Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kenyamanan dalam sekarat

Kenyamanan dalam sekarat

Anda tahu talkin, kan? Talkin itu adalah upaya mengingatkan orang (muslim) yang sedang sekarat untuk mengingat Allah yang Satu. Karena itulah kita sering melihat kaum kerabat, sanak saudara, bahkan perawat yang tak kenal, membisikkan kata-kata peringatan itu ke telinga orang yang sedang menghadapi maut.

Pernahkah anda membayangkan bahwa akan ada seseorang yang beragama lain akan bersedia membisikkan kata-kata itu ke telinga seorang muslim yang sedang sekarat? Itulah yang pernah terjadi di kota Twin Falls, Idaho, Amerika Serikat.

Kisah itu, dan juga kisah-kisah lainnya, terungkap ketika kami mempersiapkan pelatihan bagi Chaplain yang bekerja di rumah sakit di Boise. Pelatihan tentang kematian dalam Islam, dan bagaimana seharusnya seorang muslim menghadapi kematian.

***

Di setiap rumah sakit di Amerika biasanya ada seorang Chaplain, seorang rohaniwan, yang akan memberikan bimbingan spiritual kepada pasien dan keluarganya, terutama kepada mereka yang tengah menghadapi kematian. Kebanyakan dari mereka tentu saja beragama Kristen, sebagian lagi ada yang beragama Yahudi.

Di Boise, Idaho, seperti juga di banyak kota lainnya di Amerika, tidak banyak kita dapati Chaplain yang memahami bagaimana konsep Islam tentang kematian, dan bagaimana seharusnya seorang muslim menghadapi ajalnya. Sebuah rumah sakit kedapatan memutar lagu kematian di saat seorang muslim sedang sekarat, tanpa sadar bahwa memutar lagu apapun di saat seperti itu sangatlah tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Baru sejak akhir 90-an keadaannya sedikit berubah akibat inisiatif seorang Chaplain yang bingung menghadapi seorang Bosnia yang sedang sekarat. Sang Bosnia tidak bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Anak-anaknya pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi situasi seperti itu. Tinggallah sang Chaplain yang kebingungan.

Berbekal pengatahuan bahwa si pasien adalah seorang muslim, maka dia mengontak masjid kami. Datanglah seseorang ke sana, seorang Pakistan, yang tidak bisa bercakap Bosnia. Tapi setidaknya dia tahu apa yang harus dilakukan. Dibisikkannyalah kata-kata talkin ke dalam telinga si pasien, dan si pasien itu kemudian meninggal sambil “mengucap” seraya memegang dan menatap foto ibunya.

Sanak kerabatnya semuanya tahu bahwa si Bosnia itu meninggal dalam keadaan bahagia. Mereka semuanya sangat berterima kasih kepada si Pakistan yang telah bersedia datang. Sang Chaplain? Beliau diam-diam menyelinap pergi meninggalkan keluarga muslim itu, dan membiarkan si Pakistan mendapatkan hujan terima kasih.

Tapi upaya sang Chaplain tidaklah berhenti sampai di situ. Beliau kemudian mengusulkan kepada pihak rumah sakit untuk mengadakan pelatihan tentang masalah ini untuk semua Chaplain di semua cabang rumah sakit itu. Maka datanglah semua Chaplain yang bekerja di rumah sakit itu dari seluruh pelosok Idaho untuk dilatih bagaimana menghadapi kematian seorang muslim. Termasuk di antaranya adalah seorang wanita Yahudi dari Twin Falls, yang nantinya bertahun kemudian akan mentalkinkan seorang muslim.

Tugas utama Chaplain adalah memberikan dukungan moral bagi pasien dan keluarganya. Dalam konteks itu, pertanyaan yang paling mengemuka adalah apa yang bisa mereka lakukan untuk memberikan kenyamanan bagi seorang muslim yang sedang sekarat? Lagu kematian? Doa bersama? Tentu saja alternatif yang mereka ajukan adalah berdasarkan latar belakang agama masing-masing.

Di titik itulah mereka diberi tahu bahwa hal yang terpenting bagi seorang muslim ketika kan mati adalah mengucapkan penegasan kembali terhadap keyakinan kepada Yang Satu. Kemampuan untuk mengucapkan kata-kata itu akan menimbulkan ketenangan dan kenyamanan dalam menghadapi pedihnya proses pencabutan nyawa. Melihat pentingnya kalimat itu, maka mereka semua meminta agar diberi bekal teks berisi kalimat tersebut sesuai dengan bunyi aslinya dalam bahasa Arab tapi dituliskan dalam transliterasinya dalam huruf latin.

Dan catatan itulah yang dibuka oleh wanita Yahudi itu, sang Chaplain dari Twin Falls, bertahun kemudian ketika ada seorang pasien muslim yang sedang sekarat. Keluarga sang pasien tidak tahu apa yang harus dilakukan dan di Twin Falls tidak ada masjid yang bisa ditelepon untuk dimintai bantuan. Berbekal catatan dari training yang diceritakan di atas, sang Chaplain lantas berinisiatif untuk melakukan talkin terhadap si pasien.

Si pasien akhirnya meninggal dalam keadaan “menyebut” berdasarkan tuntunan seorang Yahudi yang mengucapkan kata-kata Arab dari teks yang ditulis dalam abjad latin. Anak-anaknya tahu bahwa sang ayah meninggal dalam keadaan tenang dan bahagia, dan mereka tidak bisa percaya kalau sang Chaplain bisa melakukan ritual sebagaimana mestinya. “How could you know what to do?” tanya mereka.

