttg kenyamanan termal?

Mereka bersusah payah membedah karakteristik aliran udara, semata-mata agar mereka bisa meningkatkan kualitas ruangan kantor mereka. Semata-mata agar para pekerja mereka bisa lebih produktif bekerja dalam lingkungan yang aman dan nyaman.

Duh, mata saya berlinang mengingat betapa banyaknya pekerja-pekerja kita harus rela bekerja dalam suasana yang sangat tidak nyaman. Berpeluh, bahkan berkalang tanah. Bahkan terkadang mereka bekerja dalam kondisi yang tidak aman buat keselamatan mereka.

Lihatlah para tukang gali yang duduk di tepi jalan di Jakarta, menunggu jemputan yang membawa mereka ke proyek pembangunan gedung baru. Mana kenal mereka dengan safety helmet, atau safety shoes. Wong cangkulnya juga punya mereka sendiri.

Lihatlah gadis-gadis remaja kita yang disuruh bergantungan di luar membersihkan jendela, jauh di atas sana, di apartemen bertingkat di Singapura. Tanpa perlengkapan keselamatan sebiji pun.

Kepada mereka, saudaraku, janganlah kita bercerita ttg kenyamanan termal.

[Kepada Soekarno, dan kepada setiap pemimpin negeri kita, saya ingin menitipkan pertanyaan yang tercetus di tengah-tengah diskusi ttg kenyamanan termal: Zijn wij een natie van koeli? Atau barangkali lebih tepatnya: "Mengapa engkau jadikan kami bangsa kuli?"]

Kopenhagen, 10 September 2002

This entry receives one comment.

dhanta

wah…keren mas…..untuk analisis kenyamaan termal….mas…bisa minta referansi tentang kenyaman termal…kebetulan saya sedang melakukan penelitian tentang kenyaman termal,semoga saya bisa mendapat referensi yang lebih….trimakasih…

Apr 11, 2008 at 1:20 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Tuesday, September 10th, 2002 at 10:28 am and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.