<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari ketiga</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/101/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: ikhsan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-12781</link>
		<dc:creator>ikhsan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 17:00:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-12781</guid>
		<description>Makasih pak atas postingnya, sungguh membuka wawasan. Nyesel saya baru nemu postingannya sekarang
Jujur dilema saya sudah satu tahun ingin jd dosen di itb, karena saya pikir dosen itb itu profesi yg sangat prestis. Ironisnya senior saya sebagai maganger selama bertahun2 diperlakukan sama dengan pak ery. Ckckck
Saya tidak tahan banting, its better for me to go mungkin, find the right place so I can give, develop, and be developed more..
Sukses pak ery!
Saran saya ikutin prosedurnya, mustahil dalam jangka waktu beberapa tahun ini akan berubah.. Menurut saya kalo pak ery, bisa jadi professor someday, you worth more than others from any universities in the world (I mean you must have more efforts, more initiatives, more energy than theirs)..
Wong bisa jd professor dengan prosedur ga jelas.. Wkwk semoga menghibur pak :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makasih pak atas postingnya, sungguh membuka wawasan. Nyesel saya baru nemu postingannya sekarang<br />
Jujur dilema saya sudah satu tahun ingin jd dosen di itb, karena saya pikir dosen itb itu profesi yg sangat prestis. Ironisnya senior saya sebagai maganger selama bertahun2 diperlakukan sama dengan pak ery. Ckckck<br />
Saya tidak tahan banting, its better for me to go mungkin, find the right place so I can give, develop, and be developed more..<br />
Sukses pak ery!<br />
Saran saya ikutin prosedurnya, mustahil dalam jangka waktu beberapa tahun ini akan berubah.. Menurut saya kalo pak ery, bisa jadi professor someday, you worth more than others from any universities in the world (I mean you must have more efforts, more initiatives, more energy than theirs)..<br />
Wong bisa jd professor dengan prosedur ga jelas.. Wkwk semoga menghibur pak <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kabayan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-619</link>
		<dc:creator>Kabayan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 11:54:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-619</guid>
		<description>Indonesia kan negara hukum mas, kalau mas keberatan dengan aturan2 CPNS di ITB di - PTUN kan saja...why not??? biar tahu siapa yang benar dan siapa yang salah...hayoooo !!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia kan negara hukum mas, kalau mas keberatan dengan aturan2 CPNS di ITB di &#8211; PTUN kan saja&#8230;why not??? biar tahu siapa yang benar dan siapa yang salah&#8230;hayoooo !!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ketut Wikantika</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-410</link>
		<dc:creator>Ketut Wikantika</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 01:00:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-410</guid>
		<description>Menarik sekali apa yang disampaikan oleh Pak Ery. Disamping menjadi mengerti bagaimana proses pengrekrutan dosen ITB, saya menjadi lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan universitas kelas dunia. Menurut saya, ITB masih belum termasuk kategori perguruan tinggi kelas dunia. Masih terlalu dini membandingkan ITB sebagai perguruan tinggi kelas dunia. Saya lebih tertarik jika kita bisa membangun suatu komunitas kelas dunia di ITB. Maksud saya adalah, saya yakin sekali pak Ery sudah termasuk individu kelas dunia. Jika memang sudah diterima sebagai dosen ITB atau malah diterima di tempat lain apakah sebagai dosen atau bukan dosen, bagaimana jika pak Ery membangun komunitas baru kelas di dunia ? Ini lebih nyata pak..;-). Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik sekali apa yang disampaikan oleh Pak Ery. Disamping menjadi mengerti bagaimana proses pengrekrutan dosen ITB, saya menjadi lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan universitas kelas dunia. Menurut saya, ITB masih belum termasuk kategori perguruan tinggi kelas dunia. Masih terlalu dini membandingkan ITB sebagai perguruan tinggi kelas dunia. Saya lebih tertarik jika kita bisa membangun suatu komunitas kelas dunia di ITB. Maksud saya adalah, saya yakin sekali pak Ery sudah termasuk individu kelas dunia. Jika memang sudah diterima sebagai dosen ITB atau malah diterima di tempat lain apakah sebagai dosen atau bukan dosen, bagaimana jika pak Ery membangun komunitas baru kelas di dunia ? Ini lebih nyata pak..;-). Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bangzenk</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-371</link>
		<dc:creator>bangzenk</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 19:10:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-371</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum..

numpang lewat kang,
ketiga tulisannya mampu membius saya (jarang2)..

teringat seorang kawan yang tengah mengikuti program Phd di TU/e, Belanda. Beliau sempat menjawab pertanyaan saya, terkait setelah jadi Doktor bagaimana?

