<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Makanan dalam penerbangan: pilih halal, vegetarian atau &#8230;?</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/142/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 05:42:57 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: americandreamman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-1170</link>
		<dc:creator>americandreamman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 22:59:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-1170</guid>
		<description>Sesuatu Yang Haram atau Halal bukan yang masuk ke dalam mulut, tp apa yang keluar dari mulut kita... So, freedom speaking, I enjoy my Tony Roma&#039;s spare baby ribs and Cabernet Sauvignon Vin, sambil menjaga hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Inget AA Gym, Jagalah hati jgn kau kotori... Again, freedom speaking ni, AA ngmgnya hati lo bukan mulut/perut. Thank you.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sesuatu Yang Haram atau Halal bukan yang masuk ke dalam mulut, tp apa yang keluar dari mulut kita&#8230; So, freedom speaking, I enjoy my Tony Roma&#8217;s spare baby ribs and Cabernet Sauvignon Vin, sambil menjaga hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Inget AA Gym, Jagalah hati jgn kau kotori&#8230; Again, freedom speaking ni, AA ngmgnya hati lo bukan mulut/perut. Thank you.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gary Sjah</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-662</link>
		<dc:creator>Gary Sjah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 03:14:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-662</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaykum Wr Wb.,

Harapan saya semoga posting ini menjumpai segenap ikhwan wal akhwat sekalian dalam keadaan keimanan yang senantiasa meningkat.

JazakaLlahu khayran kepada akh Lutfi atas response nya yang berharga.

Akh Lutfi benar sekali, bahwa di beberapa aspek memang persyaratan &quot;kosher&quot; lebih &quot;cerewet&quot; dibandingkan dengan persyaratan &quot;zabiha.&quot;

Lebih dari itu juga, Akh Lutfi juga benar dan saya sangat sepakat dengan antum bahwa di kala panganan zabiha/halal tidak tersedia, pilihan panganan kosher tentunya lebih layak dipilih dibanding alternatif lainnya.
Hanya saja, mengingat fakta bahwa badan sertifikasi &quot;kosher&quot; tidaklah terbatas hanya diselenggarkan oleh kaum yahudi ortodoks, melainkan juga oleh kalangan kontemporer/liberal mereka, maka patut juga diwaspadai manakala kita menemukan panganan kosher yang di ingredients/komposisi nya mengandung khamr/wine, ataupun gelatin, walaupun yang belakangan ini dilabel sebagai &quot;kosher gelatin.&quot;  Contoh panganan kosher yang paling lazim dijumpai mengandung kosher gelatin adalah yogurt yang banyak dijual di supermarket-supermarket di Amerika utara.  Karena, sebagaimana pernah diulas sebelumnya, gelatin dianggap sebagai &quot;byproduct&quot;, sebagai substansi terpisah, sehingga walaupun berasal dari babi, tetap dapat dilabel kosher.  Dengan kata lain, berbeda dengan ajaran Islam yang men-consider asal muasal suatu panganan, dalam hukum kosher, gelatin yang walaupun berasal dari babi, tidak tercakup dalam hukum larangan pengkonsumsian daging babi.  Alasannya cukup sederhana: gelatin bukanlah daging. 

Selain itu, patut juga diwaspadai daging &quot;kosher&quot;, baik dalam ajaran Yahudi ortodoks maupun kontemporer/liberal, penyembelihan hewannya tidak dilakukan dengan menyebut asma Allah.  Terlepas dari penyembelihnya apakah dia seorang yang ber-tauhid (yahudi) atau bukan, dari fakta ini secara pribadi saya tidak melihat bedanya daging kosher dengan daging bangkai.

Allahu &#039;alim.

Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.

