Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari ketiga

Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari ketiga

Tes hari ketiga sebenarnya kurang seru untuk diceritakan, walaupun sebenarnya sangat unik, yaitu tes psikologi. Di mana uniknya? Ya karena setahu saya hanya di Indonesia lah para calon dosen ini harus mengikuti pemeriksaan psikologi. Saya tanya kiri kanan, belum pernah saya menemukan negara yang menggunakan tes psikologi dalam rekrutmen profesor.

Tapi apanya yang mau diceritakan? Saya disuruh menambah bilangan sampai mau muntah, terus diminta menggambar orang (laki-laki dan perempuan — nuwun sewu, yang saya gambar adalah peserta tes di sebelah kanan-depan saya dan juga psikolognya yang sedang mengoreksi hasil tes) serta pohon kayu (yang saya gambar pohon kribo tapi saya tulis sebagai pohon beringin). Tidak ada gunanya untuk diceritakan.

Yang ingin saya ceritakan justru pembicaraan saya dengan seorang kawan tentang tugas-tugas CPNS, serta pertanyaan Pak KK tentang bagaimana kinerja CPNS dalam mengerjakan tugas-tugas tsb dapat diukur.

Layaknya mahasiswa di musim ujian, di pagi hari ketiga itu saya langsung bertanya kepada kawan saya tentang tes-tes sebelumnya. Bagaimana dia menjawab ttg Pancasila versi M. Yamin, bagaimana dia ditanya dalam wawancara, dll. Saya pun mengeluhkan tentang tuntutan pewawancara untuk hadir sebagai CPNS sepanjang tahun mulai 1 Januari 2008.

Kawan saya ini bilang, “Mas, kalau status kita masih sebagai CPNS, kita kan nggak boleh ngajar, nggak boleh membimbing tugas akhir, dan nggak boleh publikasi.” HAH! saya benar-benar kaget. Saya memang sampai sekarang belum membaca aturan tertulis ttg masalah ini, tapi saya yakin informasi kawan saya itu akurat karena beliau adalah salah seorang “maganger”, sudah magang di ITB.

Teaching, advising, dan publication adalah tiga modal utama seorang akademisi. Kalau ketiga hal ini dipangkas, habislah sudah karir sang akademisi itu. Lantas kenapa CPNS dilarang untuk melakukan tugas yang justru menjadi tolok ukur kinerja mereka? Lagi-lagi, saya menuding sistem PNS yang membuat sistemnya jadi aneh.

Coba kita lihat masalah mengajar. Seorang CPNS katanya sih boleh-boleh saja masuk ke dalam kelas dan memberikan kuliah kepada mahasiswa. Tapi namanya tidak boleh tercantum dalam rooster sebagai instruktur suatu mata kuliah.

Sama halnya dengan masalah bimbingan tugas akhir. Boleh-boleh saja seorang CPNS membimbing tugas akhir seorang mahasiswa, tapi namanya tidak boleh tercantum sebagai pembimbing.

Masalah publikasi? Sama saja. Seorang CPNS boleh-boleh saja menerbitkan hasil penelitiannya. Tapi hasil penerbitan itu tidak akan dihitung dalam mendukung kenaikan pangkat. “Lhah”, kata saya, “kita yang CPNS kan perlu publikasi sebanyak-banyaknya untuk mendukung karir kita, kok malah tidak boleh publikasi.”

Kawan saya itu menjawab, “ditabung saja dulu, Mas.” Maksudnya hasil penelitiannya tidak perlu diterbitkan dulu, melainkan disimpan sampai SK Pengangkatan sebagai PNS keluar. Alternatif ini hanya bisa dilakukan kalau masa penantian CPNS adalah sekitar setahun. Lebih dari itu, maka hasil penelitian kita akan basi.

Titik permasalahannya

Aturan yang tidak masuk akal ini (bahwa CPNS tidak boleh mengajar bla bla bla) adalah warisan sejarah masa lalu. Di jaman baheula, universitas di Indonesia merekrut dosen sejak dari sarjana, dan baru kemudian disekolahkan ke jenjang master dan doktor. Karena itu, (mungkin) memang wajar kalau CPNS dilarang mengajar, dilarang membimbing, dst dst, karena yang berstatus CPNS itu baru saja lulus sarjana.