Ia menjawab &quot;rencananya mau melamar jadi Dosen ITB, tapi..&quot;

nah, &quot;tapinya&quot; persis apa yang Kang Ery paparkan ditambah senioritas (terbahas di tulisan ke-2).

semoga pada saatnya nanti, Indonesia benar-benar mampu mengakomodir para ilmuwan Indonesia di luar negeri.. kapan? hanya Allah yg tahu..

sejujurnya, saya berniat menjadi dosen. Itu pilihan luar biasa, karena dalam bayangan saya, menjadi dosen di Indonesia ibarat katak dalam tempurung. 

sekali lagi, semoga &quot;hal ini&quot; dapat segera berakhir.

salamhangat,

Muhammad Rijal ARS
Hogeschool Zeeland-Belanda</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum..</p>
<p>numpang lewat kang,<br />
ketiga tulisannya mampu membius saya (jarang2)..</p>
<p>teringat seorang kawan yang tengah mengikuti program Phd di TU/e, Belanda. Beliau sempat menjawab pertanyaan saya, terkait setelah jadi Doktor bagaimana?</p>
<p>Ia menjawab &#8220;rencananya mau melamar jadi Dosen ITB, tapi..&#8221;</p>
<p>nah, &#8220;tapinya&#8221; persis apa yang Kang Ery paparkan ditambah senioritas (terbahas di tulisan ke-2).</p>
<p>semoga pada saatnya nanti, Indonesia benar-benar mampu mengakomodir para ilmuwan Indonesia di luar negeri.. kapan? hanya Allah yg tahu..</p>
<p>sejujurnya, saya berniat menjadi dosen. Itu pilihan luar biasa, karena dalam bayangan saya, menjadi dosen di Indonesia ibarat katak dalam tempurung. </p>
<p>sekali lagi, semoga &#8220;hal ini&#8221; dapat segera berakhir.</p>
<p>salamhangat,</p>
<p>Muhammad Rijal ARS<br />
Hogeschool Zeeland-Belanda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bambang</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-349</link>
		<dc:creator>Bambang</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 23:56:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-349</guid>
		<description>Kang Erry terima kasih tulisannya, membuka pandangan dunia PTN terhebat di Indonesia yang saya duga pasti selalu kritis dan obyektif dalam bertindak. Kebayang dengan PTN lain dibawahnya. Pada kisaran waktu yang sama ada satu lowongan di PT BHMN lain yang kualifikasinya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, karena sedang di luar kota saya minta bantuan istri untuk mencari info lengkap untuk hal itu. Tidak disangka laporan dari istri malah bikin senyum kecut, salah satunya adalah yang dicari konon lulusan S3 dari dalam negeri; makanya jadi makin mafhum dengan pengalaman yang ditulis kang Erry.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Erry terima kasih tulisannya, membuka pandangan dunia PTN terhebat di Indonesia yang saya duga pasti selalu kritis dan obyektif dalam bertindak. Kebayang dengan PTN lain dibawahnya. Pada kisaran waktu yang sama ada satu lowongan di PT BHMN lain yang kualifikasinya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, karena sedang di luar kota saya minta bantuan istri untuk mencari info lengkap untuk hal itu. Tidak disangka laporan dari istri malah bikin senyum kecut, salah satunya adalah yang dicari konon lulusan S3 dari dalam negeri; makanya jadi makin mafhum dengan pengalaman yang ditulis kang Erry.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ahdar</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-342</link>
		<dc:creator>ahdar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 22:56:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-342</guid>
		<description>that test can be considered as the most effective way to preserve the stupidity and ignorance to the outside academic word.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>that test can be considered as the most effective way to preserve the stupidity and ignorance to the outside academic word.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sony Sumarseno</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-341</link>
		<dc:creator>Sony Sumarseno</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 15:26:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-341</guid>
		<description>Kalau boleh diilustrasikan dengan kehidupan air dan sungai maka ada 4 kemungkinan untuk melakukan perubahan. 

1.  Tegar setegar batu. 
Untuk menahan arus air yang deras, maka anda harus setegar batu di sungai.  Ini berat, sangat berat, karena batu itu akan terkikis oleh air dengan berjalannya waktu.  Anda bisa kehabisan tenaga hanya untuk 
bertahan di tempat yang sama.  Kecuali batu itu bisa tumbuh atau mengumpulkan teman-temannya untuk bergabung. 

2.  Berjuang seperti ikan salmon. 
Pernah liat bagaimana perjuangan ikan salmon untuk bertelur di hulu? Dengan segala kekuatan, ikan salmon selalu bertelur di tempat dimana dia dilahirkan, di hulu.  Bukan hanya arus yang kuat dan air terjun yang tinggi yang harus dihadapi, di sepanjang jalan perjuangan itu akan banyak predator (beruang, elang, dll) yang menunggu untuk menyantapnya. 

Sanggupkah anda berjuang seperti ikan salmon?  Dari sekian banyak ikan salmon yang berjuang, hanya sedikit yang berhasil dan bertelur di hulu. 