Kejadian itu baru diceritakan oleh sang Chaplain ketika bertemu kembali dengan Furqan, sobat saya di masjid yang sekarang menjadi direktur Islamic Center of Boise. Beliaulah yang melakukan training yang pertama itu, dan kejadian ini terungkap ketika kami menyusun rencana untuk kembali melakukan training bagi para Chaplain.

Saya hanya bisa menunduk tertegun mendengar cerita itu. Dalam hati saya iri, alangkah besar pahala yang sudah dilakukan oleh sahabat saya yang satu ini. Semoga semangatnya dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat di Boise ini bisa menular kepada saya yang lebih banyak sibuk di depan komputer.

This entry receives 7 comments.

Ady Wicaksono

Menarik Pak Edy, berada di depan komputer bukan berarti gak bisa memperbanyak dakwah lho, lihat saja software adzan yang didownload ribuan orang

Saat ini jutaan orang terkoneksi internet jadi ada market potential kata google :) , artinya kita pegang peranan kita masing2 pak, ada yang di lapangan, ada yang di kubangan, dan ada yang di internet

Kuncinya kembali ke niat dan usaha yang terus menerus walau kecil

Saya juga belom bisa jadi ini juga ajakan pribadi hehehehe

Peace Pak

Wassalam

Feb 21, 2008 at 8:28 pm

Ria

assalaamu ‘alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuhu,
saya bahagia sekaligus sedih mendengar cerita ini. mengapa harus ada orang lain yg mentalkinkan keluarga kita yg sedang menghadapi sakaratul maut? apakah sebagai orangtua kita telah melalaikan tugas kita sehingga anak kita sendiri tidak dapat melakukan tugas ini? pertanyaan ini terlebih untuk saya sendiri, bang. terimakasih untuk membuat saya melakukan refleksi.
ps: di kota tempat kami tinggal dulu, kami punya program untuk mengunjungi pasien dg terminal illness untuk memberikan bimbingan dan penghiburan spt yg dilakukan oleh para chaplain, Alhamdulillah

Feb 22, 2008 at 5:46 am

Adi Adinugroho

Assalamu’alaikum,

TFS mas Ery. Semoga lebih banyak Mosques yang aware ttg hal ini ya. Tidak hanya di RS saja yang memerlukannya, tapi di Prison /Jail juga umumnya Chaplain muslim tuh jarang banget loh. Walau teorinya setiap inmate boleh menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, dan kalau nggak ada Chaplain sesuai dengan agamanya bisa mengajukan permohonan. Tapi tetep aja permohonan tsb kurang bisa di akomodasi (untuk agam Islam terutama), karena minimnya jumlah volunteer atau mosque/islamic center yang bersedia membantu. Nggak semua mosque/Islamic Center di US mau membuat program seperti ditempatnya kang Ery. Semoga usahanya dimudahkan dan makin banyak yang mencontoh.

BTW Saya curious, Talkin yang dibacakan chaplain non muslim tsb seperti apa? apakah dalam bentuk kalimat syahadat? atau dalam bentuk lainnya? (such as : Allahuakbar or istighfar etc?). Penuntunan dari non muslim tsb hukumnya bagaimana? Bisa dicerahkan kang? maklum saya masih harus banyak belajar..=)

Salam buat teh Lintang & anak-anak.
Wassalamu’alaikum
Adi

Feb 22, 2008 at 6:20 am

bangzenk

kang ery, ijin kenalan.. saya baru di Eindhoven, bapak2 di sini merindukan akang.. pengen belajar ngaji katanya..

Feb 23, 2008 at 1:32 pm

nash

Pengalaman yang menggugah dan meletakkan kita kembali pada hal-hal paling esensial dalam hidup…

Seandainya cerita Teuku adalah sebuah hadits, Teuku adalah rawi ke dua. Kupikir, semakin dekat kita dengan sumber kebaikan, semakin beruntung kita…

Teuku sangat beruntung..karena mengenal sumbernya, juga karena masih merasa rendah diri dengan apa yang sudah Teuku lakukan…

Sampaikan salamku dari…(ente taulah di dusun mana) untuk (boleh kusebut?) Bro Furqan…

Mar 2, 2008 at 4:13 am

tintin

Subhanalloh, yang meninggal bisa mengucapkan syahadat sebagai akhir kalimatnya ..

Di Indonesia sebenernya juga perlu, meski banyak mengenal tentang keutamaan ini, tetapi ada kemungkinan mereka lupa dan malah panik dengan kejadian² sakaratul maut.

Apr 11, 2008 at 3:14 am

Nurazmi

Assallam mualaikum. Smga Allah selalu menuntun kita ke jalan NYA.
Maha suci Dia Atas segala kehendakNYA.Smga Usah usaha kita tak terlepas dari mencari
keredhoan Allah SWT.Sesungguahnya apa yang kita dapat sesuai dengan Niat yang telah
di Niatkan.Selamat sejahtera buat tuan tuan yang telah memuatkan tulisan diatas buat
renungan kita semua….Amin..wassallam..Dumai

Jan 27, 2010 at 11:51 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Thursday, February 21st, 2008 at 8:12 pm and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.