Masalahnya kan sekarang ini dunia sudah berubah. ITB sudah mensyaratkan semua kandidat dosen mempunyai kualifikasi doktor. Lhah, kok ketika diterima menjadi CPNS terus dihukum dengan aturan-aturan yang tidak jelas manfaatnya itu.

Coba bayangkan kalau sobat saya Riza Muhida yang sudah mencapai jenjang Associate Professor di Malaysia, dan kemudian diterima sebagai dosen melalui CPNS, terus tidak boleh mengajar, apa kata dunia? OK OK, kan sebenarnya masih diperbolehkan mengajar (maksudnya masuk kelas dan memberi kuliah dan tutorial dan ujian dan lain-lain). Yang tidak diperbolehkan adalah mencantumkan nama di dalam rooster bahwa sang CPNS mengajar mata kuliah TF-XXXX.

Di sinilah letak keberatan saya, dan di sinilah letak tidak adilnya aturan ini untuk kami para akademisi lepas (yang tidak terikat ikatan dinas dengan instansi manapun). Bagi saya seorang akademisi lepas, sangatlah penting bagi riwayat karir akademik saya untuk mempunyai kejelasan status, bahwa saya di tahun tertentu semester tertentu mengajar mata kuliah tertentu.

Bukan, bukan. Ini bukan masalah ego atau masalah gagah-gagahan atau masalah mentang-mentang. Plain and simple, ini adalah masalah masa depan dan peluang mencari kerja (kembali) di pasaran global.

Mari kita berandai-andai. Katakanlah saya lolos seleksi kali ini, dan diterima sebagai CPNS. Kemudian saya kembali ke ITB, dan terpaksa menghadapi aturan konyol ini dan tidak terdaftar sebagai pengajar mata kuliah apapun, dan tidak terdaftar sebagai pembimbing tugas akhir apapun. (Walaupun tetap saya akan dipekerjakan untuk membantu mengajar beberapa mata kulian dan membantu membimbing beberapa tugas akhir).

Setelah masa waktu tertentu (setahun? dua tahun? semoga tidak lebih lama dari itu, but who knows?), status CPNS saya akan dievaluasi untuk pengangkatan menjadi PNS. Katakanlah di titik itu, ada masalah sehingga proses pengangkatan saya jadi terhambat.

Apa masalah itu? Ya anda pikirkanlah sendiri, seribu satu masalah kan bisa timbul di rantai birokrasi PNS. Berkas saya kan harus melewati beberapa meja di ITB, terus beberapa meja di Diknas, terus beberapa meja di apa itu kantor namanya, Kantor MenPAN. Anything can happen in between, mulai dari berkas yang hilang sampai pada kriteria yang tidak terpenuhi.

Singkatnya, bayangkanlah misalnya setelah setahun dan ternyata pengangkatan saya tertunda. Tentu saya akan memilih mencari kerja lagi daripada harus menunggu keputusan birokrasi yang tidak jelas itu. Dan ketika saya melamar untuk menjadi dosen di tempat lain, saya pasti akan ditanya ttg mata kuliah apa yang saya ajarkan di semester lalu. Apa yang harus saya katakan?

No Sir, I did not teach anything. In fact, I was not allowed to be the instructor for any of the classes. Well of course I ended up teaching some of the courses, but I was just helping another instructor to run the course for them.

I would look like a complete idiot trying to make his way to a teaching post.

Bagaimana seharusnya?

Semua orang juga tahu bagaimana seharusnya ITB memperlakukan dosennya yang berstatus CPNS. Perlakukan mereka sebagaimana mereka akan diperlakukan di universitas lain di dunia ini: treat them as your peer, as faculty members.

Banyak yang lupa bahwa dunia akademik itu dunia tanpa kasta, semua orang dipandang sebagai peer, kolega, teman sepermainan. Penilaian paling berbobot di dunia akademik adalah peer-review, penilaian kawan sepermainan kita sendiri.

