November 14th, 2002
# 6:21 pm
No comments
Kabar Ramadan dari Eindhoven
Ik ben Ramadan
Catatan kecil persiapan Ramadhan untuk anak-anak di Belanda
“Ayah, apa bahasa Belandanya puasa?”, tanya Hanif, anak kami yang tertua. Pertanyaan sederhana itu menyentakkan kami karena pertama saya dan istri saya tidak tahu apa jawabannya. Kemampuan berbahasa Belanda kami memang jelek, karena di Eindhoven ini kita masih bisa hidup nyaman hanya dengan berbahasa Inggris, jadi tidak ada dorongan untuk berbahasa Belanda. Parahnya lagi, ternyata kamus Inggris Belanda kami tidak punya entri untuk istilah ini. Sebab kedua, yang lebih penting, adalah bahwa ternyata anak-anak memerlukan persiapan mental untuk berpuasa di dalam lingkungan yang tidak mengenal Islam.
Pertanyaan sederhana itu menyampaikan kegamangan seorang anak ketika menempatkan dirinya dalam posisi terasing (tidak makan sementara semua kawan-kawannya makan), suatu kegamangan yang sulit untuk bisa dirasakan oleh orang tua yang dulunya dibesarkan di lingkungan mayoritas muslim. Kegamangan yang kalau tidak segera diberi pijakan yang kuat akan semakin menggoyahkan keinginannya untuk berpuasa.
Lama juga kami berdiskusi tentang masalah bahasa ini. Hanif agak kecewa ketika diberi tahu bahwa kami tidak tahu apa bahasa Belandanya puasa. Istri saya menceritakan pengalamannya ketika menjelaskan tentang puasa (dalam bahasa Inggris) kepada orang Belanda. Ternyata orang tersebut tidak tahu apa itu fasting. Tapi setelah mencoba menjelaskan beberapa lama, baru orang tersebut berseru Aaah, you will Ramadan?.
Berdasarkan pengalaman itu, kami mengatakan kepada Hanif, bagaimana kalau Hanif bilang “Ik ben Ramadan“. Dia melihat kepada saya dengan pandangan meremehkan seolah berkata, “bagaimana mungkin Hanif mau bilang kalimat seperti itu”. Secara letterlijk kalimat itu berarti “Saya adalah Ramadan”.
Akhirnya, dia membuat kalimatnya sendiri “Ik heb geen eten en drinken” (Saya tidak makan dan minum). Saya sendiri merasa tata bahasa kalimat itu tidak tepat, tapi kalimat itulah yang dia katakan kepada Juffrouw (panggilan untuk ibu guru), hari Rabu 1 Ramadhan yang lalu.
Setengah berteriak dia menyebut kalimat itu dengan tegas. Sang Juffrouw terkaget-kaget mendapat serangan seperti itu hanya bisa mengangguk-angguk, sambil kemudian bertanya kepada saya. Hanif langsung duduk dengan senyum penuh kebanggaan, seolah kegamangannya selama ini sirna dengan ucapan kalimat yang dipilihnya sendiri.
****
Saya jelaskanlah, dalam bahasa Inggris, bahwa hari tersebut adalah awal Ramadan dan kami mulai berpuasa. Hanif juga berpuasa, tapi masih latihan. Kalau dia mau, dia boleh makan siang, tapi dia tidak ikut makan ketika istirahat pagi. Di waktu istirahat pagi, untuk kelas rendah, masih diadakan acara makan bersama.
“Minum juga tidak boleh?”, tanya sang Juffrow.
Dalam hati saya berkata, “Kok masih tanya?” sambil tersenyum dan berkata, “Benar, minum juga tidak boleh.” Ternyata pertanyaan sang Juffrow itu serius, tidak main-main.
Saya baru sadar ketika menemukan kata puasa dalam bahasa Belanda: vasten. Dalam kamus lain yang saya temukan disebutkan vasten (bahasa Belanda) adalah Lent (bahasa Inggris). Pencarian saya kemudian menemukan bahwa Lent itu adalah ajaran Kristen yang mengajarkan berpuasa 40 hari menjelang paskah. Aturannya puasanya secara umum adalah “satu kali makan selama sehari, di selingi dua makan ringan”. Di antara ketiga makan yang diijinkan itu tidak diijinkan makan makanan padat, artinya boleh minum.
Dan inilah yang dipahami sebagai puasa oleh sang Juffrouw. Sangatlah mengherankan melihat kenyataan betapa banyak ajaran Islam yang dipahami tidak dalam perpektif Islam.
***
Akan lebih mudah barangkali kalau kami tinggal di kawasan yang mayoritas imigran. Fayez, kawan sekantor saya orang Syiria yang sudah menjadi warga negera Belanda, mengatakan bahwa di kelas anaknya yang kelas 4 SD ada 14 muslim dari 20 murid. Dan semuanya alhamdulillah berpuasa. Jadi tidak ada peer-pressure (tekanan dari kawan-kawan) untuk tidak berpuasa.
Bandingkan dengan Hanif yang hanya punya 1 kawan muslim, itupun belum mulai berpuasa. Perlu persiapan mental yang luar biasa bagi seorang anak untuk tampil dan mengatakan kepada lingkungannya, “Saya berbeda�, sambil terus ikut terlibat dalam pergaulan.
Kesadaran untuk memilih dan penanaman identitas secara dini. Kedua hal inilah yang menjadi perbedaan dalam mempersiapkan anak berpuasa antara keadaan di tanah air dan di luar negeri di mana muslim menjadi minoritas.
Di tanah air, lingkungan begitu mendukung proses ini. Peer-pressure di antara anak-anak bahkan mengarahkan sang anak untuk berpuasa. Sementara di luar negeri, keadaanya berbalik. Sang anak harus menemukan kesadaran dan kekuatan sendiri untuk bertahan tidak makan dan minum selama sekolah. Sisi positifnya, ada penanaman identitas sejak dini. Pernyataan “kita berbeda� ini sangatlah diperlukan agar orang lain bisa mengenal dan menghargai perbedaan itu.
Banyak imigran muslim (termasuk dari Indonesia) cenderung melupakan perbedaan ini, dan menyamakan perilakunya dengan orang Belanda, bahkan “lebih Belanda dari orang Belanda”. Akibatnya, orang-orang Belanda tidak mengenal bagaimana kehidupan seorang muslim.
Padahal ketika kita katakan bahwa “kita berbeda” dan menjelaskan perbedaan itu, mereka akan mengerti dan membiarkan kita melakukan apapun yang kita perlukan. “Saya tidak akan tanya-tanya lagi”, kata seorang kolega setelah saya jelaskan mengapa saya tidak ikut makan siang.
Atau, seperti kata sang Juffrouw, mereka akan bilang “we understand”.
Your feedback, please...