Wassalam
-Abu Rayyan-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum Wr Wb.,</p>
<p>Harapan saya semoga posting ini menjumpai segenap ikhwan wal akhwat sekalian dalam keadaan keimanan yang senantiasa meningkat.</p>
<p>JazakaLlahu khayran kepada akh Lutfi atas response nya yang berharga.</p>
<p>Akh Lutfi benar sekali, bahwa di beberapa aspek memang persyaratan &#8220;kosher&#8221; lebih &#8220;cerewet&#8221; dibandingkan dengan persyaratan &#8220;zabiha.&#8221;</p>
<p>Lebih dari itu juga, Akh Lutfi juga benar dan saya sangat sepakat dengan antum bahwa di kala panganan zabiha/halal tidak tersedia, pilihan panganan kosher tentunya lebih layak dipilih dibanding alternatif lainnya.<br />
Hanya saja, mengingat fakta bahwa badan sertifikasi &#8220;kosher&#8221; tidaklah terbatas hanya diselenggarkan oleh kaum yahudi ortodoks, melainkan juga oleh kalangan kontemporer/liberal mereka, maka patut juga diwaspadai manakala kita menemukan panganan kosher yang di ingredients/komposisi nya mengandung khamr/wine, ataupun gelatin, walaupun yang belakangan ini dilabel sebagai &#8220;kosher gelatin.&#8221;  Contoh panganan kosher yang paling lazim dijumpai mengandung kosher gelatin adalah yogurt yang banyak dijual di supermarket-supermarket di Amerika utara.  Karena, sebagaimana pernah diulas sebelumnya, gelatin dianggap sebagai &#8220;byproduct&#8221;, sebagai substansi terpisah, sehingga walaupun berasal dari babi, tetap dapat dilabel kosher.  Dengan kata lain, berbeda dengan ajaran Islam yang men-consider asal muasal suatu panganan, dalam hukum kosher, gelatin yang walaupun berasal dari babi, tidak tercakup dalam hukum larangan pengkonsumsian daging babi.  Alasannya cukup sederhana: gelatin bukanlah daging. </p>
<p>Selain itu, patut juga diwaspadai daging &#8220;kosher&#8221;, baik dalam ajaran Yahudi ortodoks maupun kontemporer/liberal, penyembelihan hewannya tidak dilakukan dengan menyebut asma Allah.  Terlepas dari penyembelihnya apakah dia seorang yang ber-tauhid (yahudi) atau bukan, dari fakta ini secara pribadi saya tidak melihat bedanya daging kosher dengan daging bangkai.</p>
<p>Allahu &#8216;alim.</p>
<p>Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.</p>
<p>Wassalam<br />
-Abu Rayyan-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lutfi</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-659</link>
		<dc:creator>Lutfi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 20:20:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-659</guid>
		<description>Meski tidak 100% memenuhi kriteria \&quot;halal\&quot; dalam Islam, proses penyembelihan dan pembersihan daging kosher sangat mirip dengan Islam.  Selain itu, babi dilarang dalam agama Yahudi (dan aslinya, dalam agama Kristen juga).  Yang agak menyangsikan adalah kemungkinan mereka memasukkan kandungan arak (wine), karena arak diperbolehkan dalam agama Yahudi (entah aslinya dalam Taurat).  

Aliran yahudi ortodoks mayoritas mengikuti prinsip keimanan yahudi yg. dirumuskan oleh Moses ben Maimonides (Musa bin Maimun, seorang yahudi yg. belajar di Universitas Qordoba di abad 10-11 zaman kekhalifahan Islam Spanyol).  Salah satu prinsipnya adalah keimanan thp. keesaan Tuhan, dan sifat2 ketuhanan lainnya yg. sama dengan Islam.  Inilah ajaran ahlul kitab yg. benar.  Sementara itu, penentuan apakah makanan itu kosher atau tidak mengikuti ajaran yahudi orthodok pula.  Jadi dapat diartikan, kosher adalah pilihan tepat jika tidak ada makanan halal.

Dalam beberapa hal, kosher bahkan lebih \&#039;cerewet\&#039;.

Ref:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kosher
Raphael Patai, \&quot;Jewish Mind\&quot; [http://www.amazon.com/Jewish-Mind-Raphael-Patai/dp/081432651X]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Meski tidak 100% memenuhi kriteria \&#8221;halal\&#8221; dalam Islam, proses penyembelihan dan pembersihan daging kosher sangat mirip dengan Islam.  Selain itu, babi dilarang dalam agama Yahudi (dan aslinya, dalam agama Kristen juga).  Yang agak menyangsikan adalah kemungkinan mereka memasukkan kandungan arak (wine), karena arak diperbolehkan dalam agama Yahudi (entah aslinya dalam Taurat).  </p>
<p>Aliran yahudi ortodoks mayoritas mengikuti prinsip keimanan yahudi yg. dirumuskan oleh Moses ben Maimonides (Musa bin Maimun, seorang yahudi yg. belajar di Universitas Qordoba di abad 10-11 zaman kekhalifahan Islam Spanyol).  Salah satu prinsipnya adalah keimanan thp. keesaan Tuhan, dan sifat2 ketuhanan lainnya yg. sama dengan Islam.  Inilah ajaran ahlul kitab yg. benar.  Sementara itu, penentuan apakah makanan itu kosher atau tidak mengikuti ajaran yahudi orthodok pula.  Jadi dapat diartikan, kosher adalah pilihan tepat jika tidak ada makanan halal.</p>
<p>Dalam beberapa hal, kosher bahkan lebih \&#8217;cerewet\&#8217;.</p>
<p>Ref:<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kosher" rel="nofollow">http://en.wikipedia.org/wiki/Kosher</a><br />
Raphael Patai, \&#8221;Jewish Mind\&#8221; [http://www.amazon.com/Jewish-Mind-Raphael-Patai/dp/081432651X]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gary Sjah</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-658</link>
		<dc:creator>Gary Sjah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 16:36:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-658</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaykum Wr Wb,