Tentu, saya tidak lupa dengan senioritas. Saya tidak akan bermimpi untuk melupakan guru-guru saya yang sudah mendidik saya sampai sekarang. Tapi senioritas tidak lalu membuat si anu tidak boleh mengajar karena masih junior. Faculty member itu dipekerjakan untuk membangun penelitian di bidang keahliannya sendiri dan kemudian membangun mata kuliah dari hasil penelitian itu.

Karena itu seharusnya dosen-dosen baru di ITB itu diberi kebebasan untuk mengajar dan meneliti, dan untuk tahun pertama dibebaskan dari kewajiban administratif. Bahwa mereka masih berstatus CPNS, ya di mana-mana juga dosen baru tetap akan mengalami evaluasi untuk sampai mendapatkan kontrak permanen (tenured, kalau di Amerika). Ketika menghadapi evaluasi pengangkatan, ya silakan dievaluasi berdasarkan apa yang sudah dilakukannya.

Menjawab pertanyaan Pak KK: siapa yang mengevaluasi, bagaimana caranya mengevaluasi, apa kriterianya, bagi saya sistem evaluasi dan promosi bisa dibangun dengan mudah kalau sejak dari rekrutmennya sudah seperti yang saya ungkapkan di atas. Tinggal lihat saja praktek-praktek terbaik yang dilakukan oleh berbagai universitas kelas dunia.

Dari segi mengajar, misalnya, kan ada evaluasi mahasiswa. Setiap mahasiswa sebelum ujian akhir wajib memberikan evaluasi terhadap mata kuliah berikut dosennya. Untuk mata kuliah baru terutama yang diberikan oleh dosen baru, harus ada presentasi awal yang dihadiri oleh seluruh faculty members, dan kemudian pada waktu-waktu tertentu ada seorang dosen senior yang masuk ke dalam kelas untuk sit-in mengikuti kuliahnya. Kemudian ada nilai yang diberikan kepada mahasiswa, yang bisa dijadikan alat evaluasi terhadap mata kuliah itu. Kalau nilainya rapat kanan, artinya sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai D dan F, maka tentu ada masalah dengan mata kuliahnya atau dosennya. Demikian juga kalau nilainya rapat kiri, artinya sebagian besar mahasiswanya mendapatkan nilai A, ini akan menimbulkan pertanyaan apakah sedang terjadi inflasi nilai A?

Di universitas kelas dunia tidak jarang sebuah mata kuliah dipilih untuk dinilai oleh penilai eksternal. Seluruh berkas mata kuliah dikirimkan kepada sang penilai eksternal, termasuk hasil ujian mahasiswa dengan nilai tertinggi dan terendah. Sang penilai akan melihat seluruh berkas mata kuliah, melihat ujian akhirnya, dan menilai ulang hasil ujian mahasiswa dengan nilai tertinggi dan terendah. Kemudian dia akan memberikan komentar terhadap isi mata kuliah, dan relevansinya dengan tujuan sebuah program studi, dan yang paling penting dia akan menunjukkan bahwa sang dosen konsisten dalam memberikan penilaian kepada mahasiswa. Artinya kalau sang dosen memberi nilai A, dia juga akan memberi nilai A. Ini penting untuk menjaga konsistensi kualitas pengajaran.

Bagaimana dari segi penelitian? Biasanya di setiap departemen sudah ada daftar jurnal yang diakui sebagai jurnal yang reputable. Seorang dosen boleh saja memberikan usulan jurnal baru yang nanti akan dievaluasi oleh departemen atau fakultas. Demikian juga konferensi internasional, sudah ada daftar konferensi internasional yang diakui sebagai media publikasi bermutu. Hal yang sama bisa dilanjutkan untuk mencakup jurnal nasional dan seminar nasional.

