October 26th, 2008
# 7:52 am
10 comments
Makanan dalam penerbangan: pilih halal, vegetarian atau …?
Sebagai muslim, salah satu hal yang sangat penting diputuskan ketika melakukan penerbangan jarak jauh adalah makanan apa yang harus kita santap selama penerbangan. Idealnya tentu saja kita harus menyantap makanan halal. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Posting ini membahas beberapa pilihan yang bisa kita ambil, sekaligus membahas kenapa dalam beberapa penerbangan terakhir saya memilih makanan kosher.
Pilihan pertama: do nothing, makan apa yang disediakan. Pilihan ini tentu saja terbatas pada penerbangan yang mengklaim menyediakan makanan halal. Berikut petikan beberapa perusahaan penerbangan (dari situs masing-masing perusahaan).
Garuda Indonesia: ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE HALAL.
Malaysian Airlines: All food served on Malaysia Airlines is Halal.
Emirates: All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method.
Yang saya permasalahkan dalam setiap klaim seperti ini adalah:
- Tidak ada pihak ketiga yang memverifikasi klaim itu. Tanpa adanya verifikasi ini (misalnya dalam bentuk sertifikat halal) maka status klaim ini sama seperti “self-certified halal” yang juga banyak kita temukan dalam produk makanan lainnya. Saya pribadi cenderung menghindari produk-produk yang statusnya “self-certified halal“.
- Produk makanan yang konon halal itu tidak jelas apakah hanya main dish saja, atau juga termasuk side dishes. Yang jelas klaim “semua makanan” di situ tidak termasuk minuman, karena semua penerbangan itu menyajikan minuman beralkohol. Pengalaman saya pribadi dengan Garuda, ketika Garuda masih terbang ke Belanda, membuktikan hal ini. Ketika pramugarinya bersikeras bahwa makanannya halal, ternyata makanan itu juga menyajikan keju produk Belanda, yang kami sendiri selama tinggal di Belanda tidak pernah memakan merk itu.
- Tidak adanya verifikasi ini semakin membuat kita bertanya-tanya bila pesawat berangkat dari tempat-tempat di mana makanan halal tidak selalu tersedia. Apakah perusahaan penerbangan itu sudah memiliki kerja sama dengan katering lokal di semua tujuan penerbangannya? Apakah pesawat yang terbang dari tempat-tempat tersebut membawa persediaan makanan untuk penerbangan kembalinya? Tidak ada kejelasan di sini.
Saya tidak merekomendasikan pilihan pertama ini. Kalaupun anda ingin melakukannya, lakukan dengan sangat selektif. Misalnya, ketika terbang dengan Malaysian dari Kuala Lumpur, karena kateringnya kemungkinan besar sudah bersertifikasi halal. Tapi apakah anda akan melakukannya untuk penerbangan dari, misalnya, Finlandia? I do not think so.
Pilihan kedua: minta makanan muslim – kodenya MOML (moslem meal). Pilihan ini biasanya tersedia di hampir semua perusahaan penerbangan, tapi pilihan ini tergolong sebagai special meals, yang harus dimasukkan ke dalam data reservasi pada saat pemesanan, atau minimal 24 jam sebelum keberangkatan. Kebanyakan airline malah mewajibkan minimal tiga hari sebelumnya.
Problem solved? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekali lagi, mari kita lihat apa yang dimaksud dengan MOML dari berbagai perusahaan penerbangan (juga dari situs web masing-masing perusahaan).
Garuda Indonesia: MOML – Meal doesn’t contain pork, by product of pork or foodstuff containing alcohols. All meat product such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Moslem rites. ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE HALAL.
Malaysian Airlines: MOML – All food served on Malaysia Airlines is Halal. Alcohol is forbidden; and the use of alcohol in cooking is prohibited. Meat such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Muslim rites. Pork or pig products are forbidden.
Emirates: MOML – All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method. This meal type can only be ordered for passengers routed on other airlines. It contains one or more of these ingredients: lamb, chicken, fish, eggs, vegetables, fruit and dairy products. It does NOT contain pork, alcohol, or non-Halal prepared meats.
Singapore Airlines: MOML – No alcohol/pork/ham/bacon.