3.  Bijak seperti ulu-ulu 
Ulu-ulu atau petugas pengatur air, bertugas mengatur air supaya sawah, lahan pertanian, kolam, dll tidak kekurangan dan tidak juga kelebihan air.  Di saat kemarau, maka dia akan membuka pintu air sebesar-besarnya untuk memastikan air mengalir dan kehidupan tetap berjalan.  Di saat hujan deras, dia harus merendahkan pintu air supaya sawah dan kolam 
tidak kebanjiran. 

Jika anda sudah di dalam, maka anda bisa mengalirkan energi dan pemikiran anda seperti untuk mengairi sawah dan kolam tadi.  Tapi pekerjaan ini tidak well paid, seperti ulu-ulu. 

4.  Powerful dan bermanfaat seperti bendungan 
Bendungan selain berguna untuk menampung air, irigasi, memelihara ikan, objek pariwisata, dan juga bisa bermanfaat sebagai pembangkit tenaga listrik.  Ini punya impact yang sangat besar bagi kehidupan.  Tapi anda bisa bikin bendungan jika anda telah sampai pada posisi pemegang kebijakan, punya kuasa dan dana untuk mengerahkan orang-orang pintar untuk membuatnya. 


Dari 3 tulisan yang saya baca, saya mengambil kesimpulan pada saat ini anda adalah tipe pejuang seperti ikan salmon.  Setelah sekian lama menuntut ilmu dan mengajar di luar negri, anda pulang untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi banyak orang di negri asalnya. 

Dalam waktu berjuang ini, saya berharap anda bisa combine dengan bijaknya ulu-ulu dan saya doakan pada saatnya nanti anda punya posisi untuk merubah dengan drastis, maka anda bisa buat bendungan. 