Kalau semuanya sudah terdefinisi dengan jelas, semua dosen tinggal berlomba menerbitkan hasil penelitiannya di berbagai jurnal dan konferensi internasional itu. Kriteria evaluasinya akan sangat mudah. Tinggal sebutkan saja berapa paper di jurnal internasional, berapa paper di konferensi internasional, dan berapa paper di jurnal dan seminar nasional.

Hal yang sama bisa dilakukan dengan tugas-tugas administratif, kemampuan menarik dana penelitian eksternal, tugas-tugas pengabdian masyarakat, dan lain-lain.

Siapa yang akan mengevaluasi? Ya, seperti sudah saya katakan di atas, bentuk penilaian paling berbobot di dunia akademik adalah peer-review. Ini juga yang seharusnya dilakukan untuk kriteria promosi seorang dosen.

Setiap dosen (baik baru, lama, maupun senior) harus melakukan evaluasi tahunan. Bentuk evaluasinya adalah self-evaluation. Intinya setiap dosen akan diminta untuk menuliskan apa saja yang sudah dilakukannya selama tahun sebelumnya di setiap aspek penilaian, yaitu teaching, research dan community service.

Setelah itu, evaluasi tahunan itu dikirimkan ke rektor melalui dekan, dan kemudian dekan akan menunjuk satu orang (biasanya ketua departemen) untuk melakukan peer-review terhadap evaluasi diri yang sudah dibuat. Biasanya kemudian diikuti dengan diskusi. Kalau ada perbedaan pendapat, itupun dapat diungkapkan secara tertulis di dalam lembaran evaluasi itu, dan kemudian keduanya membubuhkan tanda tangan. Dari situ kemudian universitas mengeluarkan hasil evaluasi terhadap sang dosen, misalnya teaching = excellent, research = very good, community service = excellent.

Bagaimana dengan kriteria promosinya? Kan tinggal ditetapkan saja, misalnya CPNS bisa diangkat menjadi PNS dengan pangkat lektor bila laporan tahunannya minimal very good untuk semua kategori. Untuk promosi dari lektor menjadi lektor kepala, misalnya, harus punya nilai excellent di dua dari tiga kategori selama lima tahun berturut-turut. Demikian juga untuk promosi dari lektor kepala menjadi guru besar, bisa ditetapkan aturan yang sama, ditambah dengan dukungan dari penilai eksternal (internasional).

Evaluasi yang transparan ini tentu saja tidak akan terjadi kalau CPNS belum-belum sudah terbelunggu aturan yang sangat diskriminatif itu.

Penutup

Saya sepenuhnya sadar bahwa posisi ITB sangat terikat dengan aturan-aturan dari pusat, seperti yang diungkapkan oleh Pak Ardhana dalam komentarnya di blog ini:

Bahwa ITB dalam kondisi saat ini, belum sepenuhnya dapat mengatur dirinya sendiri (BHMN penuh) maka aturan-aturan yang diberlakukan pun tidak dapat sepenuhnya ditentukan sendiri, termasuk pola penerimaan pegawainya. Isu akuntabilitas juga memojokkan ITB utk harus mengikuti segala aturan dan perundangan yang berlaku, kemudian disparitas kualitas badan-badan dan institusi di Indonesia memungkinkan terjadi penyamaan yang tidak realistis tersebut

Saya tahu persis, ITB sudah berupaya cukup keras untuk mengabaikan aturan-aturan yang sangat ridiculous. Maksud dari posting-posting saya ini bukanlah untuk menyalah-nyalahkan ITB ataupun Panitia Seleksi CPNS ITB.

Kalaupun ada yang saya salahkan itulah sistem kepegawaian PNS yang sangat tidak efisien. Dan kalau ada yang saya sesalkan adalah ketidakmauan (atau apapun sebab lainnya) ITB untuk segera melepaskan diri dari sistem yang tidak efisien itu.

Kepada para pembaca blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih atas segala komentarnya. Posting saya ttg rekrutmen ITB bukanlah ungkapan kekecewaan saya, I knew that these stupid things are coming.