United Airlines: Muslim meals – Below are the guidelines United follows when preparing Muslim meals. Prohibited: Pork, sausages, alcohol, eel, animal fats. Allowed: Fresh fruits and vegetables, yogurt, nuts, rice, corn, pasta, eggs, herbs and spices, cheese and dairy products, dried beans and peas. If locally available, poultry is slaughtered according to the specified Halal methods.
Perhatikan dalam definisi Singapore Airlines, tidak disebutkan syarat bahwa daging harus disembelih sesuai ajaran Islam. Dalam definisi United Airlines, daging dzabiha hanya akan disediakan bila “locally available“.
Berdasarkan pengamatan saya setelah beberapa kali terbang dengan meminta MOML, keberatan saya adalah:
- Yang diberikan sebagai MOML hanyalah main dish, sedangkan side dishes persis sama dengan penumpang yang lain.
- Lagi-lagi, tidak ada jaminan bahwa yang diberikan kepada kita itu memang benar makanan halal. Apalagi dengan status kondisional a la United di atas, kita tidak tahu apakah pada saat tersebut United punya supplier halal (sehingga makanan yang diberikan adalah halal), ataukah pada saat itu tidak ada supplier halal (sehingga makanan itu sebenarnya tidak halal). Kalaupun kita tanyakan pada cabin crew, mereka sama sekali tidak tahu karena urusan katering kan ditangani oleh ground staff.
Pilihan ketiga: memesan makanan vegetarian. Saya tidak akan berpanjang lebar dalam kategori ini. Intinya, apa yang terjadi pada pilihan kedua di atas juga terjadi pada pilihan ini. Hanya saja memang makanan vegetarian ini akan dipandang lebih tidak aneh dibandingkan dengan makanan muslim, sehingga kemungkinan kita mendapatkan makanan yang betul-betul vegetarian lebih besar ketimbang makanan muslim. Keberatan saya dengan pilihan ini persis sama dengan keberatan saya dengan pilihan kedua di atas.
Pilihan keempat: memesan makanan kosher. Inilah pilihan yang saya ambil dalam beberapa penerbangan terakhir dari Amerika. Berikut apa yang mereka sebutkan dalam situs web masing-masing.
Malaysian Airlines: KSML – These meals must conform to Jewish religious laws. It is important that these rules are strictly adhered to. Pigs, rabbits and their products are forbidden. Animals and poultry such as cows and chicken must be slaughtered in a special manner called Shechita. Processed foods must be prepared under rabbinical supervision. Milk and milk products are not be used in the preparation of meat meals or served with or immediately after meals.
Singapore Airlines: Kosher Meal: Pre-packed and sealed; contains meat.
Garuda Indonesia: KSML - These meals are prepared to comply to the Jewish Religious Laws.
Emirates: There is no option for this.
United Airlines: Kosher Meal – We purchase all kosher meals from a certified kosher vendor. They are prepared under rabbinical supervision and wrapped and sealed accordingly. During Passover we serve only kosher for Passover meals to customers who request kosher meals. United is working closely with Heart Smart Restaurants International to develop healthier choices for our kosher customers. Prohibited: Pork, sausages, cured meats, shellfish, rabbit meat. Allowed: Poultry, beef, lamb, liver, sweetbreads, eggs, cheese and dairy products, flour ingredient products, fresh fruits and vegetables, sugars and preservatives, potatoes, rice, herring and fish with scales.
***
Karena itu di penerbangan yang lalu dari Amerika, kami sekeluarga memesan makanan kosher. Ternyata memang sangat terjaga kualitasnya. Seperti tertulis di foto di bawah ini:
- Makanannya dibungkus dua lapis dan disegel.
- Hanya penumpang yang boleh membuka segelnya, dan kemudian diserahkan lagi ke pramugari untuk dipanaskan.
- Bahkan alat makannya pun (sendok, garpu dan pisau) disediakan di dalam kemasan yang disegel itu (emangnya ada alat makan yang kosher?)
- Tidak boleh ditambahkan makanan lain selain yang di dalam kemasan bersegel.
Dalam penerbangan dari Portland ke Tokyo, makannya disediakan oleh vendor dari New York. Di kemasannya jelas tertulis bahwa makanan itu sudah disertifikasi sebagai makanan kosher. For whatever reason, dalam penerbangan sambungan dari Tokyo ke Singapura, makanannya disediakan oleh vendor dari Antwerp, Belgia. Waah, jauh benar makanan ini terbang untuk disajikan di Tokyo.
