September 7th, 2001
# 4:25 pm
No comments
Kompetensi
Apa salahnya kalau mahasiswa giat berekstra kurikuler dengan berbagai aktivitasnya? Lebih spesifik lagi, apa salahnya mahasiswa sibuk berpengajian, mendalami kajian-kajian keagamaan?
Bukankah pada akhirnya mahasiswa akan diharapkan untuk “terjun ke masyarakat� (whatever it means)? Dan bukankah berbagai kegiatan ekstra kurikuler itu sedikit banyak menempa “bagian lain� dari aspek pembelajaran yang dilalui oleh sang mahasiswa?
Apalagi kalau kita berbicara pengajian, yang selalu berbicara akhlak. Kajian-kajian keagamaan ini akan membentuk sikap (attitude) yang akan berguna dalam hubungan sosial di masyarakat. Betapa kita sangat memimpikan kehadiran seorang Baharuddin Lopa yang lain, seorang pemimpin yang punya sikap.
Ada keinginan yang kuat dalam diri saya untuk membela pola pikir seperti itu, karena masa lalu saya ketika kuliah di ITB mahasiswa saya pun mengalami kehidupan yang sangat memberatkan kegiatan ekstra kurikuler. Istilahnya waktu itu, kami ini mahasiwa Salman, sambil ber-ekstra kurikuler di ITB.
Tetapi ada kegelisahan setiap kali saya ingin meyakinkan diri saya bahwa memang begitulah seharusnya kehidupan mahasiswa. Kegelisahan yang makin lama makin meruncing.
***
Pernah dengar nama Eric S. Raymond? Mungkin belum pernah. Tapi kalau anda menelusuri mesin pencari di internet, dan mencari kata “hacker�, kemungkinan besar anda akan mendapatkan namanya terpampang di layar monitor.
Kegemaran mengutak-utik mesin linux membawa saya untuk mendalami lebih jauh berbagai aspek pemrograman dalam linux. Ternyata, ada banyak aspek di dalamnya dan bukan hanya aspek teknik pemrograman saja. Termasuk di dalamnya adalah aspek budaya, ya itu tadi, budaya hacker.
Untuk menjadi hacker, caranya sangat simple. Mengutip puisi Zen, Eric mengatakan:
To follow the path:
look to the master,
follow the master,
walk with the master,
see through the master,
become the master.
Lebih jauh dia mengatakan:
“There is a community, a shared culture, of expert programmers and networking wizards that traces its history back through decades to the first time-sharing minicomputers and the earliest ARPAnet experiments. The members of this culture originated the term `hacker’. Hackers built the Internet. Hackers made the Unix operating system what it is today. Hackers run Usenet. Hackers make the World Wide Web work. If you are part of this culture, if you have contributed to it and other people in it know who you are and call you a hacker, you’re a hacker.â€?
Ada budaya. Budaya yang didasarkan kepada kecintaan untuk mengutak-utik masalah, mendalaminya. Budaya yang dibangun dengan kerja keras untuk menemukan pemecahan masalah itu. Budaya dijalin dengan kemauan untuk berbagi setiap hasil yang kita peroleh kepada orang lain agar orang lain tidak perlu mengulangi apa yang kita lakukan. Budaya yang dikukuhkan dengan mengakui hasil kerja orang lain.
Dan budaya ini tidak terbatas dalam lingkungan ilmu komputer. Kita bisa menemukannya di dalam setiap aspek kehidupan sebetulnya.
Ada sikap yang menjadi benang merah budaya ini. Sikap yang harus dimiliki oleh setiap individu yang ingin disebut hacker. Meniru sikap-sikap ini adalah mudah dilakukan oleh siapa saja. Tapi kata Eric:
“Attitude is no substitute for competence!�
Lebih jauh dia mengatakan:
“To be a hacker, you have to develop some of these attitudes. But copping an attitude alone won’t make you a hacker, any more than it will make you a champion athlete or a rock star. Becoming a hacker will take intelligence, practice, dedication, and hard work.â€?
***
Ada semacam tradisi di Fakultas Arsitektur dan Bangunan di Universitas Teknik Eindhoven, bahwa setiap staf asing yang baru datang diminta untuk memberikan pengalamannya dalam satu kuliah tamu selama dua jam. Satu kuliah untuk mahasiswa baru berjudul “Building in Foreign Countries�, biasanya setiap tahun ada empat atau lima negara.
Mengikuti tradisi itu, saya diminta untuk berbagi “pengalaman� penelitian yang pernah saya lakukan di bidang ilmu bangunan (building science). Setelah dipikir-pikir, jadilah saya berjanji untuk memberikan kuliah itu, hitung-hitung mencoba membuat ringkasan dari apa yang sudah saya lakukan selama hampir empat tahun di Singapura. Jadi, saya kebagian jatah untuk memberi kuliah “Building in Singapore: Experience with Indoor Air Quality�.
Saya kira semuanya akan lancar-lancar saja. Tapi masya Allah. Betapa susahnya menuliskan sesuatu untuk diceramahkan selama dua jam, di bidang yang secara keilmuan sudah saya tekuni selama hampir empat tahun. [Kalau orang lain mah, empat tahun sudah jadi tesis doktor, saya bikin makalah saja susahnya bukan main.]