Posting ini juga jangan dilihat sebagai ungkapan penyesalan saya. Tidak saya tidak menyesal sudah mendaftar ke ITB. Kalau lolos seleksi insya Allah saya akan pulang pada waktunya nanti. Bahwa saya sudah sampai di titik ini (sudah mendaftar dan sudah ikut tes), itu saja sudah saya syukuri. Ketika saya berangkat ke Bandung, tidak ada yang bisa memberi jaminan bahwa berkas lamaran saya akan diterima, karena persyaratan administratif yang masih kurang.

Dengan resiko berkas lamaran tidak diterima pun, saya tetap pulang. Perjalanan saya menghabiskan biaya sekitar 1500an dolar (Patsy: tidak, tidak mungkin di-reimburse), itupun saya tanggung sendiri.

Posting-posting saya ini haruslah dilihat sebagai upaya saya untuk menyempurnakan usaha. Just in case, saya tidak lolos seleksi, hanya ketiga posting inilah yang bisa saya sumbangkan untuk kemajuan ITB. In any case, saya senang sekali sudah bisa mengikuti semua proses seleksi itu. It’s an eye opener.

Di titik ini, saya hanya bisa pasrah. Kalau diterima ya syukur, kalau tidak diterima ya syukur juga. Saya tidak menyesal karena saya sudah berusaha.

These three postings are my three cents.

This entry receives 13 comments.

Muhammad Nur

Kalo tahun 80an saya setuju ITB bisa dikategorikan kampus kelas dunia.
Kalo sekarang mau menyejajarkan ITB dengan kampus kelas dunia serasa membandingkan Jakarta yg masih centang perenang dengan hanya pembangunan busway sementara kota2 di negara tetangga sudah rapi dengan subway2-nya….
ironi memang.. tapi kita memanga tidak boleh berhenti untuk terus memberi masukan demi perbaikan..

Dec 15, 2007 at 8:58 pm

makasau

siiip, semangat terus dan tetap kritis kang !

Untuk para tetua di ITB … kang Ery sudah menyampaikan dasar-dasar pembaharuan sistem penerimaan dan penilaian dosen, tinggal dipoles untuk menjadi sistem yang baku. Agar tidak merepotkan atur-mengatur dosen yang ada sekarang, kasih aja ke dia tuk menyelesaikannya. Jadi nanti, selain tugas utamanya mengajar, meneliti, dan mengabdi masyarakat, juga memperbaiki sistem. Nah, empat keuntungan itu :) Ndak ada ruginya kan ? So, terima aja lah.

Dec 15, 2007 at 10:38 pm

Judhi

Saat ini saya hanya bisa mendoakan agar Ery mendapat yang terbaik dan mengahsilkan sebesar-besarnya manfaat. Khususnya untuk Ery sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitar Ery, di manapun Ery berada.

Dec 16, 2007 at 7:31 pm

ASH

den Ery,
anda ini orang Jawa atau paling tdk sudah menjadi orang Jawa.
pasrah, nrimo, ….. dll.
apa kata dunia ….. ?
kapan INDON bisa maju ?
keep the spirit on & g.luck

Dec 16, 2007 at 9:31 pm

T. Djamal

Ery, semoga Allah menunjuki jalan yang terbaik. Kalau jadi PNS akan baik bagi Ery dan ITB, semoga menjadi dosen ITB yang berkomitmen, tahan banting dengan kenyataan kondisi yang ada, serta berupaya untuk terus berkontribusi positif. Kalau status PNS akan membelenggu, semoga Ery mendapatkan posisi lain yang lebih baik. Tetapi satu hal, saya merasa Ery tidak akan cocok dengan sistem baru nanti kalau diterima ITB yang masih berbau PNS, karena pola pikirnya sudah terlalu “canggih” untuk kelas PNS. Tes psikologi adalah pelengkap wawancara untuk memberi masukan bagi petugas rekrutmen apakah calon cocok atau tidak dengan formasi CPNS yang ada, bukan mengukur kemampuan. Ya, terlalu sederhana untuk ukuran doktor, tetapi saya memandang itulah salah satu alat ukur yang menilai kecocokan bidang tugas tanpa melihat tingkat pendidikannya. Lulusan SD pun dihadapkan dengan soal yang sama. Saya kira akan terbaca juga daya tahan terhadap rutinitas (dari menambah angka-angka yang membosankan itu) dan potensi superioritas bila bekerja dalam tim. Sayang kalau potensi besar tak didukung wadah yang cocok. Semoga Allah menunjuki yang terbaik.