Mas Ery yang budiman dan segenap ikhwan wal akhwat fiLlah, semoga antum dan keluarga senantiasa berada dalam lindungan dan bimbinganNya.  Semoga juga antum sekeluarga selalu berada dalam keadaan sehat wal&#039;afiyat.

Alhamdulillah, memang benar adanya bahwa sekarang ini keberadaan makanan halal ataupun daging sembelihan yang &quot;zabiha&quot; sudah semakin lazim ditemui di North America, utamanya di kota2 besar.

Hanya ingin sedikit sharing apa2 yang sempat saya temui mengenai panganan &quot;kosher&quot;:
- Dalam ajaran yahudi, hewan tidak disembelih dengan menyebut nama Allah (atau sebutan mereka untuk Allah), karena dianggap &quot;wasting&quot; the Holy Name.  Berarti daging hasil sembelihan tersebut, walaupun dilabel &quot;Kosher&quot;, adalah... (silakan simpulkan sendiri)
- Dalam ajaran yahudi, khamr (alkohol) sah2 saja untuk dikonsumsi.  Sehingga bahan panganan yang mengandung wine ataupun kerabat nya sangat mungkin masih mendapat label &quot;Kosher.&quot;  Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?
- Dalam ajaran yahudi, Gelatin, terlepas dari sumber hewan asal nya, sah2 saja untuk dilabel &quot;Kosher&quot; karena dianggap bukan daging hewan, melainkan produk turunan.  Berdasar hal ini, produk2 yang mengandung Gelatin babi pun masih memungkinkan untuk dilabel &quot;Kosher.&quot;  Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?

Allahu &#039;alim.

Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ulasan di atas masih penuh kekurangan.

Sumber2 referensi (mudah2an masih ingat, berhubung sudah lama sekali):
- www.sunnipath.com
- www.torontomuslims.com
- www.islam.ca
- Google search: &quot;kosher vs zabiha&quot;, &quot;is kosher halal?&quot;, &quot;kosher&quot;

Wassalam
-Abu Rayyan-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum Wr Wb,</p>
<p>Mas Ery yang budiman dan segenap ikhwan wal akhwat fiLlah, semoga antum dan keluarga senantiasa berada dalam lindungan dan bimbinganNya.  Semoga juga antum sekeluarga selalu berada dalam keadaan sehat wal&#8217;afiyat.</p>
<p>Alhamdulillah, memang benar adanya bahwa sekarang ini keberadaan makanan halal ataupun daging sembelihan yang &#8220;zabiha&#8221; sudah semakin lazim ditemui di North America, utamanya di kota2 besar.</p>
<p>Hanya ingin sedikit sharing apa2 yang sempat saya temui mengenai panganan &#8220;kosher&#8221;:<br />
- Dalam ajaran yahudi, hewan tidak disembelih dengan menyebut nama Allah (atau sebutan mereka untuk Allah), karena dianggap &#8220;wasting&#8221; the Holy Name.  Berarti daging hasil sembelihan tersebut, walaupun dilabel &#8220;Kosher&#8221;, adalah&#8230; (silakan simpulkan sendiri)<br />
- Dalam ajaran yahudi, khamr (alkohol) sah2 saja untuk dikonsumsi.  Sehingga bahan panganan yang mengandung wine ataupun kerabat nya sangat mungkin masih mendapat label &#8220;Kosher.&#8221;  Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?<br />
- Dalam ajaran yahudi, Gelatin, terlepas dari sumber hewan asal nya, sah2 saja untuk dilabel &#8220;Kosher&#8221; karena dianggap bukan daging hewan, melainkan produk turunan.  Berdasar hal ini, produk2 yang mengandung Gelatin babi pun masih memungkinkan untuk dilabel &#8220;Kosher.&#8221;  Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?</p>
<p>Allahu &#8216;alim.</p>
<p>Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ulasan di atas masih penuh kekurangan.</p>
<p>Sumber2 referensi (mudah2an masih ingat, berhubung sudah lama sekali):<br />
- <a href="http://www.sunnipath.com" rel="nofollow">http://www.sunnipath.com</a><br />
- <a href="http://www.torontomuslims.com" rel="nofollow">http://www.torontomuslims.com</a><br />
- <a href="http://www.islam.ca" rel="nofollow">http://www.islam.ca</a><br />
- Google search: &#8220;kosher vs zabiha&#8221;, &#8220;is kosher halal?&#8221;, &#8220;kosher&#8221;</p>
<p>Wassalam<br />
-Abu Rayyan-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ery</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-656</link>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 14:55:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-656</guid>
		<description>@Rina dan @uchy