Di foto berikut terlihat makanan yang masih dalam kemasan bersegel. Makanan yang perlu dipanaskan disediakan terpisah, dan memang saya sendiri (penumpang) yang membuka segel kemasannya. Nampan plastik itupun, sekalipun ada tutupnya, juga dibungkus plastik rapat dan bersegel.
Salah satu kekhawatiran yang masih tersisa dalam memilih makanan kosher adalah masih adanya kemungkinan disajikannya alkohol. Memang ada beberapa mazhab kosher yang membolehkan dipakainya minuman beralkohol (seperti wine, rhum, dll) dalam makanan. Tapi ini tetap bisa dijaga, karena dalam kemasannya pun disertakan daftar kandungan makanan, seperti terlihat di foto di bawah ini.
Dan akhirnya, makannya lengkap tersaji seperti di bawah ini. Cukup yummi.





This entry receives 10 comments.
Artikel yang bagus.
Kebetulan baru baca link berikut:
http://www.halaljournal.com/index.php?page=article&act=show&category=0&pid=859
quoted:
“Now known as LSG-Skychefs-Brahims Sdn Bhd (LSGB), the company forms part of an expansive global catering network in more than 48 countries serving 173 airports.”
Apakah berarti ‘network’ untuk makanan halal lebih sempit daripada untuk kosher?
NB. Pengalaman saya, sekali-kalinya pesan moslem meal yang ada label sertifikasi halal dari islamic centre (mirip seperti label kosher di foto atas) adalah waktu terbang dengan BA dari Heathrow.
Oct 26, 2008 at 2:44 pm
Jika kita bisa lebih jauh teliti dan meminta detail kehalalan makanan, nampaknya pilihan menu Kosher lebih aman, sesuai dengan fakta yang kang Ery sampaikan. Namun dalam fiqh hukum Islam juga ada kaidah yang tertulis sebagai berikut:
”Nahnu nahkumu bizh-zhawahir wallahu watawallas-sarair”
(Kita menetapkan hukum berdasarkan apa yang nampak, sedangkan yang tidak nampak menjadi urusan Allah)
Dengan menjalankan kaidah ini, maka menjadi sebuah kemudahan kepada setiap muslim untuk memutuskan/meyakinkan bahwa sesuatu itu halal jika telah ditegaskan status kehalalannya oleh pihak penyedia makanan. Segala kesalahan/tipuan tentang status halal akan menjadi tanggung jawab si penyedia makanan terhadap Allah SWT. Ini kemudahan yang Allah berikan untuk kita, karena Islam mengenadaki kemudahan bukan kesulitan.
Jika kita ingin tetap extra hati-hati, bertanya detail tentang status kehalalan makanan, walaupun sudah ada sertifikat halal sepihak dari penyedia makanan, ini juga tidak dilarang bahkan bagus untuk melatih sikap kritis kita. Namun jika kita tidak mampu (terlalu repot) untuk terlalu detail menyelidiki/bertanya, kadiah fiqh di atas sudah memberikan jaminan kepada kita umat Islam untuk memutuskan apakah makanan layak atau tidak dimakan dengan hanya melihat fakta yang jelas terlihat saja (sertifikat halal). Wallahua’lam bis-shawab.
Oct 27, 2008 at 4:07 am
Jadi inget ada yang menulis cerita ringan seputar pemesanan meal di pesawat. Dia memesan halal food, dan yang dia dapat sepanjang perjalanan adalah kari. Padahal perjalanannya panjang dan dia tidak bisa minta ganti makanan lain!
Jadi kesimpulannya halal food tidak well prepared seperti kosher food(penyedianya kurang siap atau kurang sigap lihat peluang?), tidak populer? atau itu bukti nyata bahwa “lini” ini dikuasai yahudi sepenuhnya.
Tapi itu yang disebut “Shechita?” itu apa mereka baca basmalah? maksudnya apa mereka menyebut nama tuhan yang sama dengan kita yaitu Allah SWT?
Nov 1, 2008 at 8:07 am
Terima kasih. Tulisannya sangat bermanfaat.
Sekedar ingin share pengalaman:
Alhamdulillah, selama lebih dari 6 tahun di US, kami sekeluarga mempraktekkan
secara ketat makan hanya halal food atau kosher food.
Ternyata tidak sesulit yang disangka. Apalagi tanda kosher food,
seperti makanan yang berlabel U, K, UD, dan KD banyak tersedia di
supermarket. Halal food banyak tersedia di local masjid.
