Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Tiga langkah kaki: pentingnya konsistensi

Tiga langkah kaki: pentingnya konsistensi

(catatan tentang desain awal sebuah rumah sakit)

Lokasi kamar mandi di kamar pasien dalam sebuah rumah sakit bisa diletakkan di sudut terjauh dari pintu (berbatasan dengan dinding luar), atau bisa juga diletakkan di dekat pintu masuk, berbatasan dengan koridor yang membelah gedung. Di salah satu rumah sakit di Idaho, semua kamar mandi di kamar pasien diletakkan di sudut terjauh dari pintu masuk, berbatasan dengan dinding luar.

Ketika Lab kami diundang untuk memberikan komentar terhadap rancangan rumah sakit terbaru mereka, salah satu komentar kami adalah bahwa kamar mandi itu harus dipindah dari dinding luar, karena posisi di dekat dinding luar itu akan mengurangi luas jendela. Akibatnya, jumlah pencahayaan alami yang masuk ke kamar pasien tidak akan optimal. Kami memiliki beberapa rekomendasi lainnya mengenai pencahayaan alami ini, tapi rekomendasi inilah yang ditolak mentah-mentah oleh pihak rumah sakit.

Alasannya?

Kalau kamar mandi itu dipindah ke dekat pintu masuk, itu artinya seorang perawat yang sedang melakukan tugas keliling ke kamar pasien akan mendapat tambahan rata-rata tiga langkah untuk mencapai tempat tidur pasien. Ya betul: tiga langkah.

Kalau anda sama seperti saya, maka anda akan bertanya-tanya, apa hebatnya tiga langkah kaki itu sampai bisa membatalkan rekomendasi tentang pencahayaan alami yang berpotensi menghemat ribuan dolar dari penurunan pemakaian lampu listrik? Ternyata kata kuncinya ada di kata “rata-rata” itu.

Tiga langkah itu adalah rata-rata per kamar, yang kalau dihitung seluruh rumah sakit yang jumlah kamarnya mencapai seratus, maka jumlahnya sudah cukup besar. Masalahnya ketika jumlah itu di akumulasikan, jangan-jangan dengan tambahan segitu, nantinya pihak rumah sakit harus menambah jumlah perawat untuk mengkompensasi tiga langkah ekstra itu. Hitung-hitungan tepatnya bagaimana saya agak kurang paham, karena ini datangnya dari pihak manajemen rumah sakit, tapi akibatnya mereka secara tegas menolak rekomendasi kami untuk memindahkan kamar mandi menjauh dari dinding luar.

Tanggapan kami?

Kami secara konsisten tetap merekomendasikan hal yang sama. Kalau masalahnya adalah tiga langkah tambahan, kami malah mempertanyakan asumsi dari pihak manajemen. Tambahan tiga langkah itu akan memberatkan kalau suasana lingkungan kerja tidak berubah. Ini adalah asumsi yang salah karena rekomendasi kami justru akan mengubah suasana lingkungan kerja. Pencahayaan alami akam memberikan nuansa yang jauh lebih baik dibandingkan dengan lampu jenis apapun.

Kami berargumen bahwa para perawat itu akan senang sekali menjalani tiga langkah tambahan kalau kita bisa memberi ruang bekerja yang dilimpahi dengan cahaya alami. Kalau tidak percaya, kita uji cobakan saja pada para perawat itu, dan kemudian tanya pendapat mereka.

Tidak ada tanggapan balik dari klien kami itu, yang jelas mereka tidak mengubah rancangan mereka untuk yang satu ini. Ada banyak rekomendasi kami, banyak yang diterima dan ada juga yang ditolak. Lama sekali kami tidak mendengar kabar dari mereka, bahkan proyek yang satu itupun agak tersendat-sendat pembangunannya.

Setelah lama tak mendengar kabar dari mereka, tiba-tiba saja datang sepotong informasi dari orang lain, bahwa mereka benar-benar membangun sebuah mock-up, model skala-penuh dari rekomendasi kami. Mereka mengujicobakan semua yang kami rekomendasikan, dan kemudian mereka menanyakan kepada para perawat jenis kamar yang mana yang lebih mereka sukai.

Guess what? Perawat memilih kamar yang sesuai dengan rekomendasi kami, sekalipun dengan tiga langkah ekstra tadi.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepada mendengar berita itu. Kenapa mereka dulu mereka mati-matian menolak rekomendasi kami? Apakah karena ide ini berasal dari orang luar? Tapikan mereka mengundang kita untuk jadi konsultan, jadi harus dianggap insider dong, ya nggak?

Dan kemudian kenapa mereka tiba-tiba mengujicobakan rekomendasi kita tanpa berkonsultasi kembali dengan kami? Apakah karena ide dari luar itu perlu waktu untuk menginternalisasi? Ini bukannya masalah gagah-gagahan kalau saya berharap mereka konsultasi kembali ke kami. Saya sih cukup senang kalau ide kami bisa dijalankan dengan baik. Yang jadi masalah adalah mereka sudah keluar uang untuk mengadakan studi itu. Kalau mereka melibatkan kami kembali, maka mereka akan mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak dan jauh lebih reliable daripada hasil yang sekarang.

Pelajaran dari kisah ini? Inilah pentingnya konsistensi, atau lebih tepat lagi persistensi. Kata Kevin kawan saya:

just release your opinion out in the ether, and it will float around until somebody else picks it up and make it their own idea, and they implement it.

Ada dua pesan penting mengenai kalimat di atas:

  1. orang perlu menginternalisasi ide baru agar mereka bisa menerima perubahan.
  2. seringkali kita harus melepas “authorship” dari ide itu agar ide itu bisa diterima oleh orang banyak.

Lepas dari bagaimanapun prosesnya, kalau rekomendasi kami bisa dipakai oleh orang banyak, maka kami sudah mencapai misi Lab kami, yaitu mengadakan transformasi pasar di dalam industri bangunan, terutama di dalam pemasyarakatan metoda rancangan terpadu dalam perancangan bangunan.

Catatan: Adakah yang bisa membantu saya dalam menerjemahkan istilah-istilah berikut ini? Silakan sampaikan melalui komentar di bawah ini.

  • rancangan terpadu = integrated design
  • desain awal = early design
  • model skala-penuh = full scale model
  • mock-up = ?

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Tuesday, February 19th, 2008 at 8:22 pm and is filed under Indonesian, Technology. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • beb afandi: Betul ke surat rekom sudah di hapuskan dan tidak diperlukan oleh TKI waktu berangkat ke negara tujuan?
  • Sarah: Hallo bang Ery, Saya rasa setiap manusia itu unik. Gak bisa di generalisir antara manusia yang satu dengan...
  • Esthi T Bhirawati: Dear Bang Ery, a very enjoyable and inspiring writing. Indeed Indonesian people work very hard....
  • Lutfi: Ery, Kalau dulu dosen Fisika ITB, Pantur Silaban, konon pernah berkelakar bahwa orang Indonesia itu sudah...
  • cahya: saya sangat berterima kasih, artikel bapak ttg sains anak menambah referensi saya. kebetulan saya sedang mulai...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.