Makanan kosher itu diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh muslim BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal, tapi karena makanan itu memenuhi kriteria kosher. Prinsip ini adalah keringanan yang diberikan oleh Allah justru ketika alternatif makanan halal tidak ada.

Karena itu, berusaha mencocok-cocokkan prinsip kosher dengan prinsip halal adalah justru mengurangi prinsip kemudahan yang disediakan oleh AlQuran di atas. Kalau ada makanan halal, maka saya tentu saja dengan senang hati akan memesan makanan halal itu. Masalah ini kan justru timbul karena tidak ada makanan yang terjamin halal.

Ketika tidak ada makanan yang terjamin halal, saya memilih makanan yang terjamin kosher.

Di AlQuran kan disebutkan bahwa makanan ahli kitab itu boleh kita makan. Yang masih punya standar baku adalah Yahudi, sedangkan Kristen sudah tidak punya lagi. Standar baku itu dalam aturan Yahudi disebut kosher. Merujuk kepada AlQuran tadi, makanan kosher itu boleh dimakan karena makanan itu kosher, BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal.

Jadi tidak perlulah kita berusaha mencocok-cocokkan kriteria kosher dengan kriteria halal, seperti mempertanyakan cara orang Yahudi menyembelih hewan. Justru mempersulit kemudahan yang sudah diberikan oleh Allah. Memang nggak akan ketemu karena memang aturannya berbeda. Selama mereka (orang Yahudi) menyatakan bahwa ini kosher, maka makanan itu boleh kita makan.

