Latest Two Posts
December 2nd, 2012
1 comment
Pengungsi: Siapakah Anshar Mereka?
Sudah lama saya tidak bertemu dengan sobat yang satu ini, kita sebut saja Sabir, tiba-tiba dia terlihat di antara jamaah yang sedang menunggu shalat maghrib. Kami bersalaman dan berpelukan.
“Kemana saja?” tanyaku.
“Yaaah, biasa lah”, katanya, “Kami-kami ini kan kuli, jadi harus kerja. Jumatan saja tidak sempat, karena jauh dan tidak terkejar waktunya.”
Saya ingat sekitar dua tahun yang lalu, ketika dia baru datang ke kota kami, saya ikut membantu dia pindah rumah. Barang-barangnya tidak banyak, kebanyakan adalah barang sumbangan. Namanya juga pengungsi, ketika dia mendarat di bandara, seluruh harta miliknya sekeluarga termuat hanya dalam tiga atau empat koper. Dia dan keluarganya diinapkan di sebuah apartemen yang perabotnya semua didapatkan dari garage sale.
Dalam waktu beberapa bulan, mereka pindah ke apartemen yang mereka sewa sendiri. Barang-barang mereka sudah bertambah. Barang bekas, memang, tapi cukup lengkap layaknya keluarga lain di Amerika.
Dan saat itu, ketika berjumpa lagi setelah berbulan-bulan tidak ketemu, beliau bilang kalau sekarang beliau sudah punya rumah sendiri. Alhamdulillaah, saya bersyukur senang sekali mendengar kabar itu.
Yang membuat saya teramat sangat senang adalah pulihnya martabat harga diri manusia yang terpancar dari sinar matanya. It takes only two years, brother”, katanya dengan bangga, “only with Allah’s help I can be independent in just two years.”
Tidak ada lagi sinar mata rendah diri karena merasa bahwa hidupnya sebagai pengungsi penuh subsidi. Dari status pengungsi yang tempat tinggalnya ditentukan oleh pemerintah, sampai bisa menjadi pemilik rumah, adalah proses yang sangat luar biasa beratnya. Bahwa itu bisa dilakukan dalam waktu dua tahun saja, itu lebih luar biasa lagi. Bahwa itu dilakukan dengan tetap menjadi practising Muslim, priceless. Dari sisi sang pengungsi itu sendiri, ini adalah perjuangan yang amat sangat berat.
Tapi bagi saya, seberat-beratnya perjuangan pengungsi itu, perjuangan mereka adalah untuk kebaikan mereka sendiri. Kalau mereka berhasil, mereka sendirilah yang akan menikmati hasil perjuangan mereka. Yang lebih menarik buat saya adalah tatanan masyarakat yang membuat para pengungsi bisa berhasil seperti itu.