Dec 17, 2007 at 6:10 am

Hadi Nur

Pak Ery, salam kenal dari saya …. saya berharap supaya tulisan mengenai CPNS ini dapat dibaca oleh orang-orang yang punya pengaruh untuk melihat perubahan ITB. Saya mempunyai pengalaman yang sama ketika saya ikut tes CPNS di ITB tahun 1998 (waktu itu masih ada LITSUS) — dan akhirnya tidak jadi pulang ke ITB. Salam dari Malaysia…

Dec 17, 2007 at 6:59 am

Sony Sumarseno

Kalau boleh diilustrasikan dengan kehidupan air dan sungai maka ada 4 kemungkinan untuk melakukan perubahan.

1. Tegar setegar batu.
Untuk menahan arus air yang deras, maka anda harus setegar batu di sungai. Ini berat, sangat berat, karena batu itu akan terkikis oleh air dengan berjalannya waktu. Anda bisa kehabisan tenaga hanya untuk
bertahan di tempat yang sama. Kecuali batu itu bisa tumbuh atau mengumpulkan teman-temannya untuk bergabung.

2. Berjuang seperti ikan salmon.
Pernah liat bagaimana perjuangan ikan salmon untuk bertelur di hulu? Dengan segala kekuatan, ikan salmon selalu bertelur di tempat dimana dia dilahirkan, di hulu. Bukan hanya arus yang kuat dan air terjun yang tinggi yang harus dihadapi, di sepanjang jalan perjuangan itu akan banyak predator (beruang, elang, dll) yang menunggu untuk menyantapnya.

Sanggupkah anda berjuang seperti ikan salmon? Dari sekian banyak ikan salmon yang berjuang, hanya sedikit yang berhasil dan bertelur di hulu.

3. Bijak seperti ulu-ulu
Ulu-ulu atau petugas pengatur air, bertugas mengatur air supaya sawah, lahan pertanian, kolam, dll tidak kekurangan dan tidak juga kelebihan air. Di saat kemarau, maka dia akan membuka pintu air sebesar-besarnya untuk memastikan air mengalir dan kehidupan tetap berjalan. Di saat hujan deras, dia harus merendahkan pintu air supaya sawah dan kolam
tidak kebanjiran.

Jika anda sudah di dalam, maka anda bisa mengalirkan energi dan pemikiran anda seperti untuk mengairi sawah dan kolam tadi. Tapi pekerjaan ini tidak well paid, seperti ulu-ulu.

4. Powerful dan bermanfaat seperti bendungan
Bendungan selain berguna untuk menampung air, irigasi, memelihara ikan, objek pariwisata, dan juga bisa bermanfaat sebagai pembangkit tenaga listrik. Ini punya impact yang sangat besar bagi kehidupan. Tapi anda bisa bikin bendungan jika anda telah sampai pada posisi pemegang kebijakan, punya kuasa dan dana untuk mengerahkan orang-orang pintar untuk membuatnya.

Dari 3 tulisan yang saya baca, saya mengambil kesimpulan pada saat ini anda adalah tipe pejuang seperti ikan salmon. Setelah sekian lama menuntut ilmu dan mengajar di luar negri, anda pulang untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi banyak orang di negri asalnya.

Dalam waktu berjuang ini, saya berharap anda bisa combine dengan bijaknya ulu-ulu dan saya doakan pada saatnya nanti anda punya posisi untuk merubah dengan drastis, maka anda bisa buat bendungan.

Selamat berjuang dan semoga sukses,
Sony Sumarseno

Dec 18, 2007 at 8:26 am

ahdar

that test can be considered as the most effective way to preserve the stupidity and ignorance to the outside academic word.