Memang lebih mahal, tapi pengalaman menunjukkan, meskipun
dana kami pas-pasan, kami tidak pernah kekurangan makanan
Nov 5, 2008 at 8:33 pm
bagaimana cara seorang jewish menyebelih hewan? apakah sesuai jg dgn ajaran islam?
Nov 27, 2008 at 8:46 pm
@Rina dan @uchy
Makanan kosher itu diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh muslim BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal, tapi karena makanan itu memenuhi kriteria kosher. Prinsip ini adalah keringanan yang diberikan oleh Allah justru ketika alternatif makanan halal tidak ada.
Karena itu, berusaha mencocok-cocokkan prinsip kosher dengan prinsip halal adalah justru mengurangi prinsip kemudahan yang disediakan oleh AlQuran di atas. Kalau ada makanan halal, maka saya tentu saja dengan senang hati akan memesan makanan halal itu. Masalah ini kan justru timbul karena tidak ada makanan yang terjamin halal.
Ketika tidak ada makanan yang terjamin halal, saya memilih makanan yang terjamin kosher.
Di AlQuran kan disebutkan bahwa makanan ahli kitab itu boleh kita makan. Yang masih punya standar baku adalah Yahudi, sedangkan Kristen sudah tidak punya lagi. Standar baku itu dalam aturan Yahudi disebut kosher. Merujuk kepada AlQuran tadi, makanan kosher itu boleh dimakan karena makanan itu kosher, BUKAN karena makanan itu memenuhi kriteria halal.
Jadi tidak perlulah kita berusaha mencocok-cocokkan kriteria kosher dengan kriteria halal, seperti mempertanyakan cara orang Yahudi menyembelih hewan. Justru mempersulit kemudahan yang sudah diberikan oleh Allah. Memang nggak akan ketemu karena memang aturannya berbeda. Selama mereka (orang Yahudi) menyatakan bahwa ini kosher, maka makanan itu boleh kita makan.
Kalau aturannya sama (antara kosher dan halal), maka logikanya tidak perlu ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan kosher. Justru
karena aturannya berbeda maka ada ayat yang membolehkan kita memakan makanan itu.
Dec 2, 2008 at 7:55 am
Assalamu’alaykum Wr Wb,
Mas Ery yang budiman dan segenap ikhwan wal akhwat fiLlah, semoga antum dan keluarga senantiasa berada dalam lindungan dan bimbinganNya. Semoga juga antum sekeluarga selalu berada dalam keadaan sehat wal’afiyat.
Alhamdulillah, memang benar adanya bahwa sekarang ini keberadaan makanan halal ataupun daging sembelihan yang “zabiha” sudah semakin lazim ditemui di North America, utamanya di kota2 besar.
Hanya ingin sedikit sharing apa2 yang sempat saya temui mengenai panganan “kosher”:
- Dalam ajaran yahudi, hewan tidak disembelih dengan menyebut nama Allah (atau sebutan mereka untuk Allah), karena dianggap “wasting” the Holy Name. Berarti daging hasil sembelihan tersebut, walaupun dilabel “Kosher”, adalah… (silakan simpulkan sendiri)
- Dalam ajaran yahudi, khamr (alkohol) sah2 saja untuk dikonsumsi. Sehingga bahan panganan yang mengandung wine ataupun kerabat nya sangat mungkin masih mendapat label “Kosher.” Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?
- Dalam ajaran yahudi, Gelatin, terlepas dari sumber hewan asal nya, sah2 saja untuk dilabel “Kosher” karena dianggap bukan daging hewan, melainkan produk turunan. Berdasar hal ini, produk2 yang mengandung Gelatin babi pun masih memungkinkan untuk dilabel “Kosher.” Apakah panganan yang sama masih layak dikonsumsi seorang muslim?
Allahu ‘alim.
Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ulasan di atas masih penuh kekurangan.
Sumber2 referensi (mudah2an masih ingat, berhubung sudah lama sekali):
- http://www.sunnipath.com
- http://www.torontomuslims.com
- http://www.islam.ca
- Google search: “kosher vs zabiha”, “is kosher halal?”, “kosher”
Wassalam
-Abu Rayyan-
Dec 3, 2008 at 9:36 am
Meski tidak 100% memenuhi kriteria \”halal\” dalam Islam, proses penyembelihan dan pembersihan daging kosher sangat mirip dengan Islam. Selain itu, babi dilarang dalam agama Yahudi (dan aslinya, dalam agama Kristen juga). Yang agak menyangsikan adalah kemungkinan mereka memasukkan kandungan arak (wine), karena arak diperbolehkan dalam agama Yahudi (entah aslinya dalam Taurat).