Kalau aturannya sama (antara kosher dan halal), maka logikanya tidak perlu ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan kosher. Justru
karena aturannya berbeda maka ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Rina dan @uchy</p>
<p>Makanan kosher itu diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh muslim BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal, tapi karena makanan itu memenuhi kriteria kosher. Prinsip ini adalah keringanan yang diberikan oleh Allah justru ketika alternatif makanan halal tidak ada.</p>
<p>Karena itu, berusaha mencocok-cocokkan prinsip kosher dengan prinsip halal adalah justru mengurangi prinsip kemudahan yang disediakan oleh AlQuran di atas. Kalau ada makanan halal, maka saya tentu saja dengan senang hati akan memesan makanan halal itu. Masalah ini kan justru timbul karena tidak ada makanan yang terjamin halal.</p>
<p>Ketika tidak ada makanan yang terjamin halal, saya memilih makanan yang terjamin kosher.</p>
<p>Di AlQuran kan disebutkan bahwa makanan ahli kitab itu boleh kita makan. Yang masih punya standar baku adalah Yahudi, sedangkan Kristen sudah tidak punya lagi. Standar baku itu dalam aturan Yahudi disebut kosher. Merujuk kepada AlQuran tadi, makanan kosher itu boleh dimakan karena makanan itu kosher, BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal.</p>
<p>Jadi tidak perlulah kita berusaha mencocok-cocokkan kriteria kosher dengan kriteria halal, seperti mempertanyakan cara orang Yahudi menyembelih hewan. Justru mempersulit kemudahan yang sudah diberikan oleh Allah. Memang nggak akan ketemu karena memang aturannya berbeda. Selama mereka (orang Yahudi) menyatakan bahwa ini kosher, maka makanan itu boleh kita makan.</p>
<p>Kalau aturannya sama (antara kosher dan halal), maka logikanya tidak perlu ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan kosher. Justru<br />
karena aturannya berbeda maka ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: uchy</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-654</link>
		<dc:creator>uchy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 03:46:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-654</guid>
		<description>bagaimana cara seorang jewish menyebelih hewan? apakah sesuai jg dgn ajaran islam?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagaimana cara seorang jewish menyebelih hewan? apakah sesuai jg dgn ajaran islam?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: E Sulaeman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-634</link>
		<dc:creator>E Sulaeman</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 03:33:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-634</guid>
		<description>Terima kasih. Tulisannya sangat bermanfaat.
Sekedar ingin share pengalaman:
Alhamdulillah, selama lebih dari 6 tahun di US, kami sekeluarga mempraktekkan
secara ketat makan hanya halal food atau kosher food. 
Ternyata tidak sesulit yang disangka. Apalagi tanda kosher food, 
seperti makanan yang berlabel U, K, UD, dan KD banyak tersedia di
supermarket. Halal food banyak tersedia di local masjid.
Memang lebih mahal, tapi pengalaman menunjukkan, meskipun
dana kami pas-pasan, kami tidak pernah kekurangan makanan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih. Tulisannya sangat bermanfaat.<br />
Sekedar ingin share pengalaman:<br />
Alhamdulillah, selama lebih dari 6 tahun di US, kami sekeluarga mempraktekkan<br />
secara ketat makan hanya halal food atau kosher food.<br />
Ternyata tidak sesulit yang disangka. Apalagi tanda kosher food,<br />
seperti makanan yang berlabel U, K, UD, dan KD banyak tersedia di<br />
supermarket. Halal food banyak tersedia di local masjid.<br />
Memang lebih mahal, tapi pengalaman menunjukkan, meskipun<br />
dana kami pas-pasan, kami tidak pernah kekurangan makanan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rina A</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-630</link>
		<dc:creator>Rina A</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 15:07:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-630</guid>
		<description>Jadi inget ada yang menulis cerita ringan seputar pemesanan meal di pesawat. Dia memesan halal food, dan yang dia dapat sepanjang perjalanan adalah kari. Padahal perjalanannya panjang dan dia tidak bisa minta ganti makanan lain! 

Jadi kesimpulannya halal food tidak well prepared seperti kosher food(penyedianya kurang siap atau kurang sigap lihat peluang?), tidak populer? atau itu bukti nyata bahwa &quot;lini&quot; ini dikuasai yahudi sepenuhnya.

Tapi itu yang disebut &quot;Shechita?&quot; itu apa mereka baca basmalah? maksudnya apa mereka menyebut nama tuhan yang sama dengan kita yaitu Allah SWT?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi inget ada yang menulis cerita ringan seputar pemesanan meal di pesawat. Dia memesan halal food, dan yang dia dapat sepanjang perjalanan adalah kari. Padahal perjalanannya panjang dan dia tidak bisa minta ganti makanan lain! </p>
<p>Jadi kesimpulannya halal food tidak well prepared seperti kosher food(penyedianya kurang siap atau kurang sigap lihat peluang?), tidak populer? atau itu bukti nyata bahwa &#8220;lini&#8221; ini dikuasai yahudi sepenuhnya.</p>
<p>Tapi itu yang disebut &#8220;Shechita?&#8221; itu apa mereka baca basmalah? maksudnya apa mereka menyebut nama tuhan yang sama dengan kita yaitu Allah SWT?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: E.hardjanto</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-629</link>
		<dc:creator>E.hardjanto</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 11:07:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-629</guid>
		<description>Jika kita bisa lebih jauh teliti dan meminta detail kehalalan makanan, nampaknya pilihan menu Kosher lebih aman, sesuai dengan fakta yang kang Ery sampaikan. Namun dalam fiqh hukum Islam juga ada kaidah yang tertulis sebagai berikut:

&#039;&#039;Nahnu nahkumu bizh-zhawahir wallahu watawallas-sarair&#039;&#039; 
(Kita menetapkan hukum berdasarkan apa yang nampak, sedangkan yang tidak nampak menjadi urusan Allah)

Dengan menjalankan kaidah ini, maka menjadi sebuah kemudahan kepada setiap muslim untuk memutuskan/meyakinkan bahwa sesuatu itu halal jika telah ditegaskan status kehalalannya oleh pihak penyedia makanan. Segala kesalahan/tipuan tentang status halal akan menjadi tanggung jawab si penyedia makanan terhadap Allah SWT. Ini kemudahan yang Allah berikan untuk kita, karena Islam mengenadaki kemudahan bukan kesulitan.