Selamat berjuang dan semoga sukses, 
Sony Sumarseno</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau boleh diilustrasikan dengan kehidupan air dan sungai maka ada 4 kemungkinan untuk melakukan perubahan. </p>
<p>1.  Tegar setegar batu.<br />
Untuk menahan arus air yang deras, maka anda harus setegar batu di sungai.  Ini berat, sangat berat, karena batu itu akan terkikis oleh air dengan berjalannya waktu.  Anda bisa kehabisan tenaga hanya untuk<br />
bertahan di tempat yang sama.  Kecuali batu itu bisa tumbuh atau mengumpulkan teman-temannya untuk bergabung. </p>
<p>2.  Berjuang seperti ikan salmon.<br />
Pernah liat bagaimana perjuangan ikan salmon untuk bertelur di hulu? Dengan segala kekuatan, ikan salmon selalu bertelur di tempat dimana dia dilahirkan, di hulu.  Bukan hanya arus yang kuat dan air terjun yang tinggi yang harus dihadapi, di sepanjang jalan perjuangan itu akan banyak predator (beruang, elang, dll) yang menunggu untuk menyantapnya. </p>
<p>Sanggupkah anda berjuang seperti ikan salmon?  Dari sekian banyak ikan salmon yang berjuang, hanya sedikit yang berhasil dan bertelur di hulu. </p>
<p>3.  Bijak seperti ulu-ulu<br />
Ulu-ulu atau petugas pengatur air, bertugas mengatur air supaya sawah, lahan pertanian, kolam, dll tidak kekurangan dan tidak juga kelebihan air.  Di saat kemarau, maka dia akan membuka pintu air sebesar-besarnya untuk memastikan air mengalir dan kehidupan tetap berjalan.  Di saat hujan deras, dia harus merendahkan pintu air supaya sawah dan kolam<br />
tidak kebanjiran. </p>
<p>Jika anda sudah di dalam, maka anda bisa mengalirkan energi dan pemikiran anda seperti untuk mengairi sawah dan kolam tadi.  Tapi pekerjaan ini tidak well paid, seperti ulu-ulu. </p>
<p>4.  Powerful dan bermanfaat seperti bendungan<br />
Bendungan selain berguna untuk menampung air, irigasi, memelihara ikan, objek pariwisata, dan juga bisa bermanfaat sebagai pembangkit tenaga listrik.  Ini punya impact yang sangat besar bagi kehidupan.  Tapi anda bisa bikin bendungan jika anda telah sampai pada posisi pemegang kebijakan, punya kuasa dan dana untuk mengerahkan orang-orang pintar untuk membuatnya. </p>
<p>Dari 3 tulisan yang saya baca, saya mengambil kesimpulan pada saat ini anda adalah tipe pejuang seperti ikan salmon.  Setelah sekian lama menuntut ilmu dan mengajar di luar negri, anda pulang untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi banyak orang di negri asalnya. </p>
<p>Dalam waktu berjuang ini, saya berharap anda bisa combine dengan bijaknya ulu-ulu dan saya doakan pada saatnya nanti anda punya posisi untuk merubah dengan drastis, maka anda bisa buat bendungan. </p>
<p>Selamat berjuang dan semoga sukses,<br />
Sony Sumarseno</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hadi Nur</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-339</link>
		<dc:creator>Hadi Nur</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 13:59:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-339</guid>
		<description>Pak Ery, salam kenal dari saya .... saya berharap supaya tulisan mengenai CPNS ini dapat dibaca oleh orang-orang yang punya pengaruh untuk melihat perubahan ITB. Saya mempunyai pengalaman yang sama ketika saya ikut tes CPNS di ITB tahun 1998 (waktu itu masih ada LITSUS) -- dan akhirnya tidak jadi pulang ke ITB. Salam dari Malaysia...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Ery, salam kenal dari saya &#8230;. saya berharap supaya tulisan mengenai CPNS ini dapat dibaca oleh orang-orang yang punya pengaruh untuk melihat perubahan ITB. Saya mempunyai pengalaman yang sama ketika saya ikut tes CPNS di ITB tahun 1998 (waktu itu masih ada LITSUS) &#8212; dan akhirnya tidak jadi pulang ke ITB. Salam dari Malaysia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: T. Djamal</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-338</link>
		<dc:creator>T. Djamal</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 13:10:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-338</guid>
		<description>Ery, semoga Allah menunjuki jalan yang terbaik. Kalau jadi PNS akan baik bagi Ery dan ITB, semoga menjadi dosen ITB yang berkomitmen, tahan banting dengan kenyataan kondisi yang ada, serta berupaya untuk terus berkontribusi positif. Kalau status PNS akan membelenggu, semoga Ery mendapatkan posisi lain yang lebih baik. Tetapi satu hal, saya merasa Ery tidak akan cocok dengan sistem baru nanti kalau diterima ITB yang masih berbau PNS, karena pola pikirnya sudah terlalu &quot;canggih&quot; untuk kelas PNS. Tes psikologi adalah pelengkap wawancara untuk memberi masukan bagi petugas rekrutmen apakah calon cocok atau tidak dengan formasi CPNS yang ada, bukan mengukur kemampuan. Ya, terlalu sederhana untuk ukuran doktor, tetapi saya memandang itulah salah satu alat ukur yang menilai kecocokan bidang tugas tanpa melihat tingkat pendidikannya. Lulusan SD pun dihadapkan dengan soal yang sama. Saya kira akan terbaca juga daya tahan terhadap rutinitas (dari menambah angka-angka yang membosankan itu) dan potensi superioritas bila bekerja dalam tim. Sayang kalau potensi besar tak didukung wadah yang cocok. Semoga Allah menunjuki yang terbaik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ery, semoga Allah menunjuki jalan yang terbaik. Kalau jadi PNS akan baik bagi Ery dan ITB, semoga menjadi dosen ITB yang berkomitmen, tahan banting dengan kenyataan kondisi yang ada, serta berupaya untuk terus berkontribusi positif. Kalau status PNS akan membelenggu, semoga Ery mendapatkan posisi lain yang lebih baik. Tetapi satu hal, saya merasa Ery tidak akan cocok dengan sistem baru nanti kalau diterima ITB yang masih berbau PNS, karena pola pikirnya sudah terlalu &#8220;canggih&#8221; untuk kelas PNS. Tes psikologi adalah pelengkap wawancara untuk memberi masukan bagi petugas rekrutmen apakah calon cocok atau tidak dengan formasi CPNS yang ada, bukan mengukur kemampuan. Ya, terlalu sederhana untuk ukuran doktor, tetapi saya memandang itulah salah satu alat ukur yang menilai kecocokan bidang tugas tanpa melihat tingkat pendidikannya. Lulusan SD pun dihadapkan dengan soal yang sama. Saya kira akan terbaca juga daya tahan terhadap rutinitas (dari menambah angka-angka yang membosankan itu) dan potensi superioritas bila bekerja dalam tim. Sayang kalau potensi besar tak didukung wadah yang cocok. Semoga Allah menunjuki yang terbaik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ASH</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/101/comment-page-1#comment-336</link>
		<dc:creator>ASH</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 04:31:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/101#comment-336</guid>
		<description>den Ery,
anda ini orang Jawa atau paling tdk sudah menjadi orang Jawa.
pasrah, nrimo, ..... dll.
apa kata dunia ..... ?
kapan INDON bisa maju ?
keep the spirit on &amp; g.luck</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>den Ery,<br />
anda ini orang Jawa atau paling tdk sudah menjadi orang Jawa.<br />
pasrah, nrimo, &#8230;.. dll.<br />
apa kata dunia &#8230;.. ?<br />
kapan INDON bisa maju ?<br />
keep the spirit on &amp; g.luck</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