Dec 18, 2007 at 3:56 pm

Bambang

Kang Erry terima kasih tulisannya, membuka pandangan dunia PTN terhebat di Indonesia yang saya duga pasti selalu kritis dan obyektif dalam bertindak. Kebayang dengan PTN lain dibawahnya. Pada kisaran waktu yang sama ada satu lowongan di PT BHMN lain yang kualifikasinya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, karena sedang di luar kota saya minta bantuan istri untuk mencari info lengkap untuk hal itu. Tidak disangka laporan dari istri malah bikin senyum kecut, salah satunya adalah yang dicari konon lulusan S3 dari dalam negeri; makanya jadi makin mafhum dengan pengalaman yang ditulis kang Erry.

Dec 27, 2007 at 4:56 pm

bangzenk

Assalamu’alaikum..

numpang lewat kang,
ketiga tulisannya mampu membius saya (jarang2)..

teringat seorang kawan yang tengah mengikuti program Phd di TU/e, Belanda. Beliau sempat menjawab pertanyaan saya, terkait setelah jadi Doktor bagaimana?

Ia menjawab “rencananya mau melamar jadi Dosen ITB, tapi..”

nah, “tapinya” persis apa yang Kang Ery paparkan ditambah senioritas (terbahas di tulisan ke-2).

semoga pada saatnya nanti, Indonesia benar-benar mampu mengakomodir para ilmuwan Indonesia di luar negeri.. kapan? hanya Allah yg tahu..

sejujurnya, saya berniat menjadi dosen. Itu pilihan luar biasa, karena dalam bayangan saya, menjadi dosen di Indonesia ibarat katak dalam tempurung.

sekali lagi, semoga “hal ini” dapat segera berakhir.

salamhangat,

Muhammad Rijal ARS
Hogeschool Zeeland-Belanda

Jan 24, 2008 at 12:10 pm

Ketut Wikantika

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh Pak Ery. Disamping menjadi mengerti bagaimana proses pengrekrutan dosen ITB, saya menjadi lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan universitas kelas dunia. Menurut saya, ITB masih belum termasuk kategori perguruan tinggi kelas dunia. Masih terlalu dini membandingkan ITB sebagai perguruan tinggi kelas dunia. Saya lebih tertarik jika kita bisa membangun suatu komunitas kelas dunia di ITB. Maksud saya adalah, saya yakin sekali pak Ery sudah termasuk individu kelas dunia. Jika memang sudah diterima sebagai dosen ITB atau malah diterima di tempat lain apakah sebagai dosen atau bukan dosen, bagaimana jika pak Ery membangun komunitas baru kelas di dunia ? Ini lebih nyata pak..;-). Salam.

Mar 10, 2008 at 6:00 pm

Kabayan

Indonesia kan negara hukum mas, kalau mas keberatan dengan aturan2 CPNS di ITB di – PTUN kan saja…why not??? biar tahu siapa yang benar dan siapa yang salah…hayoooo !!!

Sep 22, 2008 at 4:54 am

ikhsan

Makasih pak atas postingnya, sungguh membuka wawasan. Nyesel saya baru nemu postingannya sekarang
Jujur dilema saya sudah satu tahun ingin jd dosen di itb, karena saya pikir dosen itb itu profesi yg sangat prestis. Ironisnya senior saya sebagai maganger selama bertahun2 diperlakukan sama dengan pak ery. Ckckck
Saya tidak tahan banting, its better for me to go mungkin, find the right place so I can give, develop, and be developed more..
Sukses pak ery!
Saran saya ikutin prosedurnya, mustahil dalam jangka waktu beberapa tahun ini akan berubah.. Menurut saya kalo pak ery, bisa jadi professor someday, you worth more than others from any universities in the world (I mean you must have more efforts, more initiatives, more energy than theirs)..
Wong bisa jd professor dengan prosedur ga jelas.. Wkwk semoga menghibur pak :)

Mar 9, 2011 at 10:00 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Sunday, December 2nd, 2007 at 4:08 pm and is filed under Education, Human resource, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.