Aliran yahudi ortodoks mayoritas mengikuti prinsip keimanan yahudi yg. dirumuskan oleh Moses ben Maimonides (Musa bin Maimun, seorang yahudi yg. belajar di Universitas Qordoba di abad 10-11 zaman kekhalifahan Islam Spanyol). Salah satu prinsipnya adalah keimanan thp. keesaan Tuhan, dan sifat2 ketuhanan lainnya yg. sama dengan Islam. Inilah ajaran ahlul kitab yg. benar. Sementara itu, penentuan apakah makanan itu kosher atau tidak mengikuti ajaran yahudi orthodok pula. Jadi dapat diartikan, kosher adalah pilihan tepat jika tidak ada makanan halal.
Dalam beberapa hal, kosher bahkan lebih \’cerewet\’.
Ref:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kosher
Raphael Patai, \”Jewish Mind\” [http://www.amazon.com/Jewish-Mind-Raphael-Patai/dp/081432651X]
Dec 3, 2008 at 1:20 pm
Assalamu’alaykum Wr Wb.,
Harapan saya semoga posting ini menjumpai segenap ikhwan wal akhwat sekalian dalam keadaan keimanan yang senantiasa meningkat.
JazakaLlahu khayran kepada akh Lutfi atas response nya yang berharga.
Akh Lutfi benar sekali, bahwa di beberapa aspek memang persyaratan “kosher” lebih “cerewet” dibandingkan dengan persyaratan “zabiha.”
Lebih dari itu juga, Akh Lutfi juga benar dan saya sangat sepakat dengan antum bahwa di kala panganan zabiha/halal tidak tersedia, pilihan panganan kosher tentunya lebih layak dipilih dibanding alternatif lainnya.
Hanya saja, mengingat fakta bahwa badan sertifikasi “kosher” tidaklah terbatas hanya diselenggarkan oleh kaum yahudi ortodoks, melainkan juga oleh kalangan kontemporer/liberal mereka, maka patut juga diwaspadai manakala kita menemukan panganan kosher yang di ingredients/komposisi nya mengandung khamr/wine, ataupun gelatin, walaupun yang belakangan ini dilabel sebagai “kosher gelatin.” Contoh panganan kosher yang paling lazim dijumpai mengandung kosher gelatin adalah yogurt yang banyak dijual di supermarket-supermarket di Amerika utara. Karena, sebagaimana pernah diulas sebelumnya, gelatin dianggap sebagai “byproduct”, sebagai substansi terpisah, sehingga walaupun berasal dari babi, tetap dapat dilabel kosher. Dengan kata lain, berbeda dengan ajaran Islam yang men-consider asal muasal suatu panganan, dalam hukum kosher, gelatin yang walaupun berasal dari babi, tidak tercakup dalam hukum larangan pengkonsumsian daging babi. Alasannya cukup sederhana: gelatin bukanlah daging.
Selain itu, patut juga diwaspadai daging “kosher”, baik dalam ajaran Yahudi ortodoks maupun kontemporer/liberal, penyembelihan hewannya tidak dilakukan dengan menyebut asma Allah. Terlepas dari penyembelihnya apakah dia seorang yang ber-tauhid (yahudi) atau bukan, dari fakta ini secara pribadi saya tidak melihat bedanya daging kosher dengan daging bangkai.
Allahu ‘alim.
Mudah2an bermanfaat, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.
Wassalam
-Abu Rayyan-
Dec 3, 2008 at 8:14 pm
Sesuatu Yang Haram atau Halal bukan yang masuk ke dalam mulut, tp apa yang keluar dari mulut kita… So, freedom speaking, I enjoy my Tony Roma’s spare baby ribs and Cabernet Sauvignon Vin, sambil menjaga hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Inget AA Gym, Jagalah hati jgn kau kotori… Again, freedom speaking ni, AA ngmgnya hati lo bukan mulut/perut. Thank you.
Mar 2, 2009 at 3:59 pm
Your feedback, please...