Jika kita ingin tetap extra hati-hati, bertanya detail tentang status kehalalan makanan, walaupun sudah ada sertifikat halal sepihak dari penyedia makanan, ini juga tidak dilarang bahkan bagus untuk melatih sikap kritis kita. Namun jika kita tidak mampu (terlalu repot) untuk terlalu detail menyelidiki/bertanya, kadiah fiqh di atas sudah memberikan jaminan kepada kita umat Islam untuk memutuskan apakah makanan layak atau tidak dimakan dengan hanya melihat fakta yang jelas terlihat saja (sertifikat halal). Wallahua&#039;lam bis-shawab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita bisa lebih jauh teliti dan meminta detail kehalalan makanan, nampaknya pilihan menu Kosher lebih aman, sesuai dengan fakta yang kang Ery sampaikan. Namun dalam fiqh hukum Islam juga ada kaidah yang tertulis sebagai berikut:</p>
<p>&#8221;Nahnu nahkumu bizh-zhawahir wallahu watawallas-sarair&#8221;<br />
(Kita menetapkan hukum berdasarkan apa yang nampak, sedangkan yang tidak nampak menjadi urusan Allah)</p>
<p>Dengan menjalankan kaidah ini, maka menjadi sebuah kemudahan kepada setiap muslim untuk memutuskan/meyakinkan bahwa sesuatu itu halal jika telah ditegaskan status kehalalannya oleh pihak penyedia makanan. Segala kesalahan/tipuan tentang status halal akan menjadi tanggung jawab si penyedia makanan terhadap Allah SWT. Ini kemudahan yang Allah berikan untuk kita, karena Islam mengenadaki kemudahan bukan kesulitan.</p>
<p>Jika kita ingin tetap extra hati-hati, bertanya detail tentang status kehalalan makanan, walaupun sudah ada sertifikat halal sepihak dari penyedia makanan, ini juga tidak dilarang bahkan bagus untuk melatih sikap kritis kita. Namun jika kita tidak mampu (terlalu repot) untuk terlalu detail menyelidiki/bertanya, kadiah fiqh di atas sudah memberikan jaminan kepada kita umat Islam untuk memutuskan apakah makanan layak atau tidak dimakan dengan hanya melihat fakta yang jelas terlihat saja (sertifikat halal). Wallahua&#8217;lam bis-shawab.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zalfany</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142/comment-page-1#comment-628</link>
		<dc:creator>Zalfany</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 21:44:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142#comment-628</guid>
		<description>Artikel yang bagus.

Kebetulan baru baca link berikut:
http://www.halaljournal.com/index.php?page=article&amp;act=show&amp;category=0&amp;pid=859

quoted:
&quot;Now known as LSG-Skychefs-Brahims Sdn Bhd (LSGB), the company forms part of an expansive global catering network in more than 48 countries serving 173 airports.&quot;

Apakah berarti &#039;network&#039; untuk makanan halal lebih sempit daripada untuk kosher?

NB. Pengalaman saya, sekali-kalinya pesan moslem meal yang ada label sertifikasi halal dari islamic centre (mirip seperti label kosher di foto atas) adalah waktu terbang dengan BA dari Heathrow.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel yang bagus.</p>
<p>Kebetulan baru baca link berikut:<br />
<a href="http://www.halaljournal.com/index.php?page=article&amp;act=show&amp;category=0&amp;pid=859" rel="nofollow">http://www.halaljournal.com/index.php?page=article&amp;act=show&amp;category=0&amp;pid=859</a></p>
<p>quoted:<br />
&#8220;Now known as LSG-Skychefs-Brahims Sdn Bhd (LSGB), the company forms part of an expansive global catering network in more than 48 countries serving 173 airports.&#8221;</p>
<p>Apakah berarti &#8216;network&#8217; untuk makanan halal lebih sempit daripada untuk kosher?</p>
<p>NB. Pengalaman saya, sekali-kalinya pesan moslem meal yang ada label sertifikasi halal dari islamic centre (mirip seperti label kosher di foto atas) adalah waktu terbang dengan BA dari Heathrow.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