Apa yang saya tekuni selama empat tahun seolah hanya fatamorgana, menguap entah ke mana ketika akan ditulis. Hampir setiap paragraf yang saya tulis perlu dicocokkan dengan buku atau catatan yang pernah saya buat. Kalau hanya mencocokkan referensi (judul buku atau nama pengarangnya) saja sih kayaknya memang perlu, tapi ini bahkan sampai ke isi-isinya.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah ini berarti saya kurang kompeten?
Memang benar, melakukan penelitian itu berbeda dengan menuliskan hasil penelitian. Walaupun menulis ringkasan itu lebih ringan daripada menulis hasil penelitian, tetap saja penulisan memberikan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan penelitiannya sendiri.
Tapi lepas dari faktor kesulitan dalam penulisan, hanya sampai di situkah kompetensi saya di bidang ini?
[Terus terang, kalau saya disuruh berkhutbah selama dua jam persiapannya akan “less bloody� dibandingkan dengan persiapan untuk kuliah ini.]
***
Pikiran saya kembali melayang kepada kehidupan “masa muda� saya di masa kuliah di ITB. Yaah, berandai-andai begitu, kalau misalnya saya benar-benar “kuliah di ITB, dan ekstra-kurikuler di Salman�, dan bukan sebaliknya, apakah kompetensi saya di bidang ilmu bangunan akan lebih baik?
Timbul pembelaan dalam diri saya, bahwa pengalaman yang saya ceritakan itu toh bukan pengalaman dari Bandung, tapi dari Singapura. Dan bukankah selama di Singapura tidak banyak kegiatan yang saya lakukan kecuali penelitian?
Anyway, ada dua poin yang perlu kita perhatikan. Pertama, bagaimana membuat keseimbangan baru dalam kehidupan mahasiswa antara ekstra kurikuler dengan kompetensi keilmuan. Atau lebih spesifik lagi antara ngaji dengan sekolah.
Saya ingat kawan saya Izul pernah memberikan tutorial kepada kami dalam persiapan ujian mata kuliah “Matriks dan Ruang Vektor�, di sela-sela acara pengajian kami. Tapi that’s it, tidak ada yang lebih dari “sekadar� persiapan ujian.
Padahal di Singapura, saya mendiskusikan artikel jurnal dengan mahasiswa “undergrad� yang mengerjakan disertasi di bawah bimbingan supervisor saya saya. Sambil makan siang, lay-out dari artikel itu bisa diselesaikan. Semoga sekarang ini ada perubahan di ITB, tapi semasa saya kuliah, boro-boro artikel jurnal, artikel untuk konferensi lokal pun tidak dibuka peluangnya untuk mahasiswa. [atau saya yang tidak “masuk hitungan� ketika itu?].
Dan yang lebih parah menurut saya. Tidak ada inisiatif dari pihak “pengajian� (dalam kasus saya, Salman) untuk menggalakkan budaya kompetensi ini. Di Salman hanya ada satu unit, Pustena, yang bergerak di bidang teknologi. Ke unit-unit kegiatan yang lain belum pernah saya dengar adanya gelagat untuk membangun kompetensi keilmuan.
Saya pikir sudah saatnya Salman (atau institusi manapun yang mengelola “pengajian�) untuk membangun sistem untuk ini. Bagaimana agar para aktivis ini bisa mempunya core-competence, sebisa mungkin dalam bidang keilmuan yang ditekuni di sekolahnya. Kalau nggak bisa, yaah pokoknya core-competence, jangan sampai alumni Salman “hanya� bisa ngaji.
Yang kedua adalah menggalakkan budaya menuliskan hasil kerja kita, di bidang apapun yang kita pilih menjadi core-comptence kita. Ini adalah bagian dari budaya hacker untuk berbagi ilmu kepada siapapun. Banyak hal yang bisa diraih dari kebiasaan ini. Pertama, kita punya catatan lengkap mengenai penelitian kita. Kedua, kita jadi trampil menulis. Dan ketiga, ilmu kita jadi “ilmu yang bermanfaat� yang menjadi sumber pahala yang tak pernah kering.
Menulis dan menerbitkan adalah dua sisi mata uang.Budaya “publish or perish� perlu kita galakkan bersama. Kalau bisa, kita terbitkan di jurnal ilmiah. BTW, ini harus jadi target pertama. Target kedua adalah ke konferensi internasional yang diadakan oleh internatioal society di core-competence yang kita pilih. Prioritas berikutnya adalah di konferensi nasional ataupun lokal.
Kalau itupun tidak bisa, yaaah, kita kan punya internet sekarang ini. Terbitkan di website, atau lebih mudah lagi, kirimkan ke mailing list.
By all means, publish!! Peer review adalah salah satu cara untuk membangun core-competence.
***
Tadi koordinator kuliah datang ke ruangan saya, tepat di saat saya sedang menelepon dia. Rupanya diapun sudah cukup nervous kenapa saya belum menyerahkan hand-out untuk kuliah minggu depan.
Alhamdulillah, hand-out itu bisa selesai dengan hasil yang lebih dari yang saya harapkan, (dengan resiko harus bertungkus lumus, memang). Setidaknya tulisan ini adalah bonus dari berbagai pergulatan pemikiran yang timbul dalam penulisan hand-out itu.
Eindhoven 07.09.2001
[dari catatan pribadi yang masih cukup jarang ditulis, tapi sekali ditulis panjang-panjang]
Your